RADAR BOGOR — Di lereng Megamendung, Kabupaten Bogor, berdiri sebuah hutan buatan yang hijau dan rindang, hutan itu bukan hasil proyek besar atau bantuan pemerintah, melainkan buah ketekunan satu keluarga.
Di balik hamparan pepohonan tersebut, ada sosok perempuan tangguh bernama Rosita, yang menjadikan tanah tandus sebagai ruang kehidupan barusebuah hutan organik yang kini menjadi kebanggaan.
Semua berawal dari keinginan sederhana mendiang suaminya, Bambang Istiawan, yang ingin memiliki rumah di pinggir hutan. Namun, di kawasan Puncak, hutan sudah sulit ditemukan dan dari situlah, Rosita dan keluarganya memutuskan untuk membuat hutan mereka sendiri.
“Suami saya ingin rumah di pinggir hutan, tapi hutannya tidak ada, jadi kami buat sendiri,” ujar Rosita mengenang awal mula perjuangan itu.
Tahun 2000 menjadi titik awal perjalanan panjang tersebut, dengan modal tabungan, Rosita membeli lahan seluas dua ribu meter persegi dari warga sekitar. Lahan itu gersang, panas, dan kritis, dengan tingkat keasaman tanah yang sangat tinggi.
Namun, ia tak mundur, bersama keluarga, Rosita menanam bibit sedikit demi sedikit, mencicil pupuk, dan merawat setiap pohon yang tumbuh.
“Tanahnya waktu itu pH-nya cuma dua sampai empat, tapi kami terus pupuk berton-ton sampai akhirnya bisa hidup,” kata Rosita kepada Radar Bogor.
Setelah setahun bekerja tanpa henti, tanda-tanda kehidupan mulai muncul, tanaman tumbuh subur, tanah menjadi lebih lembab, dan udara perlahan berubah sejuk. Teknik tumpang sari atau agroforestri menjadi kunci, ia pun menanam sayuran di sela pohon keras agar kelembapan tanah terjaga tanpa bahan kimia.
“Kalau nyiram atau mupuk itu sayurannya, otomatis pohonnya ikut subur, itulah rahasia hutan ini,” sambungnya.
Perjuangan itu terus berlanjut hingga bertahun-tahun, dari lahan awal dua ribu meter, kini kawasan hijau tersebut berkembang menjadi 30 hektare hutan organik. Setiap pohon yang mati segera diganti, dan setiap jengkal tanah terus dihidupkan kembali.
“Pohon endemik diseluruh indonesia ada di sini, kami sebut ini kebun raya kecil,” ungkapnya.
Namun, perjalanan membangun hutan tidak selalu mulus, Rosita harus menghadapi berbagai tantangan, terutama dari oknum yang mencoba menghalangi pembelian lahan dan baginya, hutan ini bukan komoditas.
Baca Juga: Kisah Rahayu Oktaviani, Sang Penjaga Siulan Owa Jawa di Balik Hutan Halimun Salak Bogor
“Saya sudah 25 tahun tinggal di sini kalau ada yang mau macam-macam, saya lawan, ini bukan untuk dijual, tapi untuk anak cucu,” tegasnya.
Rosita yang lahir dan besar di Cimande, Bogor, merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga alam di tanah kelahirannya, ia bahkan rela menjual seluruh aset demi membeli tanah dan bibit.
“Orang cari view, pohon malah ditebang untuk dijadikan villa dan resort, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” tuturnya lirih.
Dari hutan yang ia rawat, kini tumbuh ekosistem baru, berdasarkan penelitian mahasiswa IPB, terdapat 121 jenis flora, 25 jenis burung, 10 jenis herpetofauna, dan 59 jenis insekta yang hidup secara alami di kawasan ini tanpa campuran bahan kimia.
Baca Juga: Kisah Polwan Bogor: Tetap Tangguh Bertugas, Tetap Hangat sebagai Ibu di Semangat Kartini
“Yang menghitung itu mahasiswa S1 sampai S3 IPB, saya hanya menanam, alam yang bekerja,” imbuhnya.
Keberhasilan tersebut menjadikan Hutan Organik Megamendung sebagai laboratorium alam bagi pelajar dan peneliti. Banyak sekolah datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan dan Rosita pun membuka akses seluas-luasnya.
“Silakan datang ke sini, belajar menanam, semua gratis, hanya kalau makan, ya bayar seikhlasnya untuk biaya perawatan pohon,” tuturnya.
Meski bukan akademisi, Rosita memiliki pengetahuan luas tentang alam, ia belajar langsung dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan.
“Saya belajar dari alam. Alam yang mengajarkan saya,” katanya.
Kini, di usia 63 tahun, semangat Rosita tak pernah surut, ia menegaskan lahan tersebut tidak akan diperjual belikan dan akan terus menjadi kawasan konservasi.
“Tanah ini nanti kembali lagi ke alam, sudah jadi kesepakatan keluarga,” tegasnya.
Perjuangan panjang itu kini mulai mendapat perhatian, Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan pengakuan dan dukungan terhadap keberadaan Hutan Organik Megamendung sebagai kawasan yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Baca Juga: Jadi Kartini Masa Kini, Dosen Fakultas Hukum Unpak Bogor Tegaskan Perempuan Bisa Jalani Peran Ganda
“Alhamdulillah, sekarang sudah ada yang melindungi ibu di sini. Selama ini belum ada yang benar-benar peduli terhadap lingkungan, baru kali ini ada bupati yang mencintai alam,” ungkapnya penuh haru.
Rosita mengaku bahagia karena hutan yang dibangunnya kini mendapat perhatian langsung dari Bupati Bogor. Menurutnya, kehadiran pemerintah menjadi bukti bahwa perjuangannya selama puluhan tahun tidak sia-sia.
“Bahagianya luar biasa, karena sekarang hutan ini dikukuhkan jadi hutan kota, hutannya Kabupaten Bogor. Ini aset kabupaten, walaupun kecil, tapi inilah hulunya Jakarta. Kalau Jakarta banjir, selalu dibilang kiriman dari Bogor. Makanya kita jaga hutan ini baik-baik,” ucapnya.
Rosita menambahkan, hutan yang dirawatnya adalah bagian dari kebun raya kecil di Bogor yang harus dijaga bersama.
“Anak cucu nanti jangan sampai tidak tahu pohon. Di sinilah kebun raya kecil kita,” tutupnya.
Kini, di bawah rindangnya Hutan Organik Megamendung, cita-cita Bambang Istiawan telah terwujud. Di antara suara burung dan hembusan angin, Rosita berdiri bangga melihat kehidupan yang tumbuh dari tangannya warisan hijau untuk masa depan. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati