RADAR BOGOR - Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama.
Di balik kesederhanaannya, pesantren menyimpan sejarah panjang penyebaran Islam di Nusantara sekaligus memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pesantren Miliki Sanad Keilmuan yang Bersambung kepada Rasulullah
Ketua Yayasan Darul Ulum Parung sekaligus pengurus inti FK KBIHU Kabupaten Bogor, Ikbal Farisi menegaskan, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran sangat penting dalam mentransformasikan ilmu agama dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Temui Para Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Kota Bogor, Ini Pesan Jenal Mutaqin
Menurut pria yang akrab disapa Bang Boy itu, pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga memiliki mata rantai keilmuan (sanad) yang tersambung hingga kepada Rasulullah SAW melalui para ulama.
"Pesantren merupakan lembaga pendidikan agama yang berafiliasi kepada para wali Allah di Indonesia. Sanad keilmuannya bersambung hingga Rasulullah SAW, sehingga menjadi bagian penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam," ujar Ikbal Farisi.
Jejak Sejarah Pesantren Bermula Sejak Abad ke-14
Bang Boy menjelaskan, keberadaan pondok pesantren di Indonesia telah tercatat sejak abad ke-14.
Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, salah satunya dalam Babad Demak, pesantren mulai berkembang pada masa Raden Rahmat atau Sunan Ampel, bertepatan dengan masa pemerintahan Prabu Kertawijaya dari Kerajaan Majapahit.
Ia mengatakan, perkembangan pesantren di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari proses akulturasi budaya yang berlangsung saat itu.
"Pesantren berkembang melalui pendekatan budaya yang dilakukan para wali, khususnya Sunan Ampel, sehingga ajaran Islam dapat diterima masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai yang sudah ada," jelasnya.
Berakar dari Tradisi Ashabus Suffah
Lebih lanjut, Ikbal Farisi menilai anggapan bahwa pesantren sepenuhnya mengadopsi sistem pendidikan Hindu tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, konsep pendidikan pesantren justru memiliki akar kuat dalam tradisi Islam sejak masa Rasulullah SAW.
Ia menyontohkan keberadaan Ashabus Suffah, yakni para sahabat Rasulullah yang tinggal di sekitar Masjid Nabawi untuk memperdalam ilmu agama.
Salah satu tokoh yang dikenal berasal dari kelompok tersebut adalah Abu Hurairah RA.
"Dalam sejarah Islam sudah dikenal tradisi pendidikan seperti Ashabus Suffah. Karena itu, Sunan Ampel lebih tepat disebut melakukan akulturasi budaya Islam di Nusantara, bukan sekadar mengadopsi budaya yang telah ada," katanya.
Menjadi Mata Rantai Penyebaran Ilmu Para Ulama
Bang Boy menambahkan, pesantren menjadi wadah penting dalam menjaga kesinambungan ilmu agama yang diwariskan Rasulullah SAW kepada para sahabat, kemudian diteruskan oleh para ulama hingga sampai kepada ulama Nusantara, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani.
Menurutnya, keberadaan pesantren menjadi fondasi lahirnya banyak ulama yang berperan dalam membangun peradaban Islam di Indonesia.
Jangan Lagi Memandang Pesantren Sebelah Mata
Di akhir penyampaiannya, Ikbal Farisi mengingatkan agar masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata keberadaan pondok pesantren.
Ia menilai, masih ada anggapan bahwa pesantren identik dengan lembaga pendidikan tradisional yang tertinggal.
Padahal, kata dia, pesantren memiliki kontribusi besar dalam sejarah bangsa, termasuk dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
"Jasa pesantren terhadap bangsa ini sangat besar. Selain mencetak ulama dan pemimpin umat, pesantren juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan. Karena itu, sudah saatnya masyarakat memberikan penghargaan yang layak terhadap keberadaan pesantren," pungkasnya. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim