Perselingkuhan Tak Hanya Hancurkan Rumah Tangga, Psikolog: Anak Bisa Trauma hingga Depresi

Abilly Muhamad • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 15:03 WIB
Psikolog RSUD Bakti Padjajaran, Niko Puri Diyanti memaparkan soal kasus perselingkuhan.
Psikolog RSUD Bakti Padjajaran, Niko Puri Diyanti memaparkan soal kasus perselingkuhan.

RADAR BOGOR  – Kasus perselingkuhan dalam rumah tangga masih menjadi persoalan serius yang berdampak luas, tidak hanya pada hubungan suami istri, tetapi juga terhadap kesehatan mental seluruh anggota keluarga.

Psikolog RSUD Bakti Pajajaran mencatat, konsultasi terkait perselingkuhan menjadi salah satu keluhan yang paling sering diterima dalam layanan psikologi.

Psikolog RSUD Bakti Pajajaran, Niko Puri Diyanti, mengatakan dalam beberapa waktu terakhir dirinya banyak menangani pasien yang datang dengan berbagai keluhan psikologis.

Seperti kecemasan, gangguan tidur, kelelahan mental (burnout), hingga konflik rumah tangga.

Dari berbagai kasus tersebut, persoalan perselingkuhan menjadi salah satu yang paling menonjol.

Menurut Niko, konflik dalam rumah tangga tidak selalu dipicu oleh hadirnya orang ketiga. Banyak pasangan mengalami keretakan karena merasa tidak dihargai atau tidak dipahami oleh pasangannya.

Baca Juga: Luka Modric Tetap di San Siro, AC Milan Siapkan Manuver Transfer Besar Berikutnya

"Tidak semua konflik rumah tangga berawal dari perselingkuhan. Ada pasangan yang merasa diabaikan, tidak didengar, atau tidak dihargai. Ketika kondisi seperti ini terus berlangsung tanpa komunikasi yang baik, konflik akan semakin besar. Karena itu, suami dan istri perlu belajar saling memahami kebutuhan emosional masing-masing," ujarnya, Jumat 24 Juli 2026.

Kasus Perselingkuhan Masih Sering Ditemui

Selain menangani konflik rumah tangga secara umum, Niko mengungkapkan bahwa konsultasi mengenai perselingkuhan juga cukup sering ia tangani.

Dalam satu bulan terakhir saja, ia menerima sekitar tiga hingga empat pasien yang menjalani konseling akibat persoalan perselingkuhan.

Beberapa di antaranya mengikuti terapi individu, sementara lainnya menjalani terapi bersama pasangan.

"Kalau dihitung selama setahun, kasus rumah tangga jumlahnya cukup banyak. Dalam kondisi normal biasanya ada minimal satu kasus setiap bulan. Namun bulan ini saja ada tiga pasien yang menjalani terapi individu dan satu pasangan yang mengikuti terapi bersama," jelasnya.

Beragam Faktor Pemicu Perselingkuhan

Niko menjelaskan bahwa penyebab perselingkuhan sangat beragam dan tidak bisa disamaratakan.

Baca Juga: Mau Cicipi Masakan Turki Autentik? Des and Dan Bintaro Sajikan Menu Khas Azerbaijan yang Menggugah Selera

Berdasarkan pengalaman menangani pasien, mayoritas yang datang berkonsultasi adalah perempuan yang menjadi korban perselingkuhan suami.

Ia menegaskan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk melakukan perselingkuhan. Namun, pasien yang datang kepadanya lebih banyak berasal dari pihak istri.

Menurutnya, beberapa faktor yang kerap memicu perselingkuhan antara lain kebiasaan berkomunikasi secara intens dengan lawan jenis, menganggap hubungan tersebut hanya sebatas teman.

Mencari tempat bercerita di luar pasangan, memiliki dorongan seksual yang tinggi, hingga ketidaknyamanan dalam rumah tangga, termasuk pernikahan yang terjadi karena perjodohan.

"Alasannya sangat beragam. Ada yang awalnya hanya sering mengobrol lewat pesan atau video call, ada yang sekadar mencari teman curhat, ada pula yang memang merasa tidak nyaman dengan kondisi rumah tangga. Dalam beberapa kasus, hubungan itu kemudian berkembang hingga terjadi hubungan yang lebih jauh. Jadi penyebabnya tidak hanya satu faktor," paparnya.

Korban Rentan Mengalami Trauma dan Depresi

Perselingkuhan, lanjut Niko, dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam, terutama bagi pasangan yang menjadi korban.

Baca Juga: Sering Angkut Muatan Berlebih? Bearing Roda Bisa Cepat Rusak, Ini Dampaknya pada Kendaraan

Korban sering kali mengalami trauma emosional, rasa cemas berlebihan, sulit mempercayai pasangan kembali, hingga mengalami gangguan tidur karena terus memikirkan kejadian yang dialaminya.

"Banyak istri yang mengaku setiap kali melihat suaminya langsung teringat pada perselingkuhan tersebut. Bahkan ketika menjalani hubungan suami istri, ingatan itu kembali muncul sehingga memengaruhi kondisi emosional mereka. Trauma semacam ini dapat berkembang menjadi kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, hingga depresi," katanya.

Menurutnya, apabila kondisi tersebut berlangsung lebih dari satu bulan tanpa penanganan yang tepat, risiko gangguan kesehatan mental akan semakin besar, terutama bagi ibu rumah tangga yang memiliki tekanan emosional lebih tinggi.

Korban sering kali merasa bingung menentukan pilihan, mengalami overthinking, serta kesulitan mengambil keputusan terkait masa depan rumah tangganya.

Suami dan Anak Juga Bisa Terdampak

Niko menambahkan, dampak psikologis tidak hanya dirasakan oleh pihak yang diselingkuhi.

Suami juga dapat mengalami tekanan mental ketika berhadapan dengan pasangan yang masih mengalami trauma.

Baca Juga: Malu Hamil di Luar Nikah, Ibu dari Bayi yang Ditemukan Tak Bernyawa di Ciparigi Bogor Jadi Tersangka

Perubahan emosi yang muncul secara tiba-tiba membuat pasangan kesulitan membangun kembali hubungan yang harmonis meski konflik telah dinyatakan selesai.

"Trauma tidak hilang dalam waktu singkat. Ketika bertemu dengan sumber stresnya, luka emosional bisa muncul kembali. Karena itu proses pemulihannya dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun," ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa anak juga menjadi pihak yang paling rentan terkena dampak konflik rumah tangga.

Ketika orang tua saling menyalahkan di hadapan anak atau menjadikan anak sebagai tempat mencurahkan kemarahan, kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan psikologis mereka.

Anak yang terus-menerus menyaksikan pertengkaran orang tua berisiko kehilangan rasa aman, menjadi apatis, mengalami kesulitan mengelola emosi, hingga mengalami depresi.

"Sering kali anak dijadikan tempat melampiaskan emosi oleh kedua orang tua. Awalnya mereka mungkin masih bisa memahami, tetapi jika terus terjadi setiap hari, anak akan merasa lelah secara emosional. Mereka bisa kehilangan kepercayaan diri, menjadi sangat agresif, atau justru menarik diri dari lingkungan," jelasnya.

Baca Juga: Amanda Manopo Bongkar Dugaan Penggelapan Rp3 Miliar hingga Teror Mistis, Kantongi Bukti CCTV

Komunikasi dan Bahasa Cinta Jadi Kunci

Menurut Niko, konflik dalam rumah tangga merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan tersebut dapat diminimalkan apabila pasangan mampu membangun komunikasi yang sehat serta memahami kebutuhan emosional masing-masing.

Ia menyebut persoalan ekonomi, komunikasi, dan perselingkuhan masih menjadi penyebab utama konflik dalam rumah tangga.

Karena itu, pasangan perlu memahami love language atau bahasa cinta satu sama lain agar hubungan tetap terjaga.

"Pernikahan adalah proses belajar sepanjang hidup. Selain kesiapan finansial dan mental, pasangan juga perlu memahami bahasa cinta masing-masing. Dengan saling mengenal kebutuhan emosional pasangan, potensi konflik dapat ditekan dan hubungan menjadi lebih harmonis," pungkasnya. (abl)

Editor : Yosep Awaludin
suami istri rumah tangga perselingkuhan