Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Kandang Domba ke Ciliwung, Ubah Sungai Penuh Sampah Jadi Ruang Publik di Cibinong Bogor

Muhammad Ali • Rabu, 8 Juli 2026 | 23:22 WIB
Suasana pengunjung memadati Sungai Ciliwung di Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu, 8 Juli 2026. (Azis/Radar Bogor)
Suasana pengunjung memadati Sungai Ciliwung di Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu, 8 Juli 2026. (Azis/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Suara tawa anak-anak yang berenang di Sungai Ciliwung kini terdengar hampir setiap akhir pekan di Kampung Karadenan Kaum, RW 05, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor. Air sungai yang dahulu dipenuhi sampah perlahan kembali menjadi tempat bermain warga.

Tak banyak yang tahu, perubahan itu bermula dari sekelompok pemuda yang sama sekali tidak berniat membangun tempat wisata.

Di balik gerakan tersebut ada sosok Budi Sugiono (34), penggagas Komunitas Domba Tubing Jaga Sungai Rawat Bumi. Ia bercerita, semuanya berawal dari keinginannya merangkul anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan.

"Awal cerita itu saya tuh sebenarnya merangkul orang-orang yang tidak memiliki kegiatan, mereka tidak bekerja, itu kita arahkan untuk memelihara kambing, kita arahkan, kita didik pelan-pelan, kita cari pakan bersama," ujar Budi kepada Radar Bogor, Rabu, 8 Juli 2026.

Baca Juga: Warga Binaan Lapas Cibinong Bogor Bisa Cek Remisi dan Tanggal Bebas ‎Lewat Saung Kahiji

Setiap selesai mencari pakan, mereka biasa beristirahat di bantaran Sungai Ciliwung dan dari sanalah kegelisahan itu muncul.

"Hanya ketika kita lihat sungai ini semakin hari semakin banyak sampahnya, dari situ tergerak hati kita untuk bersih-bersih sungai," katanya.

Tanpa banyak rencana besar, mereka mulai memungut sampah sedikit demi sedikit. Aktivitas itu kemudian diberi nama Komunitas Domba Tubing Jaga Sungai Rawat Bumi, sebagai bentuk penghormatan terhadap awal mula komunitas yang lahir dari kegiatan beternak domba.

"Kegiatan kita sebenarnya bersih-bersih sungai, bukan wisata," tegasnya.

Namun, kerja sederhana yang dilakukan secara konsisten justru menghadirkan perubahan yang tak pernah mereka bayangkan.

Semakin bersih kondisi sungai, semakin banyak warga yang datang, mereka berdatangan tanpa di undang, sekadar ingin menikmati air yang jernih atau mengajak anak-anak bermain di sungai.

"Mungkin masyarakat merasa lingkungan sungai yang bersih, mereka berdatangan sendiri tanpa kita pinta," ucapnya.

Tak hanya warga sekitar Cibinong, pengunjung juga datang dari berbagai daerah seperti Citayam hingga Bekasi dan saat akhir pekan, kawasan bantaran sungai dipenuhi keluarga yang ingin menikmati suasana alami.

Meski begitu, Budi berkali-kali menegaskan bahwa komunitasnya tidak mengelola objek wisata.

Pada hari Senin hingga Jumat, anggota komunitas lebih banyak menghabiskan waktu membersihkan sungai. Sementara Sabtu dan Minggu, mereka mendampingi warga yang ingin berenang agar tetap aman.

"Silakan datang, hanya kegiatan kita berenang bersama masyarakat itu di hari Sabtu dan Minggu, yang tidak bisa berenang jangan berenang ke tengah," katanya.

Seluruh perlengkapan seperti pelampung yang tersedia juga diberikan secara cuma-cuma kepada pengunjung. Menurut Budi, fasilitas itu sebenarnya dibeli dari hasil iuran anggota untuk mendukung kegiatan pembersihan sungai.

"Silakan pakai fasilitas yang kita siapin, yang kita beli dari hasil kolekan komunitas dan pada hari Sabtu dan Minggu itu kita silakan pakai gratis," tuturnya.

Di balik sungai yang kini tampak bersih, perjuangan komunitas kecil itu masih jauh dari selesai.

Budi mengaku tantangan terbesar bukan soal tenaga ataupun biaya, melainkan rendahnya kesadaran masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai.

"Tantangan terberat, belum sadarnya masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai, itu tantangan terberat saya," bebernya.

Setiap hari, anggota komunitas masih mengumpulkan tumpukan sampah yang hanyut dari hulu, sampah yang tidak dapat diurai harus diangkut menggunakan mobil sampah.

Awalnya, biaya pengangkutan ditanggung secara swadaya melalui iuran anggota.

"Biasanya kita buang sampah, patungan dana komunitas, alhamdulillah sekarang ada bantuan dari DLH, mereka ambil, terima kasih dari DLH juga yang sudah support kegiatan kita," ungkapnya.

Komunitas yang baru diresmikan sekitar empat bulan lalu itu sebenarnya telah menjalankan aksi bersih-bersih sungai selama kurang lebih lima tahun. Ke depan, mereka ingin memperluas gerakan ke wilayah hulu agar semakin banyak bagian Sungai Ciliwung yang kembali bersih.

"Kalau memang di sini kita sudah steril, kita bertahap maju ke atas, kita ingin lebih banyak lagi yang peduli dengan lingkungan. Karena anggota kita terbatas, komunitas kita ini komunitas kecil," imbuhnya.

Budi menitipkan pesan kepada seluruh masyarakat agar berhenti menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

"Komunitas kami menghimbau untuk seluruh warga masyarakat, di mana pun berada, untuk tidak membuang sampah ke sungai. Sungai bukan tempat buang sampah, sungai itu warisan leluhur kita yang harus kita jaga demi keberlangsungan anak cucu kita," pesannya.

Ia berharap, anak cucu kelak tidak hanya mendengar cerita bahwa Ciliwung pernah bersih dan penuh ikan, tetapi benar-benar dapat menikmati sungai yang hidup dan terawat.

"Sebenarnya tidak harus jauh-jauh ke sini, di lingkungan masing-masing pun bisa. Kalau semua mau merawat sungainya, pasti bisa," tutupnya. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #ciliwung #cibinong #sampah