Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Rahayu Oktaviani, Sang Penjaga Siulan Owa Jawa di Balik Hutan Halimun Salak Bogor

Muhamad Rifki Fauzan • Senin, 20 April 2026 | 23:37 WIB
Rahayu Oktaviani sang peneliti Owa Jawa (Dok. Rahayu)
Rahayu Oktaviani sang peneliti Owa Jawa (Dok. Rahayu)

RADAR BOGOR - Di balik rimbunnya Hutan Halimun Salak yang berada di wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi Jawa Barat, terdapat kisah romantis sederhana, siulan melengking owa jawa bukan hanya menjadi bagian dari alam, tetapi juga yang mengikat Rahayu Oktaviani untuk terus kembali ke hutan dan menjaga kelestariannya.

Kisah mereka dimulai saat Rahayu tengah menempuh pendidikan akhir di bangku kuliah, ia mendapat tugas untuk meneliti tentang perilaku Owa Jawa, meski belum pernah mendengar suaranya langsung. 

“Kalau suka dengan owa jawa sebenarnya dari kegiatan penelitian ketika saya S1, waktu itu tugas akhir saya tentang perilaku owa jawa, tapi sebelumnya saya belum pernah mendengar suaranya,” kata Rahayu kepada Radar Bogor.

Baca Juga: Kisah Polwan Bogor: Tetap Tangguh Bertugas, Tetap Hangat sebagai Ibu di Semangat Kartini

Pengalaman pertamanya di hutan menjadi titik balik yang sulit ia lupakan, Ia menghabiskan waktu sekitar dua minggu di kawasan Halimun Salak sebelum akhirnya mendengar langsung suara owa jawa di alam liar.

“Setelah sekitar dua minggu di hutan, saya baru mendengar suara owa jawa, itu suara paling indah yang pernah saya dengar di alam,” ujarnya.

Sejak saat itu, ketertarikannya berubah menjadi komitmen, ia merasa perlu ada upaya lebih serius untuk menjaga keberadaan owa jawa di habitat alaminya.

Rahayu mulai aktif di bidang konservasi sejak sekitar 2014, meski keterlibatannya dalam penelitian sudah dimulai sejak 2007. Dalam kegiatannya, ia tidak bekerja sendiri. Bersama tim yang juga melibatkan masyarakat lokal, ia masuk ke dalam hutan untuk mengikuti pergerakan owa jawa dan mempelajari perilakunya secara langsung.

Baca Juga: Banjir dan Longsor di Leuwiliang Bogor, Rumah hingga Masjid Rusak

“Kami mengikuti owa jawa di alam untuk melihat perilaku dan ekologi mereka, sekaligus memahami perannya dalam ekosistem,” jelasnya.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menjadi salah satu habitat penting yang masih tersisa bagi owa jawa, kawasan ini dinilai memiliki kondisi ekosistem yang relatif baik dengan keanekaragaman hayati tinggi.

Dari hasil penelitian, owa jawa diketahui memanfaatkan lebih dari 130 jenis tumbuhan sebagai sumber pakan, yang menunjukkan tingginya kekayaan vegetasi di kawasan tersebut.

Namun, penelitian di lapangan tidak selalu mudah, curah hujan yang tinggi hampir setiap hari menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti.

“Tantangannya adalah cuaca, karena hampir setiap hari hujan. Itu membuat pengamatan di lapangan menjadi tidak mudah,” kata Rahayu.

Owa jawa saat ini berstatus satwa dilindungi dan terancam punah secara global, data populasi terakhir yang banyak digunakan masih berasal dari 2004, dengan estimasi sekitar 2.500 hingga 4.000 individu, tetapi angka tersebut kini dinilai sudah perlu diperbarui.

Baca Juga: Angin Segar Buat KPM, Status PKH Tahap 2 Mulai Berubah, Bagaimana Nasib BPNT dan PIP? Simak Prediksi Jadwal Cairnya

Ada satu pengalaman yang paling membekas bagi Rahayu selama berkegiatan di hutan, yaitu saat pertama kali benar-benar mendengar suara owa jawa setelah lama menanti di lapangan.

“Itu momen yang sangat berkesan, setelah lama di hutan akhirnya saya bisa mendengar suaranya,” ujarnya.

Dedikasinya dalam konservasi kemudian mengantarkan Rahayu pada Whitley Award 2025, yang diberikan kepada sejumlah konservasionis dari berbagai negara, termasuk Malaysia, Kolombia, Brasil, Nepal, dan Uganda.

“Penghargaan itu diberikan oleh Whitley Fund for Nature di Inggris, bersama enam konservasionis dari negara lain,” katanya.

Baca Juga: Perdagangan Satwa Liar Makin Canggih, Pakar IPB Ungkap Blind Spot yang Sulit Ditembus Aparat

Meski mendapat pengakuan internasional, Rahayu menegaskan bahwa tanggung jawabnya justru semakin besar dalam upaya pelestarian owa jawa.

“Dengan adanya apresiasi itu tentu tanggung jawabnya lebih besar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan owa jawa, salah satunya dengan tidak memelihara satwa tersebut.

“Semakin banyak orang yang tahu bahwa owa jawa satwa dilindungi dan tidak boleh dipelihara, itu akan sangat membantu,” pungkasnya.(bay)

Editor : Eka Rahmawati
#Rahayu Oktaviani #owa jawa #halimun salak #bogor