Ngariung Series 4 Bapperida Kabupaten Bogor Bahas ‎Inovasi Berbasis Produk Unggulan Daerah

Abilly Muhamad • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 17:58 WIB
Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor  menggelar Ngobrol Gagasan dan Riset Ilmiah Unggulan (Ngariung) Series 4. (Tangkapan layar webinar)
Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor menggelar Ngobrol Gagasan dan Riset Ilmiah Unggulan (Ngariung) Series 4. (Tangkapan layar webinar)

RADAR BOGOR - Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor mengadakan sesi diskusi ngariung series 4.

‎Ngobrol Gagasan dan Riset Ilmiah Unggulan (Ngariung) Series 4 kali ini bertemakan "Kebijakan pengukuran klaster inovasi berbasis produk unggulan daerah dalam peningkatan daya saing yang berkelanjutan".

‎Kepala Bapperida Kabupaten Bogor, Bambam Setia Aji mengatakan webinar Ngariung ini merupakan series ke-4 dari 7 rangkaian yang akan berlangsung.

‎"Tema kali ini, kita akan membahas pengembangan klaster inovasi berbasis produk unggulan daerah," ujarnya, Kamis, 30 Juli 2026.

‎Tema ini, sangat penting bagi pemangku kebijakan di daerah atau lembaga di daerah masing-masing.

Baca Juga: Soal Wacana Penambahan TKD untuk Gaji ASN, Pemkot Bogor Surati Menkeu Purbaya

‎Ia juga menyebut, pada diskusi kali ini bisa dapat semakin adaptif mampu menterjemahkan tantangan-tantangan pembangunan daerah, baik di pusat, provinsi hingga daerah dengan melihat klaster inovasi secara nasional.

‎"Melalui tema ini diharapkan kita semua dapat membuka dan memukai langkah baru bagi pemerintah daerah untuk merespon isu-isu strategis dan aktual dalam merumuskan maupun melaksanakan kebijakan di tempatnya masing-masing," paparnya.

‎Ia juga berkomitmen, Bapperida Kabupaten Bogor terus mendorong dan mengajak seluruh stakeholder untuk meningkatkan pekerjaan, sehingga semakin berkualitas dalam akselerasi pembangunan secara berkelanjutan.

‎Dalam pembahasan diskusi kali ini, diisi oleh dua narasumber dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Indonesia.

‎Direktur Pengukuran dan Indikator Riset, Teknologi dan Inovasi BRIN, Khairul Rizal memaparkan bahwa, dalam tema yang kali ini dibahas, dirinya membuat sedikit lebih presisi meski bukan kebijakan, tetapi lebih pada metodologi dalam bentuk publikasi indeks daya saing daerah.

‎"Kami mengangkat beberapa metodologi untuk mengukur klaster inovasi berbasis produk unggulan yang mana ini mudah-mudahan bisa menginspirasi di Kabupaten Bogor dan stakeholder lainnya," ujarnya.

‎Klaster inovasi berbasis produk unggulan daerah, kata dia, jika di dalam BRIN biasa disebut pengukuran indikasi riset dan teknologi, melakukan pengukuran serta mengeluarkan beberapa indeks.

‎Ia juga menyampaikan bahwa, tantangan klaster inovasi ini juga telah dihimpun dari berbagai daerah. Sehingga, BRIN mengusulkan beberapa metodologi untuk menentukan produk unggulan.

‎"Nah kami banyak menggunakan berdasarkan data berbasis ekspor impor yang kita olah sedemikian rupa berdasarkan metodologi yang telah berkembang di literatur internasional juga dan kita adopsi ke level daerah," ungkapnya.

‎Adapun, kata dia, empat aktor klaster inovasi yakni, interaksi antara akademisi, pemerintah daerah, masyarakat dan lainnya yang harus berkolaborasi dengan pendekatan multi indikator.

‎"Semuanya harus saling bersinergi karna tidak ada inovasi yang sukses sendirian, harus kolaborasi," tuturnya.

‎"Kami usulkan ada 4 ini yang menjadi area ruang kerja kami, tentu yang paling utama kami usulkan adalah indeks daya saing daerah (IDSD), Icor, Ekonomi Complexity (ECI), Produk spaelce dan proximity," sambungnya.

‎Selain itu ia juga menyebut, dalam menentukan produk unggulan terdapat dua perspektif.

‎"Produk unggulan sering disebut adalah produk yang sudah melimpah ruah, kedua produk yang kuat mungkin sudah ada tapi belum dominan, masih kecil tapi berpotensi dikembangkan," ujarnya.

Sementara itu Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya menyatakan bahwa, Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang sangat dekat dengan Universitas Indonesia. Menurutnya, Kabupaten Bogor juga merupakan wilayah yang sangat luas.

‎Dalam diskusi ini untuk menjawab tema yang ada, ia mencontohkan seperti road map yang dimiliki kampus UI. Dalam road map tersebut diartikan memiliki pembangunan yang berkelanjutan dimulai sejak tahun 2015.

‎"Hingga saat ini ingin diarahkan menjadi agen pembangunan ekonomi bangsa, ini sangat erat dengan diskusi hari ini," ujarnya.

‎Ia menyatakan, dalam meningkatkan daya saing klaster inovasi unggulan daerah yang berdampak, terdapat dua hal seperti yang diterapkan Kampus Universitas Indonesia.

‎"Pertama meningkatkan jumlah dan kualitas dari pada star up bisnis, ke dua kita ingin melisensi kan jumlah produk yang kemudian berasal dari kampus yang berkolaborasi dengan industri maupun dengan pemerintah daerah kemudian dihilirisasikan," terangnya.

‎Oleh karena itu, jika suatu produk atau inovasi ingin di komersilkan, biasanya harus memulai dari riset pertama, prototyping hingga sampai dengan industri.

‎Ia juga menambahkan, Kampus Universitas Indonesia juga membuka bagi Pemkab Bogor jika ingin kolaborasi dalam meningkatkan pengetahuan pembahasan saat ini.

‎"Jadi Kabupaten Bogor ada partnership dengan kami, kami persilahkan dengan UI sangat welcome," tutupnya. (abl)

Editor : Eka Rahmawati
Ngariung bogor Bapperida