RADAR BOGOR – AAS LC IPB bersama Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University menggelar program MSMEs (Micro, Small and Medium Enterprises) Development di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.
Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha mikro agar memiliki daya saing yang lebih kuat melalui pendampingan yang berkelanjutan.
Mengusung tema "Menuju Usaha yang Berkembang dan Berdaya Saing", kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa dalam mendorong penguatan sektor usaha mikro di pedesaan, mulai dari peningkatan kualitas produk hingga perluasan akses pasar.
Program ini merupakan bagian dari Village Concept Project (VCP), sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan IAAS Indonesia dengan fokus pada pembangunan desa berbasis pertanian dan keberlanjutan.
Melalui VCP, IAAS LC IPB berupaya menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi desa melalui pengembangan usaha mikro.
Pelaksanaan program melibatkan Cut Azhirah Apriadina selaku Local Committee Director IAAS LC IPB, Alya Dwi Fatma sebagai Executive Secretary.
Baca Juga: Bukan Cuma Makan, di Pizza Marzano Pajajaran Bogor Bisa Bikin Pizza Sendiri dari Nol
Kemudian Diandra Alifah Malik selaku Coordinator of Project Department, Maulana Ghufron Nur Rafif sebagai Coordinator of Village Concept Project (VCP).
Muhamad Ida Bagus Raihan Bagaskoro dan Yudhis sebagai Agents of MSMEs Development, serta Nosiana Fitri Nurhalisa dari Project Department.
Desa Cinangka dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena memiliki potensi ekonomi yang besar.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 14 ribu jiwa, desa ini memiliki banyak pelaku usaha di sektor kuliner, kerajinan, dan berbagai bidang usaha mikro lainnya.
Meski demikian, sebagian besar UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti belum lengkapnya legalitas usaha, desain kemasan yang kurang menarik, hingga keterbatasan dalam memasarkan produk.
Melihat kondisi tersebut, IAAS LC IPB bersama LPA2I IPB University menghadirkan program pendampingan yang tidak hanya memberikan materi edukasi, tetapi juga pendampingan langsung agar pelaku usaha mampu mengembangkan bisnisnya secara lebih profesional.
LPA2I merupakan lembaga resmi di bawah IPB University yang bergerak di bidang inkubasi bisnis, hilirisasi hasil riset, serta percepatan inovasi dan kewirausahaan.
Dalam program ini, LPA2I mendampingi UMKM agar memenuhi standar legalitas usaha dan kualitas produk sehingga lebih siap bersaing di pasar.
Rangkaian kegiatan diawali pada April 2026 melalui proses pendataan dan penyaringan (screening) pelaku UMKM.
Tahapan ini bertujuan memetakan kondisi usaha, potensi pengembangan, serta kebutuhan masing-masing pelaku usaha sebagai dasar penyusunan program pendampingan.
Baca Juga: Hyundai Boulder Concept Tampil Garang, SUV Ladder Frame Penantang Jeep dan Ford di Dunia Off-Road
Selanjutnya, peserta mengikuti dua workshop yang dilaksanakan pada 15 Mei dan 29 Mei 2026.
Dalam kegiatan tersebut, para pelaku UMKM mendapatkan pembekalan mengenai strategi pengembangan usaha, peningkatan kualitas produk, serta langkah-langkah meningkatkan daya saing di pasar.
Pendampingan kemudian berlanjut pada periode Juni hingga Agustus 2026 dengan fokus pada pengurusan legalitas usaha dan produk.
Peserta memperoleh asistensi dalam penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Halal, serta Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Legalitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus membuka peluang produk UMKM Desa Cinangka untuk menembus pasar yang lebih luas.
Selain pendampingan legalitas, program ini juga menyediakan layanan pembuatan desain kemasan produk secara gratis.
Pembaruan desain kemasan menjadi salah satu perhatian utama karena dinilai mampu meningkatkan nilai jual sekaligus memperkuat identitas produk di mata konsumen.
Tidak hanya itu, IAAS LC IPB dan LPA2I juga membantu pelaku usaha memperluas jaringan pemasaran melalui pemanfaatan media digital dan strategi pemasaran yang lebih efektif sehingga produk-produk UMKM memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Seluruh rangkaian pendampingan dijadwalkan berlangsung hingga November 2026.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa program MSMEs Development tidak hanya berfokus pada kegiatan jangka pendek, tetapi mengedepankan proses pemberdayaan yang berkesinambungan.
Baca Juga: Kasus Korupsi RSUD Bogor Utara, LSM PRB Nilai Penetapan Tersangka Belum Menyentuh Aktor Utama
Melalui pendampingan secara bertahap, pelaku UMKM diharapkan mampu mengembangkan usaha secara mandiri, meningkatkan kualitas serta daya saing produk, dan memperkuat perekonomian masyarakat Desa Cinangka.
Kolaborasi antara organisasi mahasiswa IAAS LC IPB dan LPA2I IPB University ini menjadi bukti sinergi perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mendukung pembangunan desa berbasis kewirausahaan.
Program tersebut diharapkan mampu melahirkan UMKM yang lebih adaptif, memiliki legalitas usaha yang lengkap, kemasan yang lebih kompetitif.
Serta akses pasar yang semakin luas sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Desa Cinangka secara berkelanjutan. (***)
Editor : Yosep Awaludin