RADAR BOGOR – Musim kemarau 2026 mulai terasa di Kabupaten Bogor dan hingga pertengahan Juni, tiga desa di wilayah Citeureup, Nanggung, dan Babakan Madang telah mengalami krisis air bersih, dengan total 1.450 jiwa terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, mengatakan saat ini terdapat tiga titik yang sudah meminta bantuan distribusi air bersih.
Wilayah yang terdampak meliputi Kampung Tonggoh, Desa Gunungsari, Kecamatan Citeureup, dengan jumlah terdampak mencapai 125 kepala keluarga (KK) atau 517 jiwa.
Sementara itu, di Kampung Parakan Muncang dan Kampung Blok Paris, Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung, krisis air bersih berdampak pada 150 KK atau 490 jiwa.
Baca Juga: Jepang Hancurkan Tunisia 4-0, Samurai Biru Selangkah Lagi ke Babak 16 Besar
Adapun di Kampung Ciburial, Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, sebanyak 137 KK atau 443 jiwa turut terdampak kekeringan dan kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
Secara keseluruhan, kekeringan tersebut berdampak kepada sekitar 412 kepala keluarga (KK) atau 1.450 jiwa. Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD telah mendistribusikan sebanyak 20 ribu liter air bersih menggunakan empat mobil tangki.
Meski baru tiga desa yang terdampak, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat musim kemarau baru memasuki tahap awal.
“Kami terus tetap bersiaga karena kelihatannya ini baru awal kekeringan, jadi insyaallah kami sudah bersiap untuk menanggulanginya,” ujar Ade kepada Radar Bogor, Minggu, 21 Juni 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau di Kabupaten Bogor diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Kalau Agustus menjadi puncaknya, biasanya akan berakhir sekitar bulan Oktober,” ungkapnya.
Ade menuturkan, musim kemarau di Kabupaten Bogor mulai berlangsung sejak awal Juni, sejumlah wilayah yang kini mengalami kekeringan juga merupakan daerah yang hampir setiap tahun mengalami persoalan serupa.
“Ya, memang setiap kemarau pasti terjadi seperti itu, beberapa titik memang secara geologi tidak bisa kita atasi dengan melakukan pengeboran,” tuturnya.
Menurutnya, wilayah bagian timur dan barat Kabupaten Bogor menjadi kawasan yang paling rentan mengalami kesulitan air bersih saat kemarau. Bahkan, upaya penyediaan sumber air melalui sumur artesis pun mulai menghadapi keterbatasan.
“Solusinya memang sudah dibahas lama, kami berusaha memperluas jaringan pelayanan air bersih, baik secara komunal maupun oleh PDAM,” pungkasnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati