Guru Besar IPB Ungkap Cara Selamatkan Kerbau dari Kepunahan di Indonesia

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 07:33 WIB
Semakin berkurang kerbau mengolah lahan sawah.
Semakin berkurang kerbau mengolah lahan sawah.

RADAR BOGOR - Di tengah pesatnya modernisasi sektor pertanian, keberadaan kerbau di Indonesia semakin terpinggirkan. 

Hewan yang selama ratusan tahun menjadi andalan petani sekaligus memiliki nilai budaya tinggi itu kini menghadapi ancaman penurunan populasi akibat perubahan pola pertanian, alih fungsi lahan, hingga berkurangnya minat generasi muda untuk beternak.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Ronny Rachman Noor menilai, upaya menjaga keberlangsungan populasi kerbau tidak cukup hanya melalui pendekatan peternakan. 

Baca Juga: Cirsi Tiger, Cireng Kekinian dengan Isian Melimpah yang Viral di Blok M

Menurutnya, pelestarian akan jauh lebih efektif apabila diperkuat melalui budaya, tradisi, dan keterlibatan masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Ronny dalam keterangannya yang dipublikasikan IPB University, saat membahas tantangan dan strategi pelestarian kerbau sebagai salah satu warisan hayati sekaligus budaya Indonesia.

Mekanisasi Pertanian Jadi Penyebab Utama Penurunan Populasi

Prof. Ronny menjelaskan, penggunaan alat-alat pertanian modern telah mengubah peran kerbau secara signifikan. 

Jika dahulu kerbau menjadi tenaga utama untuk mengolah sawah, kini fungsi tersebut hampir sepenuhnya digantikan oleh traktor.

Baca Juga: Jumbo Eatery: Resto Steak dengan Gebrakan Menu Baru dan Konsep Serba Jumbo di Bandung

Selain mekanisasi, perubahan fungsi lahan akibat urbanisasi juga mempersempit habitat alami kerbau, terutama kawasan persawahan dan rawa yang selama ini menjadi lingkungan hidupnya.

Ia menambahkan, semakin sedikit generasi muda yang tertarik mengembangkan usaha peternakan kerbau. 

Kondisi tersebut dipengaruhi anggapan, beternak kerbau kurang memberikan keuntungan ekonomi dibandingkan komoditas lain. 

Di sisi lain, kebijakan pemerintah selama ini dinilai lebih banyak mengarahkan pengembangan peternakan pada sapi potong dan unggas sehingga peluang usaha di sektor tersebut dianggap lebih menjanjikan.

Budaya Dinilai Menjadi Kunci Menyelamatkan Kerbau

Menurut Prof. Ronny, pelestarian kerbau perlu dilakukan dengan menghidupkan kembali tradisi dan budaya yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat.

Ia menilai, pengembangan teknologi peternakan, seperti inseminasi buatan dan program pemuliaan genetik, harus berjalan beriringan dengan revitalisasi nilai-nilai budaya agar kualitas serta keberagaman genetik kerbau tetap terjaga.

Baca Juga: Mozzellen Pizza: Pizza Panjang Lumer dengan Harga Kantong Pelajar di Kopo, Bandung

Selain itu, ia mendorong pengembangan produk turunan berbasis kerbau, mulai dari susu, daging, hingga kerajinan berbahan tanduk. 

Diversifikasi produk tersebut diyakini dapat meningkatkan nilai ekonomi sehingga usaha peternakan kerbau menjadi lebih menarik bagi masyarakat.

Di bidang pendidikan, Prof. Ronny menilai, pengenalan kerbau perlu dilakukan sejak usia dini melalui festival budaya, muatan kurikulum lokal, serta wisata edukasi yang mampu mengenalkan nilai sejarah dan budaya kerbau kepada generasi muda.

Ia juga mengingatkan, pentingnya memperluas kawasan konservasi, terutama di wilayah yang masih menjadi habitat kerbau rawa, agar populasinya tetap terjaga di alam.

Ikatan Budaya Dinilai Lebih Efektif Dibanding Pendekatan Lain

Prof. Ronny menjelaskan, pendekatan budaya memiliki kekuatan karena mampu membangun ikatan emosional masyarakat terhadap kerbau.

Menurutnya, kerbau bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian dari identitas sosial yang telah diwariskan turun-temurun. 

Tradisi adat mendorong masyarakat berpartisipasi secara sukarela dalam pelestarian sehingga rasa memiliki terhadap kerbau menjadi semakin kuat.

Ia juga menilai, berbagai ritual yang melibatkan kerbau tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi turut memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat melalui aktivitas wisata budaya dan ekonomi lokal.

Kerbau Telah Menjadi Bagian Sejarah Nusantara Selama Ribuan Tahun

Prof. Ronny mengungkapkan, kerbau yang berasal dari genus Bubalus memiliki sejarah panjang di kawasan Asia. 

Nenek moyangnya diperkirakan telah hidup sekitar satu hingga dua juta tahun lalu, sedangkan proses domestikasi dimulai sekitar 5.000 hingga 6.000 tahun lalu di Asia Selatan.

Dari wilayah tersebut, kerbau kemudian menyebar ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan dan migrasi hingga akhirnya menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Nusantara.

Baca Juga: Hujan 10 Gol, Inggris Kalahkan Prancis 6-4 di Piala Dunia 2026, Bukayo Saka Cetak Hattrick

Ia menjelaskan, sejak berabad-abad lalu kerbau telah dimanfaatkan masyarakat di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan sebagai tenaga pengolah sawah, simbol status sosial, hingga hewan yang memiliki peran penting dalam berbagai upacara adat.

Sebelum hadirnya mesin pertanian modern, kerbau menjadi tulang punggung aktivitas pertanian di berbagai daerah.

Beragam tradisi yang masih bertahan hingga kini, seperti ritual memandikan kerbau menjelang musim tanam, Rambu Solo di Tana Toraja, Kwangkey pada masyarakat Dayak, hingga simbol kerbau dalam budaya Minangkabau, menjadi bukti bahwa keberadaan hewan tersebut memiliki makna yang jauh melampaui nilai ekonominya.

Ancaman Penyakit Turut Membayangi Populasi Kerbau

Selain menghadapi tekanan akibat modernisasi, populasi kerbau juga rentan terserang berbagai penyakit.

Prof. Ronny menyebut, beberapa penyakit yang sering menyerang kerbau, di antaranya Septicaemia Epizootica (SE), Malignant Catarrhal Fever (MCF), Surra, Fasciolosis, dan Enterotoxemia.

Ia menjelaskan, kondisi lingkungan rawa, tingginya populasi serangga pembawa penyakit, serta sistem pemeliharaan yang belum optimal menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyebaran penyakit tersebut.

Di akhir keterangannya, Prof. Ronny menegaskan, kerbau merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang harus terus dijaga. 

Menurutnya, meskipun modernisasi telah mengubah peran kerbau dalam kehidupan masyarakat, pelestarian melalui budaya, tradisi, dan nilai-nilai simbolis merupakan langkah paling efektif agar hewan tersebut tetap menjadi bagian dari identitas bangsa sekaligus dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
ipb Ronny Rachman Noor kerbau bogor institut pertanian bogor