RADAR BOGOR – Kondisi bangunan MIS Al Barkah di Kampung Ciawi, Desa Sukawangi, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, dinilai semakin mengkhawatirkan.
Bangunan yang telah berusia puluhan tahun itu, bahkan pernah memakan korban ketika material atap MIS Al Barkah tiba-tiba roboh dan menimpa seorang siswa hingga mengalami luka di bagian kepala.
Kepala MIS Al Barkah, Sri Khairun Nisa Nurul Azizah, mengungkapkan insiden itu bukan dipicu hujan maupun gempa bumi, melainkan karena kondisi bangunan yang sudah rapuh dimakan usia.
"Di tahun 2024 pernah ada kejadian anak yang memang ketimpa atap, kepalanya terluka," ujarnya kepada Radar Bogor, Senin 20 Juli 2026.
Menurutnya, meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian itu menjadi peringatan bahwa kondisi bangunan sekolah sudah tidak lagi layak dan berpotensi membahayakan keselamatan warga madrasah.
Sri mengatakan, hingga kini kegiatan belajar mengajar tetap berjalan karena belum ada bangunan pengganti.
Baca Juga: bjb Hadirkan Promo Tiket Tangerang 10K 2026, Cukup Menabung Bisa Ikut Ajang Lari Bergengsi
Namun, rasa khawatir terus menghantui guru dan siswa setiap kali berada di dalam ruang kelas.
"Saya ingin mendapatkan bantuan, baik dari pihak pemerintah ataupun donatur, agar KBM di madrasah kita ini bisa berjalan dengan semestinya," tuturnya.
Sementara itu, siswi kelas VI MIS Al Barkah, Annisa Faiha Novia, mengaku tidak bisa belajar dengan tenang karena takut bangunan sekolah sewaktu-waktu ambruk.
"Kadang saya merasa takut adanya tembok yang sudah seperti ini, takutnya nanti kita sedang belajar ambruk, kadang kalau kita belajar terus hujan atapnya bocor-bocor," ucapnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat konsentrasi belajar siswa sering terganggu, terutama ketika hujan turun dan air masuk ke dalam ruang kelas.
"Harapan saya sekolah ini bisa mendapat bantuan dari pemerintah dan bisa direnovasi,s supaya bisa belajar dengan nyaman," tutupnya.
Sekedar informasi, MIS Al Barkah berdiri sejak 1964, terakhir kali direhabilitasi pada 1990. Saat ini, madrasah memiliki 150 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar dengan 10 tenaga pendidik.
Namun, sekolah hanya memiliki lima ruang kelas sehingga satu ruangan harus disekat untuk digunakan dua kelas.
Baca Juga: LRT Jakarta Velodrome–Manggarai Segera Beroperasi, Terintegrasi dengan KRL dan Transjakarta
Selain itu, kondisi bangunan mengalami kerusakan berat, mulai dari dinding yang retak dan mulai miring, lantai yang sebagian masih berupa plester, hingga atap yang kerap bocor saat hujan.
Pihak sekolah mengaku telah berulang kali mengajukan bantuan kepada pemerintah melalui berbagai program, termasuk SIM Sarpras, SIPD, hingga proposal CSR perusahaan. Namun hingga kini, belum ada bantuan yang terealisasi.
Mereka berharap rehabilitasi segera dilakukan agar para siswa dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan terbebas dari ancaman bangunan yang sewaktu-waktu bisa roboh. (cr1)
Editor : Yosep Awaludin