Pakar Genetika Ekologi IPB Bongkar Alasan Indonesia Bergantung Sapi Impor

Lucky Lukman Nul Hakim • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 08:07 WIB
Impor sapi ke Indonesia.
Impor sapi ke Indonesia.

RADAR BOGOR - Ketergantungan Indonesia terhadap impor sapi, kerbau, hingga kulit sapi masih menjadi tantangan besar bagi sektor peternakan nasional. 

Di tengah meningkatnya kebutuhan daging dan produk turunannya, produksi dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi permintaan masyarakat maupun industri.

Pakar Genetika Ekologi Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Ronny Rachman Noor menjelaskan, Indonesia hingga kini masih mengandalkan pasokan ternak dari Australia karena populasi dan produktivitas sapi lokal belum mencukupi kebutuhan nasional.

Baca Juga: Yume Yatai: Surga Kuliner Jepang di Mangga Besar dengan Ramen Free Refill

Penjelasan tersebut disampaikan Prof. Ronny dalam keterangannya yang dipublikasikan IPB University pada Juli 2026, terkait tantangan ketahanan pangan dan strategi mengurangi ketergantungan impor ternak.

Populasi Sapi Lokal Tumbuh Lambat

Menurut Prof. Ronny, salah satu penyebab utama tingginya impor sapi adalah pertumbuhan populasi ternak lokal yang relatif lambat. 

Beberapa jenis sapi lokal, seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole (PO), dinilai memiliki produktivitas yang belum mampu mengimbangi peningkatan konsumsi masyarakat.

Selain itu, distribusi ternak di Indonesia juga belum merata. 

Baca Juga: Cirsi Tiger, Cireng Kekinian dengan Isian Melimpah yang Viral di Blok M

Populasi sapi lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah.

Sedangkan, permintaan terbesar justru berasal dari kawasan padat penduduk seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Ia juga menilai, kebutuhan daging terus meningkat seiring bertambahnya jumlah masyarakat kelas menengah, berkembangnya industri perhotelan dan restoran, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang turut meningkatkan permintaan bahan pangan asal ternak.

Australia Menjadi Mitra Utama Impor Sapi Indonesia

Prof. Ronny mengungkapkan, Australia menjadi negara pemasok utama sapi hidup bagi Indonesia karena memiliki sejumlah keunggulan.

Selain jaraknya yang relatif dekat sehingga biaya logistik lebih efisien, Australia juga menawarkan harga yang kompetitif, yakni sekitar US$4 atau sekitar Rp71.000 per kilogram bobot hidup. 

Kualitas ternaknya, khususnya sapi Brahman Cross, juga dinilai unggul dan didukung sistem ekspor yang telah tertata dengan baik.

Baca Juga: Mozzellen Pizza: Pizza Panjang Lumer dengan Harga Kantong Pelajar di Kopo, Bandung

Ia memaparkan bahwa sepanjang 2025, impor sapi hidup dari Australia diperkirakan mencapai 583 ribu ekor dengan nilai perdagangan sekitar US$611,6 juta.

Tidak hanya memasok sapi hidup, Australia juga menguasai lebih dari 60 persen pangsa pasar daging sapi beku impor di Indonesia. 

Negara tersebut turut mengekspor jeroan sapi dengan nilai sekitar US$127 juta pada 2025.

Di sektor bahan baku industri, Indonesia juga mengimpor sekitar 1.031 ton kulit sapi dari Australia pada 2023 dengan nilai mencapai US$0,86 juta.

Prof. Ronny menjelaskan, kulit sapi asal Australia umumnya berasal dari sapi Brahman Cross dan sapi feedlot yang memiliki karakter tebal serta kualitas seragam. 

Karakteristik tersebut membuatnya banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri sepatu, tas, hingga furnitur. Selain kebutuhan industri, sebagian kulit sapi impor juga diolah menjadi produk pangan, seperti kerupuk kulit.

Indonesia Juga Masih Mengimpor Kerbau

Selain sapi, Indonesia juga masih mengimpor kerbau dari Australia.

Prof. Ronny menjelaskan bahwa Indonesia menyumbang sekitar 3,52 persen dari total impor kerbau dunia dan termasuk empat negara pengimpor terbesar secara global.

Sepanjang 2023, nilai impor kerbau hidup dari Northern Territory, Australia, mencapai sekitar US$3,54 juta. 

Volume impor tersebut bersifat fluktuatif dan umumnya meningkat menjelang Hari Raya Iduladha ketika kebutuhan hewan kurban mengalami lonjakan.

Ketergantungan Impor Dinilai Berisiko bagi Ekonomi Nasional

Di balik kemudahan memperoleh pasokan ternak dari Australia, Prof. Ronny mengingatkan adanya risiko ekonomi yang perlu diantisipasi.

Menurutnya, ketergantungan terhadap satu negara pemasok membuat Indonesia rentan terhadap perubahan nilai tukar, gangguan pasokan, maupun dinamika politik internasional.

Baca Juga: Update Bansos Tahap 3 2026, Persiapan Data DTSEN dan Rencana Sistem Koperasi Merah Putih

Ia menjelaskan, ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar Australia (AUD), biaya impor otomatis meningkat sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga daging di dalam negeri.

Karena itu, Prof. Ronny menilai, Indonesia perlu memperluas sumber impor dengan menggandeng negara lain seperti India, Brasil, Amerika Serikat, dan Selandia Baru. 

Diversifikasi pemasok dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas harga daging nasional.

Perkuat Industri Peternakan Dalam Negeri

Selain membuka alternatif negara pemasok, Prof. Ronny menekankan pentingnya memperkuat industri peternakan nasional agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap.

Ia mendorong pengembangan usaha penggemukan sapi (feedlot), peningkatan program pembiakan ternak, serta penguatan industri pengolahan kulit di dalam negeri.

Di sisi lain, pengelolaan risiko nilai tukar juga dinilai perlu dilakukan melalui penerapan strategi hedging dan kontrak perdagangan jangka panjang. 

Langkah tersebut diyakini mampu menjaga stabilitas harga daging, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kedaulatan ekonomi Indonesia ketika menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah maupun ketidakpastian kondisi global. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
ipb Ronny Rachman Noor kerbau bogor sapi