RADAR BOGOR - Indonesia sebagai negara maritim dengan dominasi wilayah perairan lebih dari 70 persen dinilai memiliki potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Kekayaan sumber daya hayati laut dinilai masih perlu dioptimalkan untuk mendukung ketahanan pangan, industri, serta pembangunan berkelanjutan.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof Kustiariyah menegaskan, bioteknologi kelautan dapat menjadi solusi strategis dalam mendorong pembangunan agromaritim berkelanjutan di Indonesia.
Hal tersebut disampaikannya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar yang berlangsung pada Sabtu, 25 April 2026.
Dalam paparannya, ia menyoroti pentingnya peran bioteknologi kelautan di tengah target pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan yang diproyeksikan mencapai sekitar 7 persen per tahun serta meningkat hingga 15 persen pada 2045, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Dikutip Radar Bogor di laman resmi IPB, ia menjelaskan, pendekatan ekonomi biru menjadi kunci utama karena mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.
Menurut Kustiariyah, bioteknologi mampu mengolah sumber daya hayati laut menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti pangan inovatif, biomaterial, hingga produk pendukung sektor pertanian dan perikanan.
Ia juga menekankan pengembangan konsep blue foods sebagai salah satu solusi dalam meningkatkan ketahanan gizi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya laut.
Konsep tersebut mencakup berbagai inovasi pangan, seperti tempe berbahan dasar rumput laut, beras analog dari spirulina, hingga minuman herbal berbasis alga.
Ia menjelaskan, pengolahan spirulina dapat dilakukan melalui proses fermentasi menggunakan bakteri asam laktat untuk mengurangi aroma amis sehingga lebih mudah diterima masyarakat luas.
Lebih lanjut, pengembangan bioteknologi kelautan dilakukan melalui empat pilar utama, yaitu transformasi pangan lokal, bioprospeksi sumber daya laut, optimalisasi produksi ramah lingkungan berbasis biorefinery, serta penerapan prinsip zero waste melalui ekonomi sirkular.
Pemanfaatan limbah alga menjadi bioetanol dan biostimulan menjadi salah satu contoh implementasi dari konsep tersebut.
Baca Juga: Tidak Otomatis, Ini Syarat Penerima BLTS Kesra agar Dapat Juga Bansos PKH BPNT 2026
Meski memiliki potensi besar, pengembangan sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam aspek hilirisasi, integrasi kebijakan, serta pemanfaatan hasil riset menjadi produk siap pasar.
Pada beberapa proses produksi, seperti pengembangan jamur laut penghasil antibiotik alami, dibutuhkan kondisi steril dan dukungan industri untuk mencapai skala produksi yang lebih luas.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk penguatan peran lembaga seperti technology transfer office (TFO) guna mempercepat hilirisasi inovasi.
Baca Juga: Sudah Dicek tapi Belum Cair? Simak Kabar Terbaru Bansos BPNT dan PKH Tahap 2 per 25 April 2026
Dengan sinergi yang terintegrasi, bioteknologi kelautan diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan agromaritim yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti