RADAR BOGOR - Pergerakan tingkat hunian hotel di Kabupaten Bogor, memasuki fase baru pada periode Mei 2026.
Setelah sempat mencapai puncak pada musim liburan akhir tahun, okupansi hotel kini mengalami perlambatan.
Di tengah tren penurunan tersebut, hotel nonbintang justru mulai mencuri perhatian dengan kenaikan tingkat hunian yang cukup signifikan.
Baca Juga: Argentina Difavoritkan ke Semifinal Piala Dunia, Tapi Swiss Berpotensi Bikin Albiceleste Kebobolan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel gabungan pada Mei 2026 tercatat sebesar 28,15 persen.
Penurunan okupansi secara keseluruhan terutama dipengaruhi melemahnya tingkat hunian pada hotel berbintang, meskipun hotel nonbintang justru mencatatkan tren positif dibandingkan bulan sebelumnya.
Okupansi Hotel Turun Setelah Puncak Musim Liburan
BPS Kabupaten Bogor mencatat perkembangan TPK hotel sejak Desember 2024 hingga Mei 2026 menunjukkan pola yang fluktuatif.
Tingkat hunian hotel gabungan terus meningkat hingga mencapai titik tertinggi pada Desember 2025, yakni 45,43 persen.
Memasuki awal 2026, tingkat hunian mulai menurun secara bertahap hingga berada di angka 28,15 persen pada Mei 2026.
Baca Juga: Duit Korupsi Bupati Sukoharjo Dipakai Renovasi Rumah Termasuk Beli Innova
Kondisi ini mencerminkan berakhirnya periode liburan akhir tahun yang biasanya menjadi pendorong utama tingginya permintaan kamar hotel di Kabupaten Bogor.
Selain itu, normalisasi aktivitas masyarakat di luar musim liburan juga ikut memengaruhi penurunan tingkat okupansi selama beberapa bulan terakhir.
Hotel Berbintang Alami Penurunan Beruntun
Tren serupa juga terjadi pada kelompok hotel berbintang.
Selama periode pengamatan, hotel berbintang umumnya memiliki tingkat hunian lebih tinggi dibandingkan hotel nonbintang.
Namun, setelah mencapai puncak 53,20 persen pada Desember 2025, okupansinya terus mengalami penurunan.
TPK hotel berbintang tercatat sebesar 45,43 persen pada Januari 2026, turun menjadi 41,91 persen pada Februari, kembali melemah ke 34,36 persen pada Maret, sempat naik tipis menjadi 36,41 persen pada April, lalu kembali turun menjadi 28,52 persen pada Mei 2026.
Baca Juga: Gus Falah Geram Kasus Korupsi Eks Jampidsus, Desak Hukuman Maksimal hingga Hukuman Mati
Penurunan yang berlangsung hampir sepanjang awal tahun tersebut, mengindikasikan melemahnya permintaan terhadap layanan akomodasi hotel berbintang setelah berakhirnya musim liburan.
Hotel Nonbintang Tunjukkan Kebangkitan
Berbeda dengan hotel berbintang, hotel nonbintang justru memperlihatkan perkembangan yang lebih positif pada Mei 2026.
Sepanjang 2025, tingkat hunian hotel nonbintang bergerak di kisaran 16 hingga 23 persen.
Memasuki Maret 2026, okupansinya sempat turun menjadi 12,65 persen.
Namun kondisi itu mulai membaik pada April dengan capaian 14,13 persen, sebelum melonjak tajam menjadi 27,98 persen pada Mei 2026.
Lonjakan tersebut, membuat tingkat hunian hotel nonbintang hampir menyamai hotel berbintang yang pada periode sama mencatat okupansi 28,52 persen.
Pergeseran Tren Akomodasi Wisatawan
Kenaikan signifikan pada hotel nonbintang, menjadi sinyal adanya perubahan pola pilihan akomodasi wisatawan.
Di tengah perlambatan okupansi hotel secara keseluruhan, semakin banyak tamu yang memilih hotel nonbintang sebagai alternatif tempat menginap.
Baca Juga: DPR Bentuk Panja Kasus Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, Minta Polri, Kejagung dan TNI Tetap Solid
Fenomena ini dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha hotel nonbintang untuk memperkuat daya saing melalui peningkatan layanan dan kualitas fasilitas.
Sementara itu, bagi hotel berbintang, kondisi tersebut menjadi tantangan untuk menghadirkan strategi promosi dan inovasi agar kembali menarik minat wisatawan pada periode di luar musim liburan. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim