Produksi Jahe Nasional Turun, IPB Ungkap Biangnya

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Sabtu, 18 Juli 2026 | 21:27 WIB
ILUSTRASI: IPB mengungkapkan penurunan produksi jahe.
ILUSTRASI: IPB mengungkapkan penurunan produksi jahe.

RADAR BOGOR - Produksi jahe nasional mengalami penurunan sepanjang 2025. 

Kondisi ini, menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi ketersediaan pasokan dalam negeri hingga meningkatkan ketergantungan terhadap impor jika tidak segera diatasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jahe Indonesia turun dari 190,26 ribu ton pada 2024 menjadi 168,97 ribu ton pada 2025. 

Baca Juga: Tim Handball Putra SMAIT BBS Bogor Sabet Juara 1 Bandung Open Championship 2026

Penurunan tersebut juga diikuti menyusutnya luas panen dari 7,49 ribu hektare menjadi 6,51 ribu hektare pada periode yang sama.

Situasi ini, menunjukkan adanya tekanan pada sektor produksi komoditas jahe yang selama ini memiliki peran penting sebagai bahan pangan, rempah-rempah, hingga bahan baku industri obat tradisional dan minuman herbal.

IPB: Penurunan Produksi Berpotensi Mendorong Impor

Dosen Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Anisa Dwi Utami menilai, penurunan produksi jahe mencerminkan melemahnya sisi penawaran komoditas tersebut. 

Menurutnya, ketika produksi menurun sementara permintaan tetap tinggi bahkan terus meningkat, harga jahe di tingkat konsumen berpotensi mengalami kenaikan.

Baca Juga: Target Rampung 2027, Bendungan Cibeet dan Cijurey Jadi Andalan Bogor Hadapi Banjir hingga Krisis Air

Dikutip dari laman resmi IPB, ia menjelaskan, kondisi tersebut juga dapat memperbesar kebutuhan pasokan dari luar negeri apabila produksi domestik tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Anisa menegaskan, jahe merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Selain dikonsumsi sebagai bahan pangan dan rempah, jahe juga menjadi bahan baku utama bagi industri jamu, obat tradisional, hingga berbagai produk minuman herbal. 

Karena itu, penurunan produksinya perlu menjadi perhatian bersama.

Produksi Belum Mampu Penuhi Kebutuhan Sepanjang Tahun

Menurut Anisa, besarnya potensi produksi jahe di Indonesia belum sepenuhnya mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pasar secara berkelanjutan. 

Baca Juga: Hidden Gem Buat Healing di Bogor, Dhamanadi Boutique Resort Tawarkan Suasana Tenang

Ia menjelaskan, masih adanya impor jahe dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari ketidaksesuaian waktu panen dengan kebutuhan pasar sepanjang tahun, perbedaan standar kualitas yang dibutuhkan industri, hingga produktivitas dan kontinuitas pasokan dalam negeri yang masih terbatas.

Faktor-faktor tersebut mengakibatkan, industri masih membutuhkan pasokan tambahan dari luar negeri agar kebutuhan bahan baku tetap terpenuhi.

Skala Usaha Kecil Jadi Tantangan Petani Jahe

Anisa juga menyoroti tantangan utama yang dihadapi petani jahe saat ini tidak hanya berkaitan dengan teknik budi daya. 

Menurutnya, sebagian besar usaha tani jahe masih dikelola dalam skala kecil dan tersebar di berbagai daerah sehingga belum memiliki efisiensi yang optimal.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi relatif lebih tinggi, penerapan teknologi modern berjalan lambat, akses pembiayaan menjadi terbatas, serta posisi tawar petani dalam rantai pasok masih lemah.

Penguatan Kelembagaan Dinilai Jadi Solusi

Untuk meningkatkan produksi nasional, Anisa menilai transformasi usaha tani menjadi lebih terorganisasi merupakan langkah yang paling mendesak. 

Baca Juga: Polisi Bongkar Peredaran Narkoba di Gunung Putri Bogor, Tiga Orang Diamankan dengan Ribuan Pil

Ia menjelaskan, penguatan kelembagaan melalui koperasi, kelompok tani, maupun kemitraan dengan industri dapat mempermudah petani memperoleh benih unggul, akses teknologi, pembiayaan, hingga kepastian pasar.

Dengan sistem tersebut, produktivitas diharapkan meningkat secara berkelanjutan sekaligus memperkuat daya saing komoditas jahe nasional.

Lebih lanjut, Anisa menekankan, upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui pembatasan perdagangan. 

Menurutnya, yang lebih penting adalah membangun sistem agribisnis jahe yang efisien, terintegrasi, dan mampu memasok kebutuhan industri secara konsisten.

Baca Juga: Bali Vibes di Tengah Bogor, The Marytara Residence Jadi Pilihan Staycation Mulai Rp400 Ribuan

Ia menambahkan, pengembangan kawasan sentra produksi jahe, penguatan kelembagaan ekonomi petani, serta kemitraan yang kuat dengan industri pengolahan menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing agribisnis jahe Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis komoditas rempah. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
ipb jahe bogor institut pertanian bogor