Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Peneliti dan Pegiat Konservasi Ingatkan Pemerintah untuk Tidak Tebar Ikan Invasif di Telaga Saat Puncak Bogor

Septi Nulawam Harahap • Kamis, 4 Juni 2026 | 17:19 WIB

Ilustrasi: Telaga Saat di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. (Instagram @telagasaatpuncak)

Ilustrasi: Telaga Saat di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. (Instagram @telagasaatpuncak)

RADAR BOGOR - Peneliti ikan endemik Hulu Ciliwung Iqbal Mujadid mengingatkan Pemerintah Kabupaten Bogor agar tidak melakukan penebaran ikan invasif di kawasan Telaga Saat, Cisarua.

Menurutnya, langkah tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem sekaligus bertentangan dengan prinsip konservasi yang berlaku di kawasan hulu atau titik nol kilometer Sungai Ciliwung.

Iqbal menilai penebaran ikan nonlokal dapat memperburuk kondisi lingkungan dan mengancam keberlangsungan spesies ikan asli yang selama ini hidup di kawasan tersebut.

Baca Juga: Isu Menteri Keuangan Purbaya Mundur Beredar, Begini Respons Langsung dari Sang Bendahara Negara

"Kami melihat pemerintah bukan hanya gagal menjaga kawasan konservasi tetap lestari, tetapi justru berpotensi mempercepat kerusakan ekosistem dan mengancam kelangsungan ikan asli. Ketika rantai makanan terganggu, risiko kepunahan lokal semakin besar. Bukannya menanggulangi, malah menambah faktor yang menyebabkan kepunahan lokal bisa terjadi," ujar Iqbal, Rabu, 4 Juni 2026.

Sebagai informasi, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544, pemerintah berencana menggelar kegiatan penanaman pohon, pelepasliaran burung, serta penebaran ikan di kawasan Titik Nol Telaga Saat, Puncak, Kabupaten Bogor.

Berdasarkan informasi yang beredar, jumlah ikan yang akan ditebar mencapai 5.544 ekor. Rinciannya terdiri atas 544 ekor ikan indukan dari berbagai jenis, seperti ikan mas, grass carp, patin, belida, baung, tawes, dan lele. Selain itu, akan dilepas pula sekitar 5.000 benih ikan tawes, nila, patin, dan lele.

Iqbal menegaskan bahwa kepunahan suatu spesies pada umumnya diawali oleh hilangnya populasi di tingkat lokal yang terus meluas. Karena itu, ia menilai ancaman terhadap spesies asli perlu mendapat perhatian lebih serius.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menyampaikan berbagai masukan kepada tim yang menangani kawasan Ciliwung. Selain itu, penelitian terkait kondisi ekologi sungai tersebut akan terus dilakukan.

"Kami sudah sounding ke timsus di Ciliwung, maka kami tetap akan bikin artikel ilmiah yang akan di-publish di jurnal akademik tentang kondisi lingkungan dan keanekaragamannya dari hulu dan hilir Ciliwung saat ini beserta peran pemerintah, masyarakat, aktivis dan stakeholder lainnya," jelas Iqbal.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Nasional, Dedi Kurniawan, menyatakan tidak akan menghadiri undangan kegiatan tersebut.

Menurut Dedi, terdapat sejumlah agenda yang dinilai tidak sejalan dengan prinsip-prinsip konservasi lingkungan.

"Kami memilih tidak hadir karena kegiatan tersebut terindikasi bertentangan dengan semangat konservasi," ujarnya.

Sikap serupa juga disampaikan Ketua FK3I Regional Gunung Gede Pangrango-Halimun Salak, Ligar S.R. Ia mengaku membatalkan rencana kehadirannya mendampingi Ketua FK3I Nasional dalam kegiatan tersebut.

Ligar menyoroti agenda penebaran ribuan ikan asing atau invasif yang dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan Telaga Saat. Selain itu, pihaknya juga mempertanyakan konsep penanaman pohon yang akan dilakukan, termasuk apakah kegiatan tersebut benar-benar mengacu pada prinsip Menanam, Merawat, dan Menjaga (3M).

"Kalau masih menganggap Telaga Saat tersebut masih perairan yang dilindungi, sebaiknya batalkan menebar ikan asing atau ikan invatif, karena tanpa ditambah pun, ikan asing sudah mendominasi di Telaga Saat, dan ikan endemik nyaris punah," ungkap Ligar.

Ia menjelaskan bahwa salah satu kekayaan hayati Telaga Saat terletak pada keberadaan ikan-ikan lokal yang menjadikan aliran Sungai Ciliwung sebagai habitat alaminya. Namun, masih banyak pihak yang belum memahami pentingnya keberadaan spesies lokal bagi keseimbangan ekosistem.

Akibatnya, kegiatan pelepasan ikan sering kali menggunakan jenis invasif atau ikan asing yang justru dapat mengancam populasi ikan asli melalui persaingan dalam memperoleh ruang hidup dan sumber makanan.

"Akibatnya adalah ikan lokal mengalami penurunan populasi akibat persaingan hidup dengan ikan invasif jika ini terus terjadi maka kepunahan semakin dekat dampaknya adalah generasi mendatang tidak kenal ikan asli," papar Ligar.

Menurunnya jumlah ikan lokal, lanjut Ligar, akan berdampak langsung pada kualitas keanekaragaman hayati di Sungai Ciliwung.

Karena itu, ia menilai upaya pencegahan kepunahan harus dilakukan secara bersama-sama melalui edukasi, konservasi, dan advokasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat, serta berbagai komunitas yang peduli terhadap kelestarian Sungai Ciliwung.

Sebagai informasi, pengelolaan Sungai Ciliwung berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC). Meski demikian, pemerintah daerah juga memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sungai tersebut.

Menurut para pegiat konservasi, berbagai regulasi yang menjadi dasar perlindungan kawasan sebenarnya sudah tersedia. Namun dalam praktiknya, penerapan aturan tersebut dinilai masih sering terabaikan karena adanya berbagai kepentingan pemanfaatan kawasan sungai.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
#ikan #bogor #puncak #Telaga Saat