RADAR BOGOR - Fenomena viralnya nomor pribadi figur publik Aldi Taher yang dibanjiri pesan dari netizen memunculkan perhatian dari kalangan akademisi.
Sosiolog Institut Pertanian Bogor (IPB University), Ivanovich Agusta menilai, peristiwa ini sebagai bentuk baru perilaku kolektif di era digital yang berkembang sangat cepat dan sulit dikendalikan.
Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, Ivanovich Agusta menjelaskan, kejadian tersebut mencerminkan karakter khas masyarakat digital, di mana individu dapat bergerak secara spontan, tanpa koordinasi, namun menghasilkan dampak yang masif.
Menurutnya, dorongan utama berasal dari viralitas di media sosial yang memicu respons serentak dari banyak orang.
Dikutip Radar Bogor dari laman resmi IPB, ia menguraikan, dalam perspektif sosiologi klasik, perilaku kolektif biasanya terjadi dalam ruang fisik dan dipicu oleh emosi bersama.
Namun kini, pola tersebut telah bertransformasi menjadi “massa virtual” yang lebih cair, cepat menyebar, dan melibatkan lebih banyak partisipan dalam waktu singkat.
Lebih lanjut, Ivanovich menilai fenomena ini tidak sekadar tindakan iseng.
Ia melihat adanya pola yang menyerupai ritual kolektif di ruang digital, di mana masyarakat terdorong untuk ikut terlibat dalam momen yang sedang viral.
Partisipasi tersebut, menurutnya, memberikan sensasi kedekatan semu antara publik dan figur yang menjadi pusat perhatian.
Dalam penjelasannya, ia juga mengaitkan fenomena ini dengan teori imitasi sosial dari Gabriel Tarde, yang menggambarkan kecenderungan individu meniru perilaku yang sedang populer.
Selain itu, dorongan fear of missing out (FOMO) membuat banyak orang merasa perlu ikut berpartisipasi agar tetap relevan dalam percakapan publik.
Dr Ivanovich Agusta juga menyoroti kaburnya batas antara ruang privat dan publik di era digital.
Mengacu pada konsep ruang publik dari Jürgen Habermas, ia menjelaskan bahwa informasi yang seharusnya bersifat pribadi kini semakin mudah terekspos dan dianggap wajar untuk diakses publik, meskipun secara etika tidak demikian.
Ia turut mengaitkan kondisi ini dengan konsep “front stage” dan “back stage” dari Erving Goffman.
Dalam konteks digital, batas antara keduanya menjadi semakin tipis, sehingga aspek privat seseorang kerap terbuka tanpa kendali.
Baca Juga: Tanda-tanda Cair Muncul! Bansos PKH-BPNT Tahap 2 Ada Status Baru di SPM dan SI, KPM Mohon Sabar
Selain itu, anonimitas di dunia maya dinilai memperkuat perilaku tersebut.
Menurutnya, banyak individu merasa lebih bebas bertindak karena tidak berhadapan langsung dengan konsekuensi sosial.
Hal ini memicu proses deindividuasi, di mana tanggung jawab terasa tersebar.
Satu tindakan yang dianggap kecil oleh individu dapat berdampak besar ketika dilakukan secara kolektif oleh ribuan orang.
Ia mengingatkan, jika fenomena semacam ini terus berulang, risiko yang muncul tidak hanya pada pelanggaran privasi, tetapi juga menurunnya empati sosial.
Ruang digital berpotensi berubah menjadi arena yang reaktif dan sensasional, alih-alih menjadi ruang diskusi yang sehat.
Sebagai penutup, Ivanovich Agusta menekankan pentingnya penguatan literasi digital yang tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga pada empati dan etika.
Ia menilai, perkembangan teknologi yang pesat perlu diimbangi dengan kedewasaan dalam berinteraksi di ruang digital agar tidak merugikan pihak lain. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti