Jalur tersebut itu bukan sekadar akses biasa. Bagi sebagian warga, terutama saat musim kemarau tiba, jalan tersebut menjadi penghubung menuju sumber air yang menopang kebutuhan sehari-hari.
Di tepi sungai, sejumlah warga tampak memanfaatkan aliran air untuk mandi, mencuci pakaian, membersihkan perabot dapur hingga mencuci kendaraan. Aktivitas itu menjadi pemandangan lazim ketika pasokan air dari sumur warga mulai berkurang.
Baca Juga: Satpol PP Kabupaten Bogor Segel Tower BTS di Desa Cikahuripan Klapanunggal
Ketua RT setempat, Anwar Sanusi, menuturkan bahwa Sungai Cileungsi memiliki peran penting bagi masyarakat di wilayahnya. Menurut dia, sungai tersebut menjadi alternatif utama ketika musim kemarau menyebabkan sumur-sumur warga mengering.
“Untuk terkait sungai ini biasanya dipergunakan oleh warga sekitar untuk mandi, cuci pakaian, perabot dapur, sama mencuci kendaraan seperti yang bisa dilihat saat ini,” ujar Anwar kepada Radar Bogor, Senin, 22 Juni 2026.
Ia menjelaskan, saat musim hujan aktivitas warga di sungai tidak terlalu ramai. Namun, ketika kemarau datang, kondisi berubah drastis karena banyak warga yang menggantungkan kebutuhan air pada aliran sungai tersebut.
“Kalau kemarau, biasanya warga pada ke sini, kalau musim hujan paling cuci kendaraan saja, jarang yang mandi di sini,” katanya.
Anwar mengungkapkan, wilayah tempat tinggalnya memiliki karakter tanah cadas yang menyulitkan pembangunan sumur bor. Akibatnya, ketika kemarau berlangsung lebih dari sepekan, banyak sumur warga mulai mengalami kekeringan.
“Di kampung kami itu kemarau hanya kisaran satu minggu saja, sumur sudah kering. Jadi kebanyakan warga menggunakan air sungai ini untuk mandi dan mencuci,” jelasnya.
Ketergantungan terhadap sungai tidak hanya dirasakan warga Desa Tarikolot, sedikitnya tiga desa memanfaatkan aliran Sungai Cileungsi sebagai sumber air alternatif.
“Yang menggunakan sungai ini kurang lebih tiga desa, yaitu Desa Gunungsari, Desa Tarikolot, dan Desa Citeureup,” jelasnya.
Untuk kebutuhan air minum, warga tidak menggunakan air sungai, mereka lebih memilih membeli air galon karena kualitas air sungai tidak layak untuk dikonsumsi.
Saat kemarau panjang, warga biasanya mendapatkan bantuan pasokan air bersih melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Indocement. Namun, warga masih harus mengambil air ke lokasi yang cukup jauh, yakni di pintu masuk kawasan perusahaan.
Karena itu, masyarakat berharap adanya solusi jangka panjang berupa penyediaan jaringan pipa atau sarana distribusi air bersih yang lebih dekat dengan permukiman warga.
“Kami sangat membutuhkan saluran pipa atau apapun itu yang penting bisa menyebrang melalui akses sungai ini, jadi tidak terlalu jauh harus mengambil ke pintu masuk Indocement,” tutur Anwar.
Di balik manfaatnya sebagai sumber kehidupan, Sungai Cileungsi juga menyimpan ancaman. Saat musim hujan tiba, debit air sungai dapat meningkat secara tiba-tiba dan membahayakan warga yang beraktivitas di sekitarnya, mengingat aliran sungai tersebut melewati jalan perbatasan dua desa.
“Sangat khawatir, kalau musim hujan dan hujan deras di Bogor, kali ini bisa besar sekali, sering memakan korban juga, jadi sangat mengkhawatirkan,” imbuhnya.
Meski begitu, hujan yang turun dalam dua hari terakhir membawa sedikit kelegaan bagi warga, air kembali mengisi sebagian sumur sehingga aktivitas di bantaran sungai tidak seramai sebelumnya.
Bagi warga di tiga desa tersebut, Sungai Cileungsi bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah. Sungai itu adalah tumpuan harapan saat kemarau datang, sekaligus pengingat bahwa kebutuhan air masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati