RADAR BOGOR – Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kabupaten Bogor menyatakan dukungannya terhadap program Sekolah Manusia Unggulan atau Sekolah Maung yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Program Sekolah Maung itu dirancang khusus untuk pelajar berprestasi akademik maupun nonakademik, dan akan mulai menerima murid baru pada SPMB 2026 bagi lulusan SMP dan sederajat.
Ketua BMPS Kabupaten Bogor, Usep Nukliri, menegaskan keberadaan Sekolah Maung tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi sekolah swasta.
"Kalau bagi kita penyelenggara sekolah swasta, program Sekolah Maung tidak menjadi sebuah saingan, hanya mungkin orang-orang tertentu yang ketakutan," ujarnya kepada Radar Bogor, Kamis 7 Mei 2026.
Menurutnya, dunia pendidikan seharusnya tidak diwarnai persaingan antarlembaga, melainkan menjadi ruang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
"Kalau kita menyatakan lembaga pendidikan saingan kita, ini adalah kesalahan besar bangsa. Permasalahan pendidikan itu fastabaqul khairat, bukan dia mencari sesuatu yang ada di pendidikan itu," ungkapnya.
Baca Juga: Stok Beras Jawa Barat Tembus 780 Ribu Ton, Bulog Sebut Aman hingga Tahun Depan
Ia menilai, semangat utama dalam membangun pendidikan harus didasari keikhlasan untuk mencerdaskan generasi bangsa, bukan semata-mata mengejar kepentingan tertentu.
"Kita lihat dari dulu pendidikan nonformal, pesantren enggak ada yang berbayar. Kyai berlomba-lomba fastabaqul khairat, di mana santrinya dan alumninya bisa menjadi orang bermanfaat," tuturnya.
Karena itu, BMPS Kabupaten Bogor menyambut positif program Sekolah Maung dan berharap keberadaannya mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Bogor.
"Makanya, ketika ada Sekolah Maung, kita sebagai BMPS Kabupaten Bogor sangat mendukung," tutupnya.
Perlu diketahui, Pemprov Jawa Barat menargetkan 40 sekolah yang terdiri dari 27 SMA dan 13 SMK di seluruh Jawa Barat untuk menjadi bagian dari Sekolah Maung.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah tidak akan membangun sekolah baru, melainkan memanfaatkan sekolah-sekolah unggulan yang sudah ada di tiap daerah, satu kelas Sekolah Maung hanya diisi maksimal 32 siswa. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin