Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Perjuangan Iqbal di Sekolah Rakyat Bogor, dari Pengobatan Hingga Mengejar Cita-cita Menjadi Dokter

Muhammad Ali • Minggu, 7 Juni 2026 | 13:45 WIB
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf saat berbincang dengan Iqbal Pratama, di sela kegiatan praktik laboratorium Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu 3 Juni 2026. (Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor)
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf saat berbincang dengan Iqbal Pratama, di sela kegiatan praktik laboratorium Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu 3 Juni 2026. (Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Di tengah kegiatan praktik laboratorium Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, seorang siswa bernama Iqbal Pratama berdiri di samping Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Dengan suara tenang, Iqbal menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan sang menteri.

Percakapan sederhana itu kemudian mengungkap kisah perjuangan seorang anak yang berasal dari keluarga kurang mampu, namun tidak pernah kehilangan harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Iqbal Pratama lahir di Bogor pada 19 November 2012. Ia merupakan lulusan SD Negeri Cibeureum 2 dan tinggal di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), Iqbal termasuk dalam kategori Desil 1 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Di usianya yang baru menginjak 14 tahun, Iqbal telah menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah. Ayahnya, Mulyana, telah meninggal dunia. Sementara sang ibu, Nia Kurniasih, berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Program MBG dan Koperasi Desa Tak Tekan Fiskal, Defisit Tetap Terkendali

Kondisi tersebut membuat Iqbal menjadi salah satu anak yang mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, program pemerintah yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan.

Saat ditanya Gus Ipul mengenai kehidupannya selama berada di Sekolah Rakyat, Iqbal mengaku telah menjalani pendidikan selama 10 bulan. "Alhamdulillah lancar," jawabnya singkat, Rabu 3 Juni 2026.

Meski jauh dari rumah, Iqbal mengaku merasa nyaman tinggal di lingkungan sekolah berasrama tersebut.

"Alhamdulillah betah, karena di sini pelayanannya lengkap, seperti makan tiga kali sehari, snack dua kali sehari, guru-gurunya baik, bisa tinggal di asrama, dan teman-temannya juga baik," ucapnya.

Bagi Iqbal, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar. Sekolah itu juga menjadi rumah kedua yang memberikan perhatian terhadap kebutuhan pendidikan, kesehatan, hingga pembentukan karakter.

Setiap hari, Iqbal memulai aktivitas sejak pukul 04.00 WIB. Setelah mengikuti berbagai kegiatan belajar dan pembinaan, ia biasanya beristirahat sekitar pukul 21.00 WIB.

Jika ada pekerjaan rumah, waktu tidurnya bisa mundur hingga pukul 22.00 WIB. Namun, perubahan terbesar yang dirasakan Iqbal bukan hanya soal pendidikan.

Saat pertama kali menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat, ia mengikuti pemeriksaan kesehatan sebagaimana siswa lainnya. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan adanya masalah kesehatan pada tubuhnya.

"Ternyata aku yang awalnya di bagian leher ada benjolan dari kelenjar getah bening. Yang awalnya itu ada 44, tetapi setelah di sini diobati selama enam bulan berturut-turut, minum obat tiap hari, alhamdulillah sekarang sudah 10 kelenjar," katanya.

Selama enam bulan terakhir, Iqbal rutin menjalani pengobatan dan mengonsumsi obat setiap hari. Hasilnya, kondisi kesehatannya berangsur membaik.

Mendengar cerita tersebut, Gus Ipul mengaku bangga dengan semangat yang dimiliki Iqbal.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty pada Balapan Moto3 Hungaria 2026 Sore Nanti, Ini Penyebabnya

Menurutnya, semangat yang ditunjukkan Iqbal menjadi contoh bagi banyak orang untuk tetap optimistis menghadapi keterbatasan maupun penyakit.

"Semua penyakit bisa diobati jika kita mengetahuinya lebih cepat. Ini kita ketahui lebih cepat, sekarang kita proses pengobatannya. Mudah-mudahan bisa cepat pulih dan semua mendapatkan kesehatan," tutur Gus Ipul.

Bagi Iqbal, proses pengobatan yang dijalaninya tidak hanya membuat tubuhnya lebih sehat. Pengalaman itu juga melahirkan sebuah cita-cita besar.

Ketika ditanya mengenai impiannya di masa depan, Iqbal menjawab dengan mantap. "Dokter dan perawat," harapnya.

Jawaban itu sontak mendapat tepuk tangan. Bukan tanpa alasan. Pengalaman menjalani pengobatan membuat Iqbal memahami pentingnya peran tenaga kesehatan dalam membantu orang lain sembuh dan menjalani hidup yang lebih baik.

Kisah Iqbal menjadi salah satu potret nyata tujuan Sekolah Rakyat yang saat ini hampir memasuki usia satu tahun penyelenggaraan.

Program tersebut tidak hanya memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga menghadirkan layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak, makanan bergizi, serta pendampingan yang menyeluruh.

Baca Juga: Bosan dengan Liburan yang Itu-Itu Saja? 5 Kebun Binatang di Jatim Ini Punya Koleksi Satwa Langka dan Panggung Seni Tradisional

Di balik berbagai data dan capaian Sekolah Rakyat, tersimpan kisah-kisah seperti yang dialami Iqbal.

Kisah tentang seorang anak yang kehilangan ayah, hidup dalam keterbatasan ekonomi, berjuang melawan penyakit, tetapi tetap berani memelihara mimpi.

Kini, setelah kesehatannya berangsur membaik dan pendidikan yang layak berada di tangannya, Iqbal menatap masa depan dengan keyakinan baru.

Dari sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi wong cilik, ia sedang menapaki jalan menuju cita-citanya menjadi dokter atau perawat agar kelak dapat membantu orang lain, sebagaimana dirinya pernah dibantu. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #Sekolah Rakyat #menteri sosial