RADAR BOGOR – Para pengusaha tempe di wilayah Cibinong Bogor mengeluhkan penurunan penjualan yang cukup signifikan akibat kenaikan harga bahan baku, terutama kedelai impor yang terdampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Salah satu perajin tempe, Sachur, menyebut lonjakan harga kedelai dan plastik menjadi faktor utama yang menekan usaha produksi tempe rumahan di Bogor yang selama ini ia jalankan.
Menurutnya, dua bahan tempe tersebut memiliki dampak paling besar terhadap biaya produksi harian Bogor.
“Yang paling terasa itu kedelai sama plastik, dua-duanya naik cukup tinggi,” ujarnya, Jumat, 5 Juni 2026.
Sachur menjelaskan, kenaikan harga bahan baku membuat pelaku usaha kecil harus melakukan penyesuaian, baik dari segi harga maupun ukuran produk. Namun, kedua opsi tersebut sama-sama memiliki risiko ditinggalkan konsumen.
“Kalau ukuran dikecilin, pembeli komplain. Kalau harga dinaikin, pembeli juga pergi. Jadi serba susah,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi saat ini membuat keuntungan usaha tempe nyaris tidak ada. Bahkan dalam beberapa kondisi, penjualan hanya cukup untuk menutup biaya produksi tanpa sisa laba.
Baca Juga: 4 Kemenangan Beruntun, SDN Sukadamai 3 Juara 1 Mini Soccer O2SN Kota Bogor 2026
“Biasanya masih ada untung, sekarang kadang sudah tidak ada sama sekali. Bahkan kadang hanya cukup untuk jalan saja,” ungkapnya.
Sachur juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai tidak hanya terjadi sesekali, melainkan cenderung berulang setiap tahun, namun kali ini dampaknya terasa lebih berat.
“Sekarang benar-benar berat karena semua ikut naik,” tambahnya.
Dalam sehari, ia harus menyesuaikan jumlah produksi agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya.
Baca Juga: 7 Wisata Pulau di Banten dengan Pemandangan Tercantik yang Bikin Betah Wisatawan, Cek Selengkapnya
Di sisi lain, permintaan pasar disebut masih ada, namun daya beli masyarakat yang ikut terdampak membuat penjualan ikut menurun.
Melihat kondisi tersebut, ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian khusus terhadap stabilitas harga bahan baku, terutama kedelai impor yang sangat bergantung pada pasar global.
“Kami berharap ada kebijakan yang bisa menstabilkan harga kedelai dan plastik, supaya usaha kecil seperti kami bisa tetap bertahan,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga