RADAR BOGOR – Sebelum memimpin Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Kepala Desa Firman Riansyah lebih dulu meniti karier sebagai tenaga profesional di bidang kesehatan.
Lulusan Politeknik Kesehatan II Jakarta Kementerian Kesehatan RI jurusan Radiologi itu menghabiskan sekitar 15 tahun bekerja di Departemen Radiologi sebuah rumah sakit swasta.
Firman mengaku, menjadi kepala desa bukanlah cita-cita yang telah direncanakan sejak awal. Keputusannya maju dalam Pemilihan Kepala Desa periode 2014–2020 berawal dari dorongan masyarakat yang menginginkan perubahan, terutama terkait kondisi infrastruktur jalan di Bojongkulur yang saat itu rusak parah.
Baca Juga: 644 Murid Baru MAN 1 Bogor Ikuti Pembekalan Pra Masa Ta'aruf
"Kami berpandangan, dengan memimpin di desa dapat mengelola anggaran untuk memperbaiki keadaan jalan rusak yang sangat membahayakan dan membuat warga tidak nyaman," ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat, 10 Juli 2026.
Sebelum terjun ke dunia pemerintahan desa, Firman aktif dalam berbagai kegiatan sosial bersama Forum Komunikasi Warga (Forkowa), ia terlibat dalam kegiatan pengecoran jalan secara swadaya menggunakan dana patungan masyarakat.
"Saya juga aktif mendirikan dan menjadi pengurus di yayasan yatim dan dhuafa di Bojongkulur. Selain itu, saya juga sedang menjabat sebagai Sekretaris RW," ucapnya.
Menurutnya, saat informasi mengenai pelaksanaan Pilkades muncul, rekan-rekannya mendorong untuk ikut berpartisipasi. Setelah melalui proses penjaringan bakal calon, Firman akhirnya terpilih menjadi kandidat dan dipercaya masyarakat memimpin Desa Bojongkulur.
"Tantangan terbesar setelah terpilih adalah bagaimana mengajak dan memberikan pemahaman kepada seluruh perangkat dan staf desa untuk bekerja dengan lebih baik sesuai harapan masyarakat," bebernya.
Selain itu, pengelolaan keuangan desa juga menjadi perhatian utama mengingat Bojongkulur memiliki wilayah yang padat dengan sekitar 220 RT, 41 RW, dan jumlah penduduk mencapai sekitar 50 ribu jiwa.
Pada periode pertama kepemimpinannya, Firman memprioritaskan pembangunan infrastruktur jalan, pembenahan tata kelola pemerintahan, serta peningkatan pelayanan publik yang mengedepankan empati kepada masyarakat.
Memasuki periode kedua (2021–2027) Firman dipercaya kembali memimpin desa, ia fokus pembangunan diperluas dengan memperjuangkan normalisasi Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas untuk mengurangi risiko banjir kiriman.
Selain itu, dibawah kepemimpinannya diperiode kedua, ia melanjutkan pembangunan jalan, drainase, tembok penahan tanah (TPT), median jalan, hingga pengembangan digitalisasi sistem informasi desa.
Firman juga mendorong pemberdayaan masyarakat melalui berbagai sektor, di bidang ekonomi dilakukan penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Sementara di bidang kepemudaan, pemerintah desa menggandeng Karang Taruna dan Komite Olahraga Desa.
Di bidang pemberdayaan perempuan dan keluarga melalui PKK dan Posyandu, sedangkan di bidang keagamaan melibatkan BKM/DMI, MUI, PRNU, PRM Muhammadiyah, serta berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya.
Firman menilai, pembangunan sarana umum menjadi program yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain itu, normalisasi sungai yang dimulai sejak tahun lalu kini terus berlanjut melalui pembangunan tanggul permanen dan pengerukan sungai.
Di sektor ekonomi, BUMDes telah mengembangkan sejumlah layanan seperti pasar desa, gerai Samsat kendaraan, hingga program ketahanan pangan.
Ia juga mendirikan PAUD Desa yang telah berjalan selama dua tahun dan memberikan layanan pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Inovasi berupa digitalisasi desa pun terus kami jalankan secara bertahap baik di pelayanan Adminduk maupun yang sedang dikerjakan yakni program Sistem Peringatan Dini Sungai Berbasis Teknologi Tepat Guna," tuturnya.
Pelibatan masyarakat, khususnya generasi muda, juga menjadi perhatian. Pemerintah desa menggandeng Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD), termasuk Karang Taruna, serta menyiapkan program pelatihan dan bantuan permodalan usaha bagi pemuda.
Baginya, capaian terbesar selama memimpin bukan hanya pembangunan fisik, melainkan terjaganya kerukunan masyarakat di tengah keberagaman suku, agama, budaya, pendidikan, ekonomi, hingga pandangan politik.
"Selama ini kami hidup rukun, guyub, dan saling menghargai satu dengan yang lainnya. Ini yang terus kami upayakan semaksimal mungkin," tuturnya.
Sementara itu beberapa minggu lalu (23/6), dibawah kepemimpinannya membawa Desa Bojongkulur meraih penghargaan predikat terbaik kedua dalam pengelolaan aset desa tingkat Kabupaten Bogor.
Ia perpesan keseluruh masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan persaudaraan, meningkatkan kepedulian dan solidaritas, menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, indah, aman dan nyaman. (Cr1)
Editor : Eka Rahmawati