RADAR BOGOR — Berangkat dari keresahan pribadi melihat minimnya fasilitas perpustakaan yang layak di lingkungan tempat tinggalnya, Dwi Sulistia Ningsih berhasil mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Bale Baca Cijayanti, di Babakan Madang, Kabupaten Bogor yang kini memberi dampak bagi ratusan warga.
Dwi menuturkan, gagasan itu muncul sejak 2015 saat dirinya masih bersekolah di MAN 2 Kota Bogor. Ia membandingkan kondisi perpustakaan di kota yang rapi dengan yang ada di lingkungannya yang kurang terawat.
“Dari situ muncul pertanyaan, bagaimana mereka belajar dan lain-lain, setelah aku lulus dari SMA, aku lanjut kuliah ke Semarang di Undip, dari situ aku mulai melakukan survive kecil-kecilan, apa ya yang bisa aku berikan untuk kampungku sendiri," ujar Dwi kepada Radar Bogor, Senin, 20 April 2026.
Baca Juga: Kisah Rahayu Oktaviani, Sang Penjaga Siulan Owa Jawa di Balik Hutan Halimun Salak Bogor
Semangat itu terus ia bawa saat melanjutkan kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Selama masa kuliah 2015–2018, ia rutin pulang-pergi dari Semarang ke Bogor setiap bulan untuk memetakan kebutuhan masyarakat di Desa Cijayanti.
Usai lulus pada 2018, Dwi kembali ke kampung halamannya dan mulai bergerak. Awalnya, ia fokus pada pemberdayaan UMKM dan ibu-ibu selama dua tahun. Hingga akhirnya, pada 2019, bersama pegiat literasi dan karang taruna setempat, ia mendirikan TBM Bale Baca Cijayanti.
"Alhamdulillah, dari 2019 itu kita awalnya kontrak di bangunan sepetak sampai akhirnya terjadi pandemi, bangunan itu tidak kita lanjut, akhirnya kita gunakan teras rumah," katanya.
Baca Juga: Kisah Polwan Bogor: Tetap Tangguh Bertugas, Tetap Hangat sebagai Ibu di Semangat Kartini
Meski sederhana, kegiatan literasi tetap berjalan, bahkan, sebelum TBM berdiri, keluarga Dwi telah lebih dulu mengadakan kegiatan pengajian rutin setiap malam Jumat di teras rumah tersebut.
Perkembangan signifikan terjadi pada 2020 ketika TBM Bale Baca Cijayanti mendapatkan hibah dari Komunitas Narasi yang digagas oleh Najwa Shihab, saat itu, TBM ini menjadi satu-satunya perwakilan Jawa Barat yang lolos program tersebut.
"Dari 2020, karena kita sudah memiliki bangunan sendiri, gedung sendiri, akhirnya yaudah kegiatan itu terus berlanjut," tuturnya.
Kini, hingga 2026, TBM Bale Baca Cijayanti telah menjalin kemitraan dengan sekitar 150 pihak. Bahkan, pada tahun ini saja sudah ada 5–7 mitra baru yang bergabung.
Tak hanya itu, TBM ini juga kembali meraih dukungan melalui program Dana Hibah Generasi Karya dari YCAB Foundation untuk mendukung pendidikan anak-anak prasejahtera.
Dalam operasionalnya, TBM Bale Baca Cijayanti didukung sekitar 30 pengurus dan relawan, termasuk 7–8 pengajar lokal. Program yang dijalankan pun beragam, mulai dari literasi anak usia dini, pendampingan remaja hingga mahasiswa, serta pemberdayaan perempuan.
"Jadi kurang lebih penerima manfaat di tahun ini bisa mencapai 300-400," ungkapnya.
Baca Juga: Jadi Kartini Masa Kini, Dosen Fakultas Hukum Unpak Bogor Tegaskan Perempuan Bisa Jalani Peran Ganda
Sementara itu, salah satu relawan sekaligus pengajar, Ela Laela, mengatakan dirinya telah bergabung sejak 2019. Ia berharap TBM ini mampu mencetak generasi yang cerdas, percaya diri, dan berprestasi.
"Tujuannya untuk aku sendiri adalah agar ilmu yang aku miliki berkah, bermanfaat, dan aku juga mengamalkan ilmu-ilmu dari orang-orang hebat yang aku temui," ucapnya.
Namun, di balik pencapaian tersebut, tantangan tetap ada, selain faktor cuaca yang kerap mengganggu kegiatan belajar, keterbatasan fasilitas juga menjadi kendala utama.
Saat ini, TBM Bale Baca Cijayanti memiliki tiga bangunan, 2 di antaranya berasal dari Komunitas Narasi, sedangkan satu lainnya dari BRI Dana Reksa. Namun, fasilitas tersebut dinilai sudah tidak lagi mampu menampung antusiasme peserta didik yang terus meningkat.
"Jadi harapannya ada gedung baru yang bisa menampung semangat mereka untuk belajar," pungkasnya.
Berangkat dari sebuah teras rumah dan keresahan sederhana, TBM Bale Baca Cijayanti yang berlokasi di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, kini tumbuh menjadi ruang belajar alternatif yang tidak hanya menyediakan buku, tetapi juga harapan bagi masa depan generasi muda. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati