RADAR BOGOR – Tim Program Karang Tengah EcoRise melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan masyarakat di Kawasan Wisata Curug Mutiara, Kampung Wangun 2, Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor.
Kegiatan ini menjadi langkah awal implementasi program pengembangan wisata berkelanjutan berbasis lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi sirkular yang didukung melalui Program Youth In Action KPP Mining.
Kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri berbagai stakeholder lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah desa, pengelola wisata, masyarakat, akademisi, hingga mitra eksternal.
Turut hadir perwakilan dari Perhutani, Manajemen Sentul City Divisi Land Sentul City beserta petugas lapangan, jajaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan, serta perangkat Desa Karang Tengah.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan sekitar 33 masyarakat lokal dengan total peserta kegiatan mencapai kurang lebih 60 orang.
Dalam kegiatan tersebut, Tim EcoRise memperkenalkan program pengembangan wisata berbasis masyarakat yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kunjungan wisata, tetapi juga pada penguatan pengelolaan lingkungan, pemanfaatan potensi lokal, serta peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata Curug Mutiara.
Program EcoRise sendiri merupakan inisiatif pengembangan wisata berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Beberapa implementasi program yang telah dilakukan di antaranya pembangunan kandang budidaya maggot sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.
Kemudian penataan dan perapihan jalur trekking, pemasangan papan interpretasi lingkungan, pembetulan akses jalan wisata dan jalur pertanian masyarakat, pengembangan zona wisata, hingga perbaikan fasilitas pendukung kawasan wisata.
Selain itu, program ini juga mengembangkan konsep trekking berbasis edukasi lingkungan melalui interpretasi kawasan wisata yang didukung dengan papan informasi lingkungan sebagai media edukasi bagi pengunjung mengenai pentingnya menjaga alam dan ekosistem kawasan wisata.
Program ini diharapkan mampu membangun pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif dan berkelanjutan.
Dalam sesi pelatihan, masyarakat mendapatkan materi mengenai pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik yang bernilai ekonomi.
Kemudian pemanfaatan potensi alam lokal, hingga pengenalan website wisata Curug Mutiara sebagai langkah awal pengembangan digitalisasi wisata dan promosi UMKM masyarakat.
Tidak hanya sebatas penyampaian materi, kegiatan juga dilanjutkan dengan praktik langsung budidaya maggot bersama masyarakat sebagai bentuk edukasi aplikatif agar masyarakat dapat memahami proses pengelolaan lingkungan secara langsung dan berkelanjutan.
Ketua Tim EcoRise, Agustina Raharjo, menyampaikan bahwa program ini hadir bukan hanya untuk pengembangan wisata, tetapi juga untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan.
“Kami ingin pembangunan wisata di Curug Mutiara tidak hanya menghadirkan pengunjung, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan, kolaborasi masyarakat, serta pemanfaatan potensi lokal yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kawasan wisata dan masyarakat sekitar,” ujarnya.
Program EcoRise juga telah melibatkan masyarakat secara langsung dalam berbagai kegiatan implementasi lapangan.
Tercatat sebanyak 9 masyarakat lokal terlibat dalam proses pembangunan kandang maggot, pembetulan akses jalan, penataan kawasan wisata, pemasangan papan interpretasi.
Serta perapihan jalur trekking. Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi bagian penting dalam pendekatan pemberdayaan yang diusung program EcoRise.
Selain fokus pada pengembangan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, kawasan Wisata Curug Mutiara juga menunjukkan peningkatan aktivitas wisata selama proses implementasi program berlangsung.
Dalam kurun waktu hampir dua bulan pelaksanaan program, yaitu sejak April hingga Mei 2026, tercatat lebih dari 300 pengunjung telah datang ke kawasan Curug Mutiara.
Peningkatan kunjungan tersebut didukung oleh penguatan promosi digital, pemasaran melalui media sosial, pendekatan kolaboratif dengan berbagai stakeholder.
Serta meningkatnya eksposur kawasan wisata melalui kegiatan implementasi dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Tim EcoRise bersama pengelola wisata dan masyarakat lokal.
Baca Juga: Hasil TKA 2026 SD dan SMP Diumumkan Hari Ini, Berikut Cara Cek Nilai dan Verifikasi Sertifikat Resmi
Meningkatnya jumlah pengunjung tidak hanya berdampak pada aktivitas wisata, tetapi juga mulai menciptakan perputaran ekonomi di kawasan sekitar.
Kehadiran wisatawan memberikan peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam berbagai aktivitas wisata, mulai dari pengelolaan kawasan, jasa pemandu trekking, parkir, hingga pengembangan potensi UMKM dan hasil alam lokal yang mulai diperkenalkan kepada pengunjung.
Melalui kolaborasi antara masyarakat, pengelola wisata, pemerintah desa, akademisi, dan mitra eksternal, Program Karang Tengah EcoRise diharapkan dapat menjadi contoh implementasi wisata berkelanjutan berbasis pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan di kawasan wisata pedesaan.
Sekaligus menjadi langkah nyata dalam mendorong pengembangan wisata yang lebih tertata, edukatif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat sekitar. (***)
Editor : Yosep Awaludin