Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Asep Wahyuwijaya Tegaskan Regenerasi Petani Jadi Kunci Masa Depan Pangan Indonesia

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 4 Juli 2026 | 15:15 WIB
Anggota DPR RI, Asep Wahyuwijaya saat menghadiri Elang Agro Expo yang digelar PT Elang Mandiri Group di Gedung SBS, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/7/2026).
Anggota DPR RI, Asep Wahyuwijaya saat menghadiri Elang Agro Expo yang digelar PT Elang Mandiri Group di Gedung SBS, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/7/2026).

RADAR BOGOR - Regenerasi petani dinilai, menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa lagi ditunda jika Indonesia ingin menjaga ketahanan pangan di masa depan. 

Di tengah dominasi petani berusia lanjut, kehadiran generasi muda dinilai menjadi faktor penting untuk memastikan sektor pertanian tetap produktif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota DPR RI, Asep Wahyuwijaya saat menghadiri Elang Agro Expo yang digelar PT Elang Mandiri Group di Gedung SBS, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/7/2026).

Mayoritas Petani Berusia di Atas 40 Tahun

Dalam pemaparannya, kang AW (sapaan Asep Wahyuwijaya) mengungkapkan, struktur demografi petani Indonesia saat ini masih didominasi kelompok usia di atas 40 tahun. 

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena minat generasi muda untuk berkarier di sektor pertanian belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Baca Juga: 3 Rekomendasi Tempat Kuliner Populer di Gunung Putri Bogor

Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia mencapai 25,12 juta.

Dari jumlah tersebut, petani milenial berusia 19 hingga 39 tahun tercatat sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari total pelaku usaha pertanian.

Menurut kang AW, rendahnya minat anak muda tidak bisa semata-mata dianggap sebagai kurangnya kepedulian terhadap sektor pertanian. 

"Saat generasi muda menjauh dari pertanian, jangan buru-buru menyalahkan mereka," jelasnya.

Asep Wahyuwijaya menilai, generasi muda bersikap rasional dengan mempertimbangkan peluang memperoleh penghasilan yang layak, kemudahan akses permodalan, kepastian pasar, serta keberlangsungan usaha sebelum memutuskan terjun ke dunia pertanian.

Regenerasi Bukan Sekadar Pergantian Generasi

Kang AW menegaskan, regenerasi petani tidak boleh hanya dipahami sebagai pergantian petani senior kepada petani muda. 

Menurutnya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem agribisnis modern yang lebih kompetitif.

Baca Juga: Akhir Pekan Edukatif Bareng Si Kecil di Kebun Wisata Pasirmukti Bogor

Asep Wahyuwijaya menjelaskan, pertanian masa depan membutuhkan ekosistem yang saling terhubung, mulai dari proses budidaya, pengolahan hasil panen, pemasaran berbasis digital, penguatan koperasi, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah.

Bagi kang AW, generasi baru yang masuk ke sektor pertanian diharapkan mampu membawa inovasi sekaligus mengubah cara pandang bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen, tetapi juga merupakan sektor bisnis yang menjanjikan.

Digitalisasi Harus Menyentuh Seluruh Rantai Pertanian

Lebih lanjut, Asep Wahyuwijaya menilai digitalisasi menjadi salah satu faktor penting untuk menarik minat generasi muda. 

Namun, ia mengingatkan bahwa penerapan teknologi tidak cukup hanya sebatas promosi produk melalui media sosial.

Menurut kang AW, digitalisasi harus diterapkan secara menyeluruh mulai dari proses produksi, distribusi, pemasaran, hingga pengelolaan usaha tani agar sektor pertanian mampu berkembang secara efisien dan berdaya saing tinggi.

Kabupaten Bogor Dinilai Punya Potensi Besar

Dalam kesempatan tersebut, Asep Wahyuwijaya juga menyoroti besarnya potensi Kabupaten Bogor sebagai kawasan percontohan regenerasi petani di Indonesia.

Kang AW menyebut, keberadaan lahan pertanian yang produktif, kelompok tani yang aktif, beragam komoditas unggulan, serta lokasi yang berdekatan dengan pasar Jabodetabek menjadi modal strategis untuk membangun sektor pertanian yang modern.

Selain itu, menurut Asep Wahyuwijaya, pengembangan pertanian di Kabupaten Bogor dapat diintegrasikan dengan sektor pariwisata, kuliner, UMKM, dan ekonomi kreatif sehingga mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Elang Agro Expo Jadi Ruang Kolaborasi

Kang AW memberikan, apresiasi terhadap penyelenggaraan Elang Agro Expo yang dinilainya menjadi ruang kolaborasi antara petani, generasi muda, pelaku usaha, pemerintah, hingga pasar.

Ia menilai, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang promosi produk pertanian, tetapi juga momentum untuk memperkenalkan wajah baru pertanian Indonesia yang lebih modern, kreatif, serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Baca Juga: Ayam Geprek Jenderal, Punya Inovasi Kuliner dengan Sensasi Mac and Cheese yang Melimpah

Di akhir pemaparannya, Asep Wahyuwijaya menegaskan, regenerasi petani harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, koperasi, perguruan tinggi, hingga komunitas.

Menurut kang AW, generasi muda tidak cukup hanya diajak kembali ke sektor pertanian.

Yang lebih penting adalah menghadirkan ekosistem pertanian yang mampu menjadi ruang bagi inovasi, pengembangan teknologi, kewirausahaan, dan peluang usaha yang menjanjikan bagi masa depan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#bogor #Asep Wahyuwijaya #pertanian #petani