RADAR BOGOR - Kirab Mahkota Binokasih kembali digelar di Kabupaten Bogor, dengan rute perjalanan dari Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua menuju Pura Agung Parahyangan Jagatkarta, Tamansari pada 21–22 April 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, menyampaikan bahwa kirab ini tidak sekadar menjadi agenda budaya, tetapi juga sarana memperkuat jati diri serta edukasi sejarah bagi generasi muda.
Menurutnya, kehadiran pusaka tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur budaya Sunda, sekaligus mendorong pelestarian yang terintegrasi melalui dunia pendidikan.
Baca Juga: Pergerakan Tanah di Cijayanti Babakan Madang Bogor, 7 Rumah Warga Rusak, 28 Jiwa Mengungsi
Yudi menambahkan, masyarakat Kabupaten Bogor menyambut kirab Mahkota Binokasih dengan penuh kekhidmatan dan kebanggaan. Ia berharap kegiatan ini mampu membangkitkan semangat baru dalam merawat budaya sekaligus menanamkan nilai kearifan lokal kepada generasi penerus.
Sementara itu, Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaga, menegaskan bahwa kirab tersebut memiliki makna lebih dari sekadar seremoni. Ia menilai kegiatan ini mengandung nilai filosofis, ideologis, dan historis yang mendalam bagi masyarakat Sunda.
Menurutnya, kirab ini juga menjadi momen refleksi untuk mengingat kembali kejayaan masa lalu serta nilai-nilai luhur yang diwariskan dalam peradaban Sunda.
Baca Juga: Penyakit Campak Kembali Intai Kota Bogor, Dinkes Temukan 802 Kasus, Kecamatan Ini Tertinggi
Sebagai informasi, Mahkota Binokasih atau Binokasih Sanghyang Pake merupakan pusaka peninggalan Kerajaan Sunda abad ke-14 yang terbuat dari emas seberat sekitar 8 kilogram dan dihiasi batu giok. Mahkota ini melambangkan kekuasaan, keadilan, dan kasih sayang seorang raja.
Saat ini, mahkota asli disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang, sedangkan replikanya berada di Museum Sri Baduga, Bandung.
Lebih lanjut, Luky menjelaskan bahwa Mahkota Binokasih menjadi simbol legitimasi kekuasaan Sunda sekaligus penanda penting dalam sejarah peradaban. Ia juga menyoroti peran Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang berhasil menyatukan Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, serta memindahkan pusat pemerintahan ke Pakuan Pajajaran yang kini berada di wilayah Bogor.
“Nilai-nilai dalam Mahkota Binokasih harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya,” tutupnya. (Cok)
Editor : Eka Rahmawati