RADAR BOGOR - Beredarnya video yang memperlihatkan seekor cacing diduga keluar dari potongan sashimi di sebuah restoran sushi di Hong Kong viral di media sosial dan memicu kekhawatiran publik.
Dalam rekaman tersebut, seorang pelanggan mengaku, menemukan organisme menyerupai cacing yang merayap keluar dari potongan ikan kinmedai sesaat sebelum ia menyantap hidangannya.
Peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu itu langsung mendapat perhatian luas dan dilaporkan kepada otoritas keamanan pangan setempat untuk ditindaklanjuti.
Baca Juga: 4 Rekomendasi Penginapan di Gunung Mas Bogor, Puncak Pass Resort Salah Satunya
Kasus tersebut sekaligus kembali membuka diskusi mengenai keamanan konsumsi ikan mentah yang selama ini menjadi bahan utama berbagai menu populer seperti sushi dan sashimi.
Parasit pada Ikan Mentah Bisa Memicu Berbagai Gangguan Kesehatan
Menanggapi kejadian tersebut, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, dr Karina Rahmadia Ekawidyani mengingatkan, masyarakat agar lebih berhati-hati saat mengonsumsi ikan mentah dan selektif dalam memilih tempat makan.
Menurut dr Karina, ikan yang disajikan tanpa proses pemasakan berpotensi mengandung berbagai jenis parasit yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Beberapa di antaranya adalah cacing pita Diphyllobothrium spp., nematoda, trematoda, hingga protozoa.
"Ikan mentah memiliki risiko mengandung parasit yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia apabila tidak melalui proses penanganan yang sesuai standar keamanan pangan," jelas dr Karina, dikutip dari laman resmi IPB University.
Gejala Infeksi Bisa Muncul dalam Hitungan Jam hingga 2 Minggu
Dr Karina menjelaskan bahwa infeksi akibat parasit pada ikan mentah dapat menimbulkan gangguan saluran pencernaan akut.
Gejalanya bisa muncul mulai satu hingga dua jam setelah konsumsi, bahkan pada beberapa kasus baru terlihat hingga 14 hari kemudian.
Keluhan yang sering dialami antara lain mual, muntah, diare yang terkadang disertai darah, nyeri perut, pusing, demam, hingga menggigil.
Tidak hanya itu, apabila infeksi berlangsung dalam jangka panjang dan tidak segera ditangani, dampaknya dapat menjadi lebih serius.
Baca Juga: Profil Vozinha, Kiper Cape Verde Berusia 40 Tahun yang Bikin Striker Spanyol Mati Kutu
Kondisi kronis berpotensi menyebabkan anemia, penurunan berat badan, kekurangan vitamin B12, hingga peradangan pada saluran empedu atau kolangitis serta pankreatitis.
Cara Mematikan Parasit pada Ikan Sebelum Dikonsumsi
Lebih lanjut, dr Karina mengungkapkan bahwa risiko paparan parasit sebenarnya dapat diminimalkan melalui penerapan prosedur keamanan pangan yang tepat.
Salah satu metode yang efektif adalah memasak ikan pada suhu minimal 55 derajat Celsius selama lima menit.
Selain itu, pembekuan dengan suhu sangat rendah juga dapat digunakan untuk membunuh larva parasit yang mungkin terdapat dalam daging ikan.
Ia menjelaskan, ikan dapat dibekukan pada suhu minus 20 derajat Celsius selama tujuh hari atau pada suhu minus 35 derajat Celsius selama 15 jam, khususnya untuk potongan ikan dengan ketebalan kurang dari 15 sentimeter.
Restoran dan Konsumen Sama-sama Punya Peran Penting
Menurut dr Karina, restoran memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan produk yang disajikan kepada pelanggan.
Pengelola usaha kuliner wajib memastikan bahan baku ikan disimpan pada suhu yang tepat serta mengikuti standar penanganan yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, konsumen juga perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi kesehatan seperti anak-anak dan lanjut usia.
"Kelompok rentan, pilihan yang lebih aman yakni mengonsumsi menu sushimi atau olahan seafood yang telah dimasak dengan sempurna," ujarnya.
Sanitasi Lingkungan Jadi Kunci Memutus Siklus Parasit
Selain aspek pengolahan makanan, dr Karina menekankan, pengendalian parasit juga perlu dilakukan dari sisi lingkungan.
Sistem sanitasi yang baik berperan penting dalam memutus rantai penyebaran parasit yang dapat mencemari perairan.
Baca Juga: Travel Hantam Kontainer di Tol Cipularang KM 101
Ia menjelaskan, pengelolaan limbah feses melalui septic tank yang memenuhi standar menjadi langkah penting untuk mencegah telur parasit masuk ke ekosistem perairan dan kembali menginfeksi ikan yang hidup di dalamnya.
Kasus viral yang terjadi di Hong Kong menjadi pengingat, popularitas makanan berbahan ikan mentah harus diimbangi dengan penerapan standar keamanan pangan yang ketat.
Dengan pengolahan yang benar, pengawasan yang baik, serta kesadaran konsumen, risiko infeksi parasit dapat ditekan sehingga makanan laut tetap aman untuk dinikmati. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim