Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kemarau Meluas Meski Bogor Masih Hujan, Waspada Scabies

Septi Nulawam Harahap • Jumat, 26 Juni 2026 | 22:07 WIB
Wilayah Jawa Barat termasuk Bogor tengah menghadapi musim kemarau. (Dok. BMKG)
Wilayah Jawa Barat termasuk Bogor tengah menghadapi musim kemarau. (Dok. BMKG)

RADAR BOGOR - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim kemarau di wilayah Jawa Barat terus mengalami perkembangan. Hingga akhir Juni 2026, hampir setengah dari zona musim di provinsi tersebut telah memasuki periode kemarau.

Kepala Stasiun Meteorologi Citeko, Fathuri Syabani, menjelaskan bahwa sekitar 48 persen wilayah zona musim di Jawa Barat saat ini telah memasuki musim kemarau. Meski demikian, kondisi tersebut belum merata karena sebagian wilayah lainnya masih berada pada pola musim hujan.

Menurut Fathuri, kawasan Bogor dan daerah sekitarnya yang berada dalam satu zona musim masih berpotensi mengalami hujan meskipun secara kalender telah memasuki periode kemarau. Kondisi ini menunjukkan adanya variasi karakteristik cuaca di setiap wilayah.

Baca Juga: Kantor Kecamatan Gunung Sindur Bogor Mulai Dibangun, Target Rampung 6 Bulan

"Pada Juni 2026 ini, sekitar 48 persen wilayah Jawa Barat sudah memasuki musim kemarau, sementara 48 persen wilayah lainnya masih berada pada zona musim hujan," ujar Fathuri, Jumat, 26 Juni 2026.

Ia juga menyebutkan bahwa sekitar 48 persen wilayah Jawa Barat masih berada dalam zona musim hujan, sedangkan sekitar dua persen lainnya masuk dalam kategori wilayah dengan satu musim, termasuk Kota Bogor.

Di sisi lain, Kepala Puskesmas Cibulan, Kecamatan Cisarua, dr. Nurul Amalia, mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di kawasan Puncak dan Cisarua, agar lebih waspada terhadap berbagai penyakit yang biasanya meningkat saat terjadi peralihan musim.

Menurutnya, gangguan kesehatan seperti batuk, pilek, serta penyakit yang menyerang saluran pencernaan masih menjadi keluhan yang cukup sering ditemui di tengah perubahan kondisi cuaca.

Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap scabies, yaitu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit tersebut berpotensi lebih mudah menyebar apabila kebersihan lingkungan dan kebersihan diri kurang terjaga, terutama saat cuaca panas dan kering.

"Saat musim kemarau yang panas, kasus scabies perlu diwaspadai, penyakit ini sering dikaitkan dengan lingkungan yang berdebu dan kebersihan yang kurang terjaga," ungkap dr Nurul.

Nurul menjelaskan bahwa penderita scabies umumnya mengalami rasa gatal yang cukup hebat, terutama pada malam hari. Gejala lain yang sering muncul adalah bintik-bintik kecil berisi cairan pada permukaan kulit.

Ia menambahkan, bagian tubuh yang paling sering mengalami infeksi berada di sela-sela jari tangan maupun lipatan kulit. Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan diri dan lingkungan sebagai langkah pencegahan agar risiko penularan penyakit dapat diminimalkan.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
#Scabies #hujan #bogor #kemarau