RADAR BOGOR — Penggunaan gadget pada anak yang semakin tinggi di era digital menjadi perhatian serius dunia kesehatan.
Selain mendukung aktivitas belajar dan hiburan, paparan layar digital dalam waktu lama juga dinilai berisiko meningkatkan gangguan penglihatan, terutama myopia atau mata minus pada anak.
RSUD R Moh Noh Nur melalui dr. Diniar Syabillania mengingatkan pentingnya deteksi dini gangguan mata pada anak agar kondisi myopia tidak berkembang semakin parah seiring pertumbuhan usia.
Edukasi kesehatan tersebut disampaikan pada Kamis, 21 Mei 2026 sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kepada masyarakat mengenai kesehatan mata anak di tengah perkembangan teknologi digital.
Dalam penjelasannya, dr. Diniar menerangkan bahwa myopia merupakan kelainan refraksi yang menyebabkan objek jauh terlihat kabur karena bayangan cahaya tidak jatuh tepat di retina.
“Kondisi ini umumnya terjadi akibat bentuk bola mata yang memanjang atau kelengkungan kornea yang terlalu besar. Pada anak-anak, myopia dapat terus bertambah apabila tidak dipantau dan dikendalikan dengan baik,” jelasnya.
Menurutnya, kebiasaan melihat objek jarak dekat dalam waktu lama, termasuk penggunaan gadget secara berlebihan tanpa jeda istirahat, menjadi salah satu faktor yang diduga memicu meningkatnya kasus mata minus pada usia sekolah.
Selain itu, kurangnya aktivitas di luar ruangan dan minimnya paparan cahaya alami juga berhubungan dengan meningkatnya risiko gangguan refraksi pada anak.
Orang Tua Diminta Peka terhadap Gejala Mata Minus pada Anak
Tak hanya faktor kebiasaan, faktor keturunan juga memiliki pengaruh terhadap risiko myopia.
Anak yang memiliki orang tua dengan riwayat mata minus diketahui lebih rentan mengalami kondisi serupa.
Karena itu, orang tua diminta lebih memperhatikan perubahan perilaku visual anak yang dapat menjadi tanda awal gangguan penglihatan.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain anak sering menyipitkan mata saat melihat jauh, menonton televisi terlalu dekat, memegang gadget atau buku sangat dekat ke wajah, kesulitan membaca tulisan di papan, hingga konsentrasi belajar yang menurun.
“Kondisi ini sering terlambat disadari karena anak belum mampu menjelaskan keluhan penglihatannya secara detail,” ujar dr. Diniar.
Cara Mencegah Myopia pada Anak di Era Digital
Dalam edukasi tersebut, masyarakat juga diberikan sejumlah langkah pencegahan untuk membantu mengurangi risiko sekaligus memperlambat perkembangan myopia pada anak.
Beberapa langkah yang dianjurkan di antaranya membatasi screen time sesuai usia anak, memastikan pencahayaan saat belajar cukup terang, menjaga jarak aman saat menggunakan gadget, dan meningkatkan aktivitas luar ruangan minimal dua jam setiap hari.
RSUD Leuwiliang juga menyarankan penerapan metode 20-20-20 untuk membantu mengurangi kelelahan mata akibat aktivitas melihat dekat.
Metode ini dilakukan dengan cara mengalihkan pandangan ke objek sejauh sekitar 20 kaki selama 20 detik setiap 20 menit sekali saat menggunakan gadget atau membaca.
Melalui edukasi kesehatan ini, RSUD R Moh Noh Nur Leuwiliang berharap masyarakat semakin sadar pentingnya pemeriksaan mata rutin pada anak sejak dini.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas penglihatan, mencegah perkembangan mata minus yang lebih berat, serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal di era digital saat ini. (***)
Editor : Yosep Awaludin