RADAR BOGOR - Pada tahun 2000-an buku menjadi barang asing di Desa Gintung Cilejet, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, masyarakat lebih sibuk berfikir isi perut ketimbang isi nalar.
Bicara pendidikan kala itu dianggap omong kosong, kalau kata pepatah ‘Masuk kuping kanan keluar kuping kiri’, mereka lebih asyik pegang anyaman ketimbang halaman.
Namun pandangan itu perlahan berubah, pada tahun 2007 berdiri satu lembaga pendidikan yang kini menjadi napas kehidupan.
Bangunan itu diberinama SMP Negeri 3 Parungpanjang, sekolah ini berdiri di atas tanah seluas 9.600 meter, tetapi lagi-lagi proses pembangunannya tidaklah mulus.
Baca Juga: Hardiknas 2026, Dekan FKIP UIKA Bogor: Saat AI Mengajar Lebih Cepat, Siapa yang Membentuk Karakter?
“Ini tanah awalnya lapangan bola, mangkannya anak-anak muda di sini sempat pada demo,” kata Kepala SMPN 3 Parungpanjang, Nandang Wijaya.
Tahapan runding mesti ditempuh beberapa kali, aparat desa setempat hampir pasrah, penolakan warga soal usulan pembangunan sekolah amat dominan.
Di tahun yang sama tuhan seolah membuka pintu, warga yang peduli akan pentingnya pendidikan bermunculan, peran mereka amat penting untuk hegemoni warga lain.
Baca Juga: Presiden Prabowo Akan Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk Jawa Timur, Simbol Perjuangan Buruh
Sehingga di tahun 2007 itulah SMPN 3 Parungpanjang resmi beroperasi. Ini merupakan sekolah pertama yang berdiri di Desa Gintung Cilejet.
“Sebetulnya ada cuma jauh, ada SMPN 1 Parung Panjang, terus ada juga sekolah swasta, tapi kan itu bayar,” terang Nandang saat ditemui Radar Bogor.
Biaya yang mesti dikeluarkan ke sekolah swasta berbanding jauh dengan pendapatan warga, mayoritas warga hanya buruh harian lepas dan penganyam.
“Jadi penghasilannya tidak seberapa, mangkannya SMPN 3 Parupangjang itu sangat penting di sini, sudah mah gratis, ditambah ada zonasi juga,” ujarnya.
Warga saat ini disebut Nandang sangat bersemangat untuk sekolah, meski kerap terganggu dengan suara riuh kereta, tetapi itu bukan jadi penghambat.
Siswa yang menempu pendidikan di SMPN 3 Parung Panjang sudah tembus 964 orang, prestasi yang ditorehkan oleh sekolah tersebut juga cukup mentereng.
Baca Juga: Angkot AC D10A Rute Terminal Depok Baru-Jatijajar Berhenti Beroperasi Mulai 2 Mei 2026
“Sekolah kami sekarang sudah terakreditasi A dan menyandang gelar Adiwiyata tingkat provinsi, ini berkat kerja sama yang baik,” beber Nandang.
Lulusan SMPN 3 Parungpanjanh sendiri juga banyak jadi tokoh berpengaruh, bahkan tidak sedikit ada yang melanjutkan hingga pendidikan magister.
“Bagi wilayah lain itu biasa aja, tapi bagi kami yang awalnya mayoritas tidak peduli dengan pendidikan itu sangat luar biasa, artinya peran sekolah ini berhasil,” ujarnya.
Namun saat ini sekolah tersebut kembali membutuhkan sentuhan, bangunan kuno itu sudah usang, kayu-kayu banyak yang sudah keropos, dan chat mengelupas.
“Sudah beberapa kali diajukan untuk perbaikan atau rehab di Musrembang, terus usulan juga ke Disdik tapi belum juga berhasil, semoga ada jalan keluar,” pungkasnya (bay)
Editor : Eka Rahmawati