Sambut Ajakan Bupati Bogor, PPLI Perkuat Komitmen Lestarikan Alam dan Sejarah Malasari

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 13:50 WIB
PPLI menggelar rangkaian kegiatan diskusi dan napak tilas di Pendopo Bupati Bogor pertama di Desa Malasari, Nanggung. (Foto : PPLI)
PPLI menggelar rangkaian kegiatan diskusi dan napak tilas di Pendopo Bupati Bogor pertama di Desa Malasari, Nanggung. (Foto : PPLI)

RADAR BOGOR  - PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) menyambut baik ajakan Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam menjadikan Desa Malasari sebagai simbol kebangkitan sekaligus pengingat sejarah berdirinya Kabupaten Bogor. 

Dalam beberapa kesempatan, Rudy Susmanto menyebutkan bahwa Malasari tidak boleh tertinggal dalam pembangunan.

Dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa di Malasari, potensi tersebut harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pada Senin, 20 Juli 2026 lalu, PPLI menggelar rangkaian kegiatan diskusi dan napak tilas di Pendopo Bupati Bogor pertama di Desa Malasari, Nanggung.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, serta masyarakat setempat untuk mendiskusikan pentingnya menjaga kelestarian alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Kabupaten Bogor.

PPLI juga menyerahkan bibit pohon endemik Nirmala serta berbagai jenis pohon keras lainnya untuk ditanam di kawasan hutan dan pegunungan Malasari sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan dan menjaga sumber-sumber air.

Baca Juga: Persib Hadapi DPMM FC di Piala Presiden 2026, Maung Bandung Berpotensi Rotasi

Akademisi sekaligus pemerhati lingkungan, Associate Professor Dr. Yayan Sudrajat menegaskan, bahwa kelestarian hutan merupakan fondasi utama keberlangsungan kehidupan masyarakat. 

Bukan hanya menghasilkan oksigen, tetapi keberadaan hutan juga menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang.

Menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui penanaman pohon, tetapi juga harus dibarengi dengan pemetaan kondisi lingkungan secara berkala.

"Saya kira yang penting adalah mendata berapa banyak mata air yang masih berfungsi dan berapa yang sudah beralih fungsi. Itu menjadi dasar dalam menyusun langkah konservasi ke depan," ujar Yayan.

Sementara itu, Laboratory Manager PPLI Muhammad Yusuf Firdaus menegaskan, bahwa perusahaan memandang pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

"Kita ini hanya meminjam warisan alam dari generasi yang akan datang. Karena itu kita memiliki kewajiban menjaga dan mengembalikannya dalam kondisi yang baik," tegasnya.

Sejak 2024, kata Yusuf, PPLI secara konsisten menjalankan program penanaman pohon di berbagai wilayah Kabupaten Bogor. 

Namun demikian, keberhasilan rehabilitasi lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, melainkan juga dari keberhasilan merawat pohon hingga tumbuh besar.

"Kami berharap pohon-pohon yang ditanam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi benar-benar dirawat sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan," katanya.

Keturunan generasi keempat Kepala Desa Malasari pertama, Usep Malasari mengisahkan, Pendopo Bupati Bogor pertama merupakan saksi sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948.

Baca Juga: Menu Khas Rumahan, Resep Mie Nyemek Telur, Gurih Medok dengan Kuah Kental

Saat itu, Bupati Bogor pertama, Raden Ipik Gandamana memilih Malasari sebagai pusat pemerintahan darurat karena wilayah tersebut dinilai paling aman dari ancaman penjajah.

"Dulu saat Agresi Militer II tahun 1948, Pak Ipik Gandamana diamanahkan mempertahankan pemerintahan mulai dari Jasinga, Sukajaya hingga Malasari. Beliau memutuskan Malasari sebagai tempat yang paling aman," tutur Usep.

Saat ini, rumah tersebut masih menyimpan berbagai benda bersejarah, mulai dari bendera pusaka tahun 1948, meja kerja, hingga meja makan yang digunakan pada masa perjuangan.

Sebagai generasi penerus, Usep merasa memiliki tanggung jawab moral menjaga warisan sejarah tersebut.

Bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan sebagai bagian dari identitas Kabupaten Bogor.

"Saya diamanahkan orang tua bukan untuk mencari keuntungan. Alam ini harus dijaga agar pendopo dan sejarah Kabupaten Bogor tetap bisa dinikmati generasi sekarang maupun yang akan datang," pungkasnya. (cok)

Editor : Yosep Awaludin
bogor Rudy Susmanto malasari