RADAR BOGOR – Keberadaan delman di kawasan Alun-Alun Kota Bogor masih bertahan di tengah modernisasi transportasi. Para kusir kini mengandalkan wisatawan untuk menjaga roda ekonomi tetap berjalan.
Wisatawan pun tetap silih-berganti menyewa jasa mereka, pengalaman berbeda yang ditawarkan delman membuatnya tetap menjadi pilihan.
Salah satu kusir delman, Cudox (35), warga Cimanggu, Kota Bogor mengatakan dirinya telah menekuni profesi tersebut sejak awal 2000-an. Sebelum mangkal di Alun-Alun Kota Bogor, ia sempat menarik delman di kawasan Monas hingga Ragunan.
“Dulu saya pernah narik di Monas dan Ragunan, sebelum akhirnya menetap di Alun-alun Kota Bogor sekarang,” ujarnya kepada Radar Bogor, Minggu, 19 April 2026.
Ia menjelaskan, fungsi delman dulunya sangat vital sebagai transportasi harian masyarakat. Bahkan, ia pernah mangkal di kawasan Tugu Kujang dan rutin mengantar warga berbelanja.
“Kalau dulu, delman itu transportasi sehari-hari warga. Banyak ibu-ibu habis belanja sayur minta diantar pulang,” katanya.
Namun sejak sekitar 2006, delman mulai beralih fungsi menjadi sarana wisata, penataan kawasan Istana Bogor saat itu membuat para kusir bergeser lokasi dan menyesuaikan target pasar.
“Mulai fokus jadi transportasi wisata itu sekitar tahun 2006, awalnya ramai di Istana Bogor, tapi karena ada penataan, kami digeser ke sini,” ucapnya.
Kini, Cudox hanya beroperasi setiap Sabtu dan Minggu, ia bersama kudanya berangkat dari Cimanggu menuju Alun-Alun Kota Bogor sejak pagi hingga sore hari.
“Kerja mulai jam 8 pagi sampai jam 5 sore, Senin sampai Jumat istirahat di rumah,” katanya.
Dalam sehari saat akhir pekan, ia mengaku bisa melayani hingga 5 kali perjalanan untuk rute panjang mengelilingi Kebun Raya Bogor, atau hingga tujuh kali untuk rute pendek.
“Kalau lagi ramai, sehari bisa dapat sekitar Rp400 ribuan,” ungkapnya.
Untuk tarif, perjalanan keliling lingkar Kebun Raya Bogor selama kurang lebih 30 menit dipatok Rp120 ribu. Sementara rute pendek di sekitar Hotel Salak berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu.
Baca Juga: Penataan Wilayah di Kabupaten Bogor Digeber Bupati, Giliran Sasar PKL di Parung dan Babakan Madang
“Kadang ada yang nawar Rp100 ribu tetap kita bawa, rutenya juga fleksibel, tergantung kesepakatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, satu delman dapat mengangkut hingga lima penumpang, terdiri dari tiga orang dewasa dan dua anak-anak.
Dalam menjalankan usahanya, Cudox menggunakan sistem bagi hasil dengan pemilik delman, saat ini, jumlah delman yang beroperasi di kawasan tersebut sekitar 10 unit tanpa adanya paguyuban resmi.
“Sekarang sudah tidak ada paguyuban, masing-masing jalan sendiri, tapi tetap saling kenal,” ujarnya.
Baca Juga: Pria Tanpa Busana Ditemukan Tergeltak di Jembatan Pandu Raya Kota Bogor, Diduga Pengaruh Miras
Ia juga menuturkan pentingnya perawatan kuda sebagai penopang utama pekerjaan, Kuda miliknya bernama Bopak, berusia tujuh tahun, yang masih tergolong produktif.
“Kalau kuda capek, biasanya kasih tanda, ekornya digoyang-goyang,” katanya.
Terkait perhatian pemerintah, Cudox mengaku belum merasakan adanya bantuan khusus, meski demikian, ia tetap bersyukur masih diberi ruang untuk beroperasi.
“Yang penting kami masih bisa jalan dan beroperasi di sini,” pungkasnya. (uma)
Editor : Eka Rahmawati