RADAR BOGOR - Pernah menerima panggilan telepon yang tiba-tiba terputus tanpa suara?
Jika iya, sebaiknya tidak dianggap sepele.
Fenomena yang dikenal sebagai “call hening” ini kini semakin marak dan diduga menjadi salah satu pintu masuk kejahatan siber.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Liburan, Pengalaman Bermakna Siswa Surau Academy di Belitung
Dosen Program Studi Ilmu Komputer Institut Pertanian Bogor (IPB University), Heru Sukoco mengingatkan, masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pola panggilan mencurigakan tersebut.
Ia menilai bahwa panggilan tanpa suara itu bukan sekadar gangguan biasa, melainkan bagian dari strategi penipuan berbasis rekayasa sosial atau social engineering.
Dikutip Radar Bogor di laman resmi IPB, Selasa 21 April 2026, dalam penjelasannya, Heru menekankan, langkah paling aman adalah tidak merespons panggilan tersebut.
Baca Juga: Tak Ada Kenaikan, PLN Tegaskan Tarif Listrik April 2026 Tetap Berlaku untuk Semua Golongan
Ia menyampaikan, panggilan seperti ini umumnya merupakan tahap awal dari skema penipuan, sehingga masyarakat disarankan untuk mengabaikan, tidak mengangkat, dan tidak melakukan panggilan balik.
Modus “Call Hening” dan Cara Kerjanya
Fenomena call hening biasanya ditandai dengan panggilan yang tidak mengeluarkan suara atau terputus dalam hitungan detik.
Menurut Heru, pelaku menggunakan metode ini untuk beberapa tujuan, mulai dari memastikan nomor yang dihubungi aktif hingga memancing korban agar melakukan call back.
Selain itu, panggilan tersebut juga dapat menjadi langkah awal untuk mengumpulkan data yang akan digunakan dalam serangan lanjutan, seperti penipuan berkedok kode verifikasi atau one time password (OTP), hingga teknik phishing.
Ia mengingatkan, risiko dari panggilan ini cukup serius.
Baca Juga: Sering Bersin dan Gatal Tanpa Sebab? Dokter IPB Ungkap Tanda Alergi yang Sering Diabaikan
Nomor yang merespons bisa masuk dalam daftar target penipuan, bahkan berpotensi terhubung ke nomor premium dengan tarif tinggi jika korban melakukan panggilan balik.
Jangan Terjebak, Ini Langkah Pencegahannya
Untuk menghindari jebakan tersebut, Heru menyarankan agar masyarakat tidak mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal, terutama yang berasal dari luar negeri dan terlihat mencurigakan.
Baca Juga: BRI Perkuat Keuangan Berkelanjutan, Salurkan Pembiayaan Hijau dan Sosial Ratusan Triliun
Ia menjelaskan, jika panggilan tersebut benar-benar penting, biasanya penelepon akan menghubungi kembali atau mengirimkan pesan.
Ia juga menegaskan, melakukan panggilan balik merupakan kesalahan yang paling sering dimanfaatkan oleh pelaku, karena banyak modus penipuan menggunakan teknik missed call bait untuk menjebak korban.
Sebagai langkah tambahan, masyarakat dianjurkan memanfaatkan teknologi seperti aplikasi pendeteksi spam yang dapat mengidentifikasi dan memblokir nomor mencurigakan secara otomatis.
Fitur bawaan ponsel seperti pemblokiran nomor tak dikenal juga dinilai efektif untuk meningkatkan keamanan.
Edukasi dan Literasi Digital Jadi Kunci
Lebih lanjut, Heru mengingatkan, jika panggilan terlanjur diangkat, pengguna sebaiknya tidak langsung merespons, apalagi mengucapkan kata “ya”.
Hal ini karena rekaman suara tersebut berpotensi disalahgunakan untuk manipulasi data pribadi, termasuk informasi sensitif seperti OTP, NIK, atau data perbankan.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi dalam keluarga, terutama bagi kelompok rentan seperti orang tua dan anak-anak, agar tidak mudah panik atau percaya pada ancaman melalui telepon.
Dalam skala yang lebih luas, peningkatan literasi digital masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menghadapi kejahatan siber yang terus berkembang.
Ia turut menyoroti perlunya peran operator telekomunikasi dalam menyaring pola panggilan mencurigakan, serta kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem perlindungan yang lebih kuat.
Baca Juga: 21 April 2026: Sejarah Hari Kartini dan 20 Ucapan Inspiratif yang Cocok Jadi Status Medsos
Fenomena call hening menjadi pengingat bahwa kewaspadaan sederhana dapat menjadi benteng pertama dalam melindungi diri dari ancaman digital yang semakin kompleks. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim