Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bukan Sekadar Bersih-bersih, Bogorku Bersih Dorong Warga Kelola Sampah dari Hulu

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 14 Juli 2026 | 21:46 WIB
Workshop Bogorku Bersih 2026 digelar Selasa, 14 Juli 2026. (Sofiansyah/Radar Bogor)
Workshop Bogorku Bersih 2026 digelar Selasa, 14 Juli 2026. (Sofiansyah/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Lomba Bogorku Bersih 2026 tidak sekadar menjadi ajang penilaian kebersihan lingkungan. Program tersebut diarahkan menjadi gerakan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor Rudy Mashudi mengatakan, persoalan sampah tidak bisa hanya mengandalkan penanganan di hilir. Perubahan harus dimulai dari kebiasaan masyarakat dalam memilah dan memanfaatkan sampah.

"Persoalan sampah harus diselesaikan dari hulu. Masyarakat perlu memahami bahwa sampah yang sudah dipilah memiliki nilai dan bisa dimanfaatkan kembali," kata Rudy saat Workshop Lomba Bogorku Bersih 2026 di Paseban Sri Baduga, Selasa, 14 Juli 2026.

Berdasarkan Neraca Pengelolaan Sampah Kota Bogor Tahun 2025, timbulan sampah di Kota Bogor mencapai 726,86 ton per hari. Sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan 501,46 ton per hari. Disusul perkantoran 81,1 ton, fasilitas publik 64,87 ton, pusat perniagaan 54,8 ton, dan pasar 11,51 ton per hari.

DLH mencatat pengurangan sampah berbasis masyarakat sudah mencapai 157,54 ton per hari. Upaya itu dilakukan melalui 117 Bank Sampah Unit, satu Bank Sampah Induk, 31 TPS 3R dan rumah kompos, budidaya maggot, pusat daur ulang, serta pengelolaan mandiri di kawasan.

Meski demikian, sebagian besar sampah masih diangkut ke tempat pembuangan akhir. Sebanyak 507 ton per hari dikirim ke TPA Galuga dan 2,39 ton ke TPA Nambo. Masih terdapat sekitar 32,82 ton sampah per hari yang belum terkelola.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah belum selesai. Karena itu kami mendorong masyarakat mulai memilah sampah dari rumah," ujar Rudy.

Menurutnya, DLH kini tidak lagi hanya mengampanyekan konsep 3R. Pemkot mulai memperkenalkan konsep 5R, yakni re-thinking, reduce, reuse, recycle, dan remove. Perubahan cara pandang menjadi langkah pertama yang harus dilakukan masyarakat.

"Paradigmanya harus berubah, sampah yang dipilah adalah sumber daya, bukan lagi limbah yang tidak berguna," ucapnya.

Rudy menjelaskan, masyarakat juga didorong memilah sampah ke dalam empat kelompok utama, yakni organik, anorganik, kertas, dan limbah B3 rumah tangga. Pemilahan tersebut menjadi fondasi pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Ia menambahkan, pengurangan sampah di tingkat rumah tangga akan mendukung pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) yang tengah dipersiapkan Pemkot Bogor. Menurutnya, teknologi di hilir tidak akan berjalan optimal tanpa perubahan perilaku masyarakat di hulu.

Dalam workshop tersebut, peserta juga mendapat pembekalan mengenai pembuatan lubang resapan biopori. Materi disampaikan Pegiat Gerakan Lubang Resapan Biopori, Gatut Susanta.

Ia mengatakan, gerakan biopori telah dilakukan di berbagai kawasan, mulai dari lingkungan permukiman, sekolah, hingga ruang publik. Program itu awalnya berjalan secara swadaya sebelum mendapat dukungan pemerintah, media, komunitas, dan sektor swasta.

Gatut menyebut timnya terus memantau sekitar 1.900 lubang biopori yang telah dibuat di berbagai wilayah. Pemantauan dilakukan untuk memastikan lubang tersebut tetap berfungsi dan dirawat oleh masyarakat.

Menurutnya, penilaian biopori dalam Lomba Bogorku Bersih memiliki bobot yang cukup besar. Namun, yang dinilai bukan hanya jumlah lubang, melainkan manfaatnya bagi kawasan.

"Penilaian tidak hanya melihat satu rumah yang memiliki biopori. Yang dilihat adalah efektivitas dalam satu RT atau satu kawasan," katanya.

Ia menjelaskan, kebutuhan jumlah biopori dihitung menggunakan indikator konservasi tanah dan air. Tim penilai juga akan memeriksa kondisi fisik lubang, mulai dari konstruksi, kedalaman, hingga kemampuannya menyerap air hujan.

Gatut menambahkan, bagian mulut lubang perlu diperkuat menggunakan semen atau pelindung agar tidak mudah longsor. Penutup juga diperlukan untuk mencegah hewan masuk ke dalam lubang.

"Tujuan akhirnya adalah meningkatkan daya resap air ke dalam tanah. Air masuk secara vertikal, lalu menyebar melalui pori-pori tanah," jelasnya.

Peserta workshop juga mendapat materi mengenai pemanfaatan pekarangan dari Guru Besar IPB University, Hadi Susilo yang menilai pekarangan dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.

Menurut Hadi, pekarangan mampu menghasilkan buah, sayuran, rempah, hingga sumber protein jika dikelola dengan baik. Sampah organik rumah tangga pun dapat diolah menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman.

"Pekarangan adalah kulkas terbesar di muka bumi. Banyak kebutuhan pangan keluarga bisa dipenuhi dari halaman rumah sendiri," katanya.

Ia menjelaskan, manfaat pekarangan tidak hanya menghasilkan pangan. Pepohonan juga menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, serta menjadi ruang rekreasi keluarga.

Hadi mengatakan, lahan sempit bukan menjadi hambatan. Pekarangan berukuran kecil tetap bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan, membuat kompos, hingga menerapkan panen air hujan yang dipadukan dengan lubang resapan biopori.

"Kalau pekarangan dikelola dengan baik, manfaatnya bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk lingkungan di sekitarnya," pungkasnya. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
bogorku bersih sampah