Jembatan Wika Penghubung Gunung Putri dan Klapanunggal Bogor Ditutup, Ini Cara Sopir Angkot Agar Tetap Beroperasi

Muhammad Ali • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 23:26 WIB
Angkot saat ngetem di sisi Jembatan Wika atau Kedep, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. (Muhammad Ali/Radar Bogor)
Angkot saat ngetem di sisi Jembatan Wika atau Kedep, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. (Muhammad Ali/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Penutupan total Jembatan Kedep atau Jembatan Wika yang menghubungkan Kecamatan Gunung Putri dan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, membuat sopir angkutan kota (angkot) mengubah pola operasional mereka. 

Demi tetap melayani masyarakat, para sopir kini menerapkan sistem estafet penumpang dengan menurunkan penumpang di salah satu sisi jembatan, kemudian melanjutkan perjalanan setelah penumpang menyeberang melalui jalur sementara.

Starter angkot di kawasan Jembatan Wika, Andri, mengatakan penutupan akses utama tersebut memberikan dampak besar terhadap aktivitas angkutan umum, perubahan rute membuat operasional angkot tidak lagi berjalan seperti biasanya.

"Sehari-hari saya selalu tahu berapa puluh angkot yang keluar, perbedaannya sangat terasa, dampaknya sangat terasa," ujar Andri kepada Radar Bogor, Rabu, 29 Juli 2026.

Baca Juga: Warga Manfaatkan Jembatan Gantung Sementara Imbas Jembatan Wika Penghubung Gunung Putri dan Klapanunggal Bogor Ditutup

Ia menjelaskan, angkot dari arah Cileungsi menuju Citeureup, Cibinong, maupun Jagorawi kini hanya beroperasi sampai ujung Jembatan Wika. 

Selanjutnya, penumpang harus berjalan kaki melewati jembatan penyeberangan sementara sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan angkot yang telah menunggu di sisi seberang.

Kondisi tersebut membuat waktu tempuh perjalanan bertambah dan memaksa sebagian masyarakat mengubah jadwal keberangkatan agar tidak terlambat bekerja maupun bersekolah.

"Jadikan otomatis dari waktu-waktu itu sudah pasti terbuang, tapi mungkin mereka nyiasatin, biasa yang berangkat jam enam mungkin berangkat lebih awal kan gitu nyiasatin," ucapnya.

Selain itu, Andri mengungkapkan jumlah penumpang yang menggunakan jasa angkot juga mengalami penurunan sejak penutupan jembatan diberlakukan. 

Menurutnya, para sopir kini harus bersaing mendapatkan penumpang yang jumlahnya jauh berkurang dibandingkan sebelum proyek dimulai.

"Jelas ada penurunan, di sini sistemnya gak saling rebutan, siapa yang datang duluan dia yang jalan, benar-benar adu rezeki sekarang," imbuhnya.

Di lokasi tersebut, sekitar 25 hingga 30 angkot berjaga setiap hari untuk melayani penumpang yang melanjutkan perjalanan dari kedua sisi jembatan. Bahkan, ada sopir yang memilih menginap di sekitar lokasi karena hasil yang diperoleh belum mencukupi untuk kembali ke rumah.

"Kadang ada yang nginep, mungkin karena setorannya nggak cukup atau daripada habis buat bensin pulang, mending besok narik lagi dari sini," tuturnya.

Meski terdapat jalur alternatif, ia menilai seluruh trayek angkot telah memiliki lintasan masing-masing sehingga tidak memungkinkan untuk mengubah rute secara bebas karena berpotensi berbenturan dengan trayek lain.

Andri mengaku memahami bahwa penutupan Jembatan Wika merupakan bagian dari proyek rekonstruksi demi menghadirkan infrastruktur yang lebih baik. Namun, ia berharap pemerintah turut memberikan perhatian kepada para sopir angkot yang terdampak selama proses pembangunan berlangsung.

"Pemerintah pasti tahu dampaknya seperti apa buat sopir-sopir angkot, tolonglah kami yang merasakan langsung dampaknya," ucapnya.

Di tengah situasi tersebut, para sopir angkot juga turut membantu mengatur arus lalu lintas, khususnya pada jam sibuk pagi hari. Bersama warga sekitar, mereka bergotong royong mengurai kepadatan kendaraan di sekitar akses penyeberangan agar mobilitas masyarakat tetap berjalan lancar.

"Kalau pagi memang ramai. Teman-teman yang belum berangkat narik ikut turun bantu ngatur lalu lintas bareng sama warga, kita sama-sama bantu supaya nggak macet," pungkasnya.(Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
Jembatan Wika bogor Klapanunggal angkot Gunung Putri