Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Universitas Tazkia Bahas Masa Depan Islamic Finance 2046 di Bogor, Akademisi Internasional Soroti Tantangan Besar Industri Syariah

Lucky Lukman Nul Hakim • Selasa, 19 Mei 2026 | 09:06 WIB
Universitas Tazkia menggelar International Guest Lecturer, Senin 18 Mei 2026.
Universitas Tazkia menggelar International Guest Lecturer, Senin 18 Mei 2026.

RADAR BOGOR - Universitas Tazkia melalui Faculty of Islamic Economics and Business menggelar kegiatan International Guest Lecturer bertema “The Paradox of Islamic Finance: Preparing for the Year of 2026–2046” pada Senin, 18 Mei 2026. 

Kegiatan yang berlangsung di ruang International Class lantai 3 kampus Universitas Tazkia, Bogor itu menghadirkan akademisi internasional dan para pakar ekonomi Islam untuk membahas tantangan serta arah perkembangan industri keuangan syariah dalam 20 tahun ke depan.

Forum akademik tersebut menjadi ruang diskusi strategis mengenai masa depan Islamic finance di tengah perubahan global yang semakin dinamis. Mahasiswa, dosen, dan peserta umum tampak antusias mengikuti pembahasan yang menyoroti pentingnya integritas, inovasi, dan keberlanjutan dalam industri keuangan syariah.

Dekan Faculty of Islamic Economics and Business Soroti Peran Kampus Cetak Pemikir dan Pembuat Kebijakan

Kegiatan dibuka langsung oleh Dekan Faculty of Islamic Economics and Business Universitas Tazkia, Wiku Suryomurti.

Dalam sambutannya, ia menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ekonomi Islam global.

Baca Juga: Bansos BPNT Tahap 2 dan PKH Mei 2026 Mulai Masuk Lagi, Ini Daftar Daerah Aktif dan Status KPM Terbaru

Wiku Suryomurti menjelaskan, dunia akademik tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan pemikir dan pembuat kebijakan yang dapat menentukan arah perkembangan industri keuangan syariah di masa mendatang.

Ryan Calder Ungkap Pentingnya Peran Ulama dan Akademisi dalam Islamic Finance

Sesi utama dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Ryan Calder, penulis buku The Paradox of Islamic Finance.

Dalam paparannya, Ryan Calder membahas tantangan besar yang dihadapi industri keuangan syariah sekaligus pentingnya menjaga nilai dan integritas sistem ekonomi Islam.

Ia mengibaratkan peran akademisi dan ulama seperti ragi dalam roti yang menjadi unsur penting dalam membentuk karakter sebuah sistem.

Menurutnya, keberadaan para ilmuwan dan pemikir memiliki peran sentral dalam menjaga arah perkembangan Islamic finance agar tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariah.

Guru Besar Akuntansi Syariah Tekankan Pentingnya Keberlanjutan Islamic Finance

Diskusi akademik juga diperkuat oleh pandangan Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia, Murniati Mukhlisin.

Dalam sesi diskusi, ia menegaskan bahwa pengembangan Islamic finance merupakan perjalanan panjang yang harus diteruskan lintas generasi.

Baca Juga: BPNT Tahap 2 Tahun 2026 Mulai Disalurkan, Warga Jawa Barat Kini Makin Gampang Cek Bansos

Murniati Mukhlisin menilai keberlanjutan riset, pendidikan, dan praktik keuangan syariah menjadi faktor penting dalam membangun industri yang lebih kuat dan relevan menghadapi tantangan masa depan.

Perspektif Global Dinilai Penting untuk Pengembangan Keilmuan Ekonomi Islam

Pandangan reflektif turut disampaikan oleh dosen ekonomi Islam Universitas Tazkia, Ries Wulandari. Ia menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap perspektif global dalam pengembangan keilmuan ekonomi Islam di Indonesia.

Menurut Ries Wulandari, dialog internasional dapat menjadi sarana refleksi sekaligus memperkaya diskursus akademik sehingga perkembangan Islamic finance tidak berjalan secara eksklusif, tetapi mampu beradaptasi dengan tantangan global.

Universitas Tazkia Tegaskan Komitmen Hadirkan Diskusi Akademik Bertaraf Internasional

Kegiatan tersebut dipandu oleh moderator Putri Syifa Amalia yang juga merupakan Koordinator Program Studi Akuntansi Syariah Universitas Tazkia.

Melalui forum internasional ini, Universitas Tazkia kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang diskusi akademik yang relevan dengan perkembangan industri keuangan masa depan.

Pembahasan mengenai paradoks Islamic finance tidak hanya menjadi refleksi akademik, tetapi juga pengingat bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia di bidang keuangan syariah yang kompeten, berintegritas, dan memahami prinsip-prinsip syariah secara mendalam.

Universitas Tazkia berharap forum seperti ini dapat mendorong lahirnya generasi pemikir, praktisi, dan pembuat kebijakan yang mampu membawa perkembangan Islamic finance menuju masa depan yang lebih berkelanjutan hingga tahun 2046. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#Islamic #bogor #Universitas Tazkia