RADAR BOGOR – Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para pelaku usaha kecil, termasuk pengrajin tempe di Bogor.
Lonjakan harga bahan baku impor membuat para pengusaha tempe di Kabupaten Bogor harus berjuang keras mempertahankan usahanya, di tengah menurunnya daya beli masyarakat.
Salah satu pengusaha tempe di Cibinong Bogor, Sachur mengungkapkan, bahwa kenaikan dolar berdampak langsung terhadap harga kedelai yang selama ini masih bergantung pada pasokan impor.
Baca Juga: Terungkap, Inilah 5 Wisata Air Terjun Tersembunyi di Lampung dengan Keunikan Fisik yang Menakjubkan
“Kalau dolar naik tentu sangat berpengaruh, karena bahan baku kedelai yang digunakan saat ini mayoritas berasal dari impor,” ujarnya, Jumat, 5 Juni 2026.
Menurutnya, kenaikan tidak hanya terjadi pada kedelai, tetapi juga bahan penunjang produksi seperti plastik kemasan. Harga kedelai disebut naik sekitar 10 persen, sementara harga plastik melonjak hampir dua kali lipat.
“Kenaikan bahan baku sangat terasa. Kedelai naik sekitar 10 persen. Plastik juga naik drastis, yang sebelumnya sekitar Rp8 ribu sekarang bisa mencapai Rp15 ribu,” jelasnya.
Untuk menyesuaikan biaya produksi yang terus meningkat, para pengusaha sempat mencoba menaikkan harga jual maupun mengurangi ukuran tempe. Namun langkah tersebut justru membuat konsumen berkurang.
“Kalau harga dinaikkan dari Rp5 ribu menjadi Rp6 ribu, pembeli langsung berkurang. Kalau ukuran diperkecil, pelanggan juga banyak yang protes. Posisinya memang serba sulit,” keluhnya.
Kondisi tersebut membuat keuntungan usaha semakin menipis. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, hasil penjualan hanya cukup untuk menutup biaya operasional dan kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Pesta Bebas Berselancar 2026 Rilis Jadwal Lengkap, Hindia hingga Perunggu Siap Tampil di Bogor
“Jujur saja, usaha kecil seperti kami sekarang hanya bisa bertahan. Jangankan menabung keuntungan, kadang untuk balik modal saja sulit. Yang penting masih bisa jalan dan cukup untuk kebutuhan makan,” katanya.
Mewakili para pelaku usaha tempe dan tahu, Sachur berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku, khususnya komoditas impor yang sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar mata uang.
“Kami berharap ada kebijakan dari Presiden agar harga kedelai dan plastik bisa lebih stabil. Sebab bahan baku ini sangat menentukan keberlangsungan usaha tempe dan tahu di masyarakat,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga