Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan air bagi lahan pertanian tetap terjaga, terutama menjelang musim kemarau 2026 di Kabupaten Bogor.
Ketua Relawan Irigasi Cikumpeni, Syarif Hidayat, mengatakan normalisasi saat ini difokuskan pada pembersihan sedimentasi yang menghalangi arus air menuju saluran irigasi.
“Atas nama kelompok tani yang ada di lima desa pengguna air Irigasi Cikumpeni, kami mengapresiasi tindakan cepat Bapak Bupati Bogor Rudy Susmanto dan perhatiannya kepada petani agar bisa bercocok tanam pada musim ini,” ujar Syarif, Minggu, 21 Juni 2026.
Menurutnya, beberapa bulan lalu aktivitas pertanian sempat terganggu akibat longsoran yang menghambat masuknya debit air ke area persawahan.
Kondisi tersebut berdampak pada lahan pertanian di lima desa, yakni Desa Sirnarasa, Desa Sirnasari, Desa Pasir Tanjung, Desa Tanjungsari, dan Desa Tanjungrasa.
Irigasi Cikumpeni sendiri memiliki panjang saluran sekitar 8,5 kilometer dan mengairi lahan pertanian seluas kurang lebih 790 hektare.
Kepala Bidang Irigasi dan Sumber Daya Air (ISDA) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bogor, Ikhsan Adi Nugraha, menjelaskan pihaknya telah melakukan normalisasi sepanjang saluran Irigasi Cikumpeni untuk memastikan aliran air kembali lancar.
“Nanti pada anggaran parsial III yang akan dibuka, kami akan merapikan daerah-daerah rawan longsor yang berpotensi menutup aliran irigasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menegaskan bahwa normalisasi Irigasi Cikumpeni merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga ketahanan pangan dan mendukung produktivitas pertanian masyarakat.
Selain memperbaiki saluran irigasi, Pemkab Bogor juga menyiapkan sejumlah titik sumber air untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi kekeringan.
“Kami menyiapkan beberapa titik sumber air untuk mengantisipasi kekeringan, kami juga berkolaborasi dengan TNI, Polri, serta kelompok-kelompok masyarakat,” tuturnya. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati