RADAR BOGOR - Peringatan Hari Kartini di Institut Pertanian Bogor (IPB University) tahun ini diwarnai diskusi mendalam tentang realitas karier perempuan.
Melalui kegiatan bertajuk Women in Career: Carrying Kartini’s Spirit into Global Industries and Governance, Direktorat Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni (DPKKHA) bersama Agrianita IPB menghadirkan ruang berbagi pengalaman sekaligus refleksi tantangan perempuan di dunia kerja modern.
Acara yang diselenggarakan Selasa 21 April 2026 ini, tidak hanya menyoroti semangat emansipasi, tetapi juga membuka data dan fakta terkait kesenjangan yang masih dihadapi perempuan, baik di sektor industri maupun pemerintahan.
Direktur PKKHA IPB University, Puji Mudiana menjelaskan, kampus terus mendorong kesiapan karier mahasiswa melalui berbagai program, termasuk tracer study alumni.
Dalam paparannya, ia mengungkapkan adanya perbedaan capaian awal antara lulusan perempuan dan laki-laki.
Berdasarkan data tersebut, kata dia, rata-rata penghasilan awal lulusan perempuan berada di kisaran Rp4,5 juta dengan masa tunggu kerja sekitar 3,6 bulan.
"Sementara, lulusan laki-laki memiliki rata-rata pendapatan lebih tinggi, yakni sekitar Rp5,2 juta dengan masa tunggu sedikit lebih cepat, sekitar 3,4 bulan," jelasnya dikutip Radar Bogor di laman resmi IPB.
Sementara itu, Ketua Agrianita IPB University, Suci Nur Aini Zaida, yang juga merupakan Senior Spatial Planning Expert di Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Provinsi DKI Jakarta, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam birokrasi.
Ia menilai kehadiran perempuan membawa nilai strategis seperti empati, kolaborasi, integritas, serta inovasi dalam pelayanan publik, yang pada akhirnya memperkaya proses pengambilan keputusan.
Baca Juga: 4.825 Warga Terkena Penyakit Campak di Kabupaten Bogor, Dinkes Lakukan Upaya Pencegahan
Namun demikian, ia juga menegaskan bahwa perempuan masih menghadapi kesenjangan, terutama dalam akses menuju posisi strategis.
Meskipun jumlah aparatur sipil negara perempuan terus meningkat dan bahkan dominan secara kuantitas, keterwakilan di level struktural dan pengambil kebijakan masih tertinggal dibandingkan laki-laki.
Dalam praktik di lapangan, Suci mengungkapkan, perempuan kerap tidak didorong untuk terlibat langsung dalam pekerjaan teknis, meskipun kemampuan mereka dinilai setara.
Baca Juga: Hari Pertama UTBK-SNBT di IPB University: Ribuan Peserta Padati Kampus di Bogor Sejak Subuh
Hal ini membuat perempuan harus bekerja lebih keras untuk memperoleh pengakuan yang sama.
Selain faktor struktural, tantangan sosial juga menjadi hambatan.
Perempuan masih sering memikul beban domestik seperti pengasuhan, yang berdampak pada perkembangan karier mereka.
Baca Juga: Kloter Pertama Calon Jemaah Haji Depok Diberangkatkan 22 April 2026, Pemkot Imbau ASN Tak Bawa Mobil
Dalam situasi ekonomi sulit, perempuan bahkan dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Pandangan lain disampaikan oleh Anindita Sita Dewi, yang menekankan pentingnya keberanian untuk terus berkembang dan tampil berbeda.
Ia memandang, setiap individu memiliki perjalanan unik, dan proses tersebut berperan besar dalam membentuk kemampuan, termasuk soft skills yang dibutuhkan di dunia kerja.
Baca Juga: Angin Kencang Terjang Rumpin Bogor, 4 Rumah Rusak Parah dan Satu Keluarga Mengungsi
Melalui diskusi ini, IPB University tidak hanya memperingati Hari Kartini secara simbolis, tetapi juga mendorong kesadaran akan pentingnya kesetaraan peluang serta penguatan kapasitas perempuan agar mampu bersaing di tingkat global. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim