17 Ribu Sapi Berlayar ke Indonesia, Guru Besar IPB Ungkap Alasan Masih Bergantung pada Impor Australia

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Rabu, 29 April 2026 | 10:06 WIB
Sapi impor dari Australia masuk Indonesia.
Sapi impor dari Australia masuk Indonesia.

RADAR BOGOR - Kabar keberangkatan kapal raksasa pengangkut ternak MV Al Kuwait dari Pelabuhan Darwin, Australia, tengah menjadi sorotan. 

Dalam beberapa hari terakhir, media Australia ramai memberitakan, kapal tersebut membawa lebih dari 17.000 ekor sapi menuju Indonesia, di tengah terganggunya perdagangan domba hidup ke Timur Tengah akibat konflik di Iran.

Peristiwa ini kembali menegaskan posisi Indonesia sebagai pasar utama ekspor ternak hidup Australia. 

Baca Juga: Analisis Info Bansos 29 April 2026 yang Beredar, Bedah Struk Pencairan Bantuan, Status SIKS-NG dan Kepastian Penyaluran Tahap 2

Data tahun 2025 menunjukkan Indonesia mengimpor sekitar 583 ribu ekor sapi dengan harga rata-rata USD4 per kilogram bobot hidup.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap sapi impor tidak terlepas dari keterbatasan produksi dalam negeri. 

Dikutip Radar Bogor di laman resmi IPB, ia menilai, populasi sapi potong domestik masih belum mampu memenuhi kebutuhan nasional, terutama di wilayah perkotaan dengan permintaan tinggi.

Baca Juga: Cafe Keboen Bogor, Tempat Nongkrong Luas dengan Nuansa Hijau yang Menenangkan

Menurutnya, produktivitas sapi lokal cenderung lebih rendah dibandingkan sapi impor seperti Brahman Cross dari Australia. 

Ia menyontohkan, sapi bali memiliki laju pertumbuhan yang lebih lambat. 

Sementara, keterbatasan pakan, lahan serta sistem peternakan rakyat yang masih tradisional turut memperlambat peningkatan produksi.

Baca Juga: Cegah Wabah dari Pelabuhan, IPB Training dan BBKK Tanjung Priok Latih Tim Khusus Kendali Vektor dan Keracunan Pangan

Selain itu, sambung dia, distribusi produksi sapi di Indonesia belum merata. 

Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah menjadi sentra produksi. 

Sedangkan, jelas Ronny, permintaan terbesar justru berada di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Baca Juga: Ngopi di Atas Lembah, Cloude Cafe Puncak Bogor Tawarkan Suasana Syahdu dan View Alam

Di sisi lain, permintaan daging sapi terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan kelas menengah. 

Industri makanan, hotel, restoran, hingga katering membutuhkan pasokan daging yang stabil. 

"Belum lagi kebutuhan musiman saat hari besar keagamaan seperti Iduladha," paparnya.

Baca Juga: Spot Berkuda Baru di Sentul Bogor, Avalon Stable Tawarkan Kelas Riding hingga Sesi Foto

Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi inilah yang mendorong pemerintah mengambil langkah impor sapi hidup dari Australia. 

Prof Ronny Rachman Noor menilai, Australia memiliki keunggulan dari sisi logistik dan infrastruktur, dengan sistem ekspor ternak yang terintegrasi, didukung pelabuhan besar serta kapal berkapasitas tinggi seperti MV Al Kuwait yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor dalam satu perjalanan.

Ia menambahkan, impor sapi memberikan sejumlah manfaat, mulai dari menjaga stabilitas pasokan hingga harga yang relatif kompetitif. 

Baca Juga: Pencairan PKH Tahap 2 Akan Segera Cair, Tanda Bahwa Bansos Susulan Tahap 1 Akan Selesai

Selain itu, kualitas sapi impor dinilai lebih unggul untuk penggemukan di feedlot, sekaligus memperkuat hubungan dagang bilateral Indonesia-Australia.

Namun di balik manfaat tersebut, ketergantungan impor juga menyimpan risiko. 

Nilai impor yang besar membuat Indonesia rentan terhadap gejolak global, baik dari sisi geopolitik, fluktuasi harga, maupun gangguan logistik dan kesehatan hewan. 

Baca Juga: Nasi Tempong Meneer, Sajikan Sambal Tempong Khas Banyuwangi dengan Pemandangan Alam yang Sejuk di Puncak Bogor

Dengan asumsi bobot sapi 300 kilogram per ekor, nilai impor pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar USD700 juta atau setara Rp11 triliun.

Untuk mengurangi ketergantungan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya. 

Namun, Prof Ronny Rachman Noor menilai, langkah tersebut masih membutuhkan strategi jangka panjang agar hasilnya lebih signifikan.

Baca Juga: Memasuki Era 'Survival Mode', Pencairan Bansos PKH dan BPNT Jadi Penopang Utama Daya Tahan Ekonomi Masyarakat Rentan di Tengah Tekanan Harga

Ia menyarankan, penguatan pembibitan sapi lokal seperti sapi bali dan peranakan Ongole, serta peningkatan riset genetik guna memperbaiki produktivitas. 

Selain itu, pengembangan sistem feedlot berbasis pakan lokal seperti jagung, singkong, dan limbah pertanian dinilai penting untuk menekan biaya produksi.

Ia juga mendorong diversifikasi sumber impor dengan menjalin kerja sama dengan negara lain seperti Brasil, India, dan kawasan Asia Tenggara. 

Baca Juga: Ngeri Banget 9 Perlintasan Kereta Tanpa Palang di Bogor, Dishub Ungkap Titik Rawan dan Rencana Relokasi

Di sisi lain, peningkatan konsumsi protein alternatif seperti ayam, kambing, dan ikan dapat menjadi solusi untuk mengurangi tekanan terhadap kebutuhan daging sapi.

Menurutnya, kebijakan pemerintah juga perlu mendukung peternak lokal melalui insentif dan pengaturan kuota impor agar tidak merugikan harga sapi domestik.

Fenomena kedatangan ribuan sapi dari Australia ini menjadi pengingat bahwa tantangan swasembada daging di Indonesia masih membutuhkan kerja panjang. 

Baca Juga: Mau Liburan Seru di Puncak? Nicoles River Park Punya Spot Foto dan Wahana, dari Deep Sea hingga Magic Forest

Di tengah kebutuhan yang terus meningkat, keseimbangan antara impor dan penguatan produksi dalam negeri menjadi kunci menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
ipb institut pertanian bogor sapi australia impor