RADAR BOGOR - Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Paroki Santo Andreas, Sukaraja, Kabupaten Bogor mengadakan misa syukur dalam rangka HUT WKRI ke-102, yang jatuh pada, Jumat, 26 Juni 2026.
Perayaan HUT WKRI ke-102, mengusung tema "Melanjutkan langkah harapan, merawat rahim kehidupan, demi mewujudkan perempuan berdaya dan anak terlindungi".
Misa syukur yang berlangsung di Taman doa Bumi Maria Sareng Para Rasul (BMSPR) dan dipimpin oleh Pastor Paroki Gereja Santo Andreas, RD Marselinus Wisnu Wardhana.
Dalam homilinya, Romo Marselinus Wisnu Wardhana menyampaikan rasa syukur, atas perayaan HUT WKRI yang ke-102.
Baca Juga: Bupati Bogor Terima Tanda Kehormatan dari Kerajaan dan Kesultanan Nusantara
"Kita merayakan pejiarahan, perjuangan, dan dedikasi seluruh anggota WKRI, yang telah menjadi tiang- tiang doa, dan aksi nyata di tengah gereja dan masyarakat," ujarnya dalam rilis yang diterima Radar Bogor.
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) menurutnya merupakan laskar-laskar kabar gembira, mampu membuktikan secara nyata pelayanan gereja yang dihidupi oleh Kristus.
Dalam kitab suci Allah memilih wanita untuk menjalani misi keselamatan, melalui cara-cara tidak terduga.
"Kita ingat peristiwa Ester yang berani bersuara demi bangsanya, serta Santa Maria (Bunda Yesus) dengan pernyataannya 'Aku ini hamba Tuhan' yang mengubah sejarah umat manusia," ungkapnya.
Selain kedua tokoh itu Romo Marselinus juga menyampaikan bahwa ada juga Maria Magdalena, wanita yang mengalami perubahan hidup, menjadi saksi kebangkitan Kristus sebagai Apostola Apostolorum ( bahasa latin - yang berarti Rasul bagi para Rasul).
Ia menyebut panggilan menjadi Anggota WKRI bukanlah panggilan pasif, semua dipanggil untuk menjadi saksi sukacita Injil, pembawa damai dengan perubahan di dalam keluarga maupun komunitas.
"Iman Katolik tidak boleh tersembunyi hanya di ruang sakristi atau di sekitar altar, iman musti berdampak pada transformasi sosial, politik, budaya, dan WKRI telah mewujudkan hal tersebut secara nyata, bergerak masuk ke ruang lingkup masyarakat dan gereja," ungkapnya.
Romo Marselinus juga menjelaskan bahwa Allah bekerja melalui tangan WKRI bukan sekedar pelengkap, melainkan rekan sekerja Allah yang menghadirkan wajah Allah yang penuh rahib, merawat kehidupan dan melawan ketidakadilan.
"Keadilan tanpa prestasi hanya membuat kekejaman secara nyata, dan belas kasih tanpa keadilan adalah upaya sia- sia," tambahnya.
Melalui misa syukur ini, gereja pun kembali menegaskan tiga peran sentral WKRI sebagai Soko Guru, yaitu WKRI sebagai pemimpin iman anak anak dalam keluarga, WKRI sebagai pemberdaya masyarakat dalam bidang sosial, ekonomi kreatif dan pelestarian lingkungan, dan Suara kenabian yaitu berani bersuara terhadap kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, perdagangan orang dewasa rentan, yang membutuhkan pengharapan dan uluran tangan kasih, serta ketimpangan sosial yang dialami oleh masyarakat.
Tak hanya itu juga memiliki keberanian dalam melawan batas dan menyentuh yang tersingkir yang mana Komitmen misi Yesus merupakan harapan bagi masyarakat, dan agar menjadi tangan yang menjamah kaum miskin dan yang tersingkir.
Sementara itu Ketua WKRI cabang Gereja Paroki Santo Andreas, Sukaraja, Bogor, Yuliana Erna Wea mengatakan usia 102 tahun merupakan perjalanan yang panjang dan penuh makna.
Selama lebih dari satu abad WKRI telah hadir sebagai organisasi perempuan katolik, yang berkomitmen untuk mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat.
"Melalui momentum perayaan HUT WKRI KE-102 ini mengajak kita semua, merefleksikan perjalanan pelayanan WKRI, mensyukuri karya Tuhan, sekaligus memperbaharui komitmen kita, untuk terus berkarya sesuai dengan visi dan misi organisasi," kata Yuliana Erna Wea.
"Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang beriman,tangguh, peduli, serta mampu menghadirkan kasih Kristus di tengah keluarga, gereja dan masyarakat," tuturnya.
Sejarah Singkat WKRI
Sementara itu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) adalah organisasi perempuan Katolik di Indonesia, yang bertujuan meningkatkan martabat perempuan, memperkuat kehidupan keluarga, serta berperan aktif dalam pembangunan masyarakat, berdasarkan nilai-nilai Kristiani dan semangat kebangsaan.
Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) didirikan pada 26 Juni 1924 di Yogyakarta. Pendiri WKRI adalah, R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat Darmaseputra, seorang bangsawan Yogyakarta , tokoh perempuan Katolik, sekaligus pelopor gerakan pemberdayaan perempuan.
Awalnya ia memprakarsai berdirinya perkumpulan Poesara Wanita Katholiek di Yogyakarta, yang kemudian berkembang menjadi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI).
Tujuan awalnya yakni meningkatkan pendidikan, kesejahteraan, dan martabat perempuan Katolik, terutama kaum buruh dan perempuan pribumi.
Editor : Eka Rahmawati