RADAR BOGOR – Pemerintah Desa Cileungsi Kidul, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor menggelar kegiatan Rembuk Stunting sebagai upaya memperkuat koordinasi dan meningkatkan kapasitas kader Posyandu dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) dalam percepatan pencegahan stunting, Kamis, 4 Juni 2026.
Kepala Desa Cileungsi Kidul, Rudi Sukarya, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian aksi konvergensi percepatan penurunan stunting yang melibatkan berbagai pihak di tingkat desa.
Menurut Rudi, rembuk stunting tak hanya menjadi forum evaluasi, tetapi juga sebagai sarana penguatan keterampilan, koordinasi, serta pemahaman teknis bagi kader kesehatan, khususnya Kader Posyandu dan Kader Pembangunan Manusia (KPM).
“Fokus utamanya adalah menyajikan data akurat, merumuskan rencana aksi, dan mengalokasikan anggaran guna mempercepat pencegahan stunting di tingkat akar rumput,” ujar Rudi kepada Radar Bogor, Kamis, 4 Juni 2026.
Baca Juga: Tekan Angka Putus Sekolah, PKBM Kabupaten Bogor Buka Pendaftaran Serentak Tahun Ajaran 2026/2027
Ia menjelaskan, pelatihan kapasitas yang dilakukan dalam kegiatan tersebut menyasar para KPM dan kader Posyandu agar mampu menjalankan tugas pendampingan masyarakat secara optimal.
“Mereka dilatih untuk mampu memaparkan data pemantauan lima kelompok sasaran prioritas ibu hamil, balita, remaja, dan lain-lain. Serta melakukan deteksi dini dan intervensi spesifik penanganan stunting,” ungkapnya.
Selain penguatan kapasitas kader, forum rembuk stunting juga digunakan untuk membahas capaian program penanganan stunting yang telah berjalan sekaligus menyepakati langkah-langkah pencegahan yang akan dilaksanakan pada tahun anggaran berjalan maupun tahun berikutnya.
Rudi menuturkan, integrasi data menjadi salah satu aspek penting dalam upaya percepatan penurunan stunting. Melalui data yang terintegrasi, pemerintah desa dapat memetakan kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi gizi dan kesehatan secara lebih tepat.
“Melalui integrasi data, ini dapat memetakan kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi gizi maupun kesehatan secara konvergen. Selanjutnya kita melakukan prioritas unggulan yang biasanya menyepakati kampanye gizi, optimalisasi pelayanan Posyandu, hingga penyediaan alat ukur antropometri terstandar,” tambahnya.
Ia berharap kegiatan rembuk stunting dapat memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan, membangun sinergi lintas sektor, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah stunting sejak dini.
“Sebagai tahapan penting dalam aksi konvergensi pencegahan stunting, kegiatan ini memastikan agar program penanganan stunting tidak hanya sekadar formalitas, tetapi benar-benar tepat sasaran dan berkesinambungan,” pungkasnya.(Cr1)
Editor : Eka Rahmawati