Warga Rumpin Bogor Ungkap Dampak Penutupan Tambang, Keluhkan Biaya Pendidikan Anak 

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 19:56 WIB
Kondisi jalan di Parung Panjang, Kabupaten Bogor setelah dilakukan perbaikan.
Ilustrasi: Kondisi di wilayah Parung Panjang, Kabupaten Bogor imbas penutupan tambang. (Dok. Pemprov Jabar)

RADAR BOGOR - Penutupan kegiatan pertambangan di wilayah Rumpin Kabupaten Bogor tak hanya berimbas pada sektor ekonomi, tetapi juga pendidikan warga setempat.

Terkini, seorang warga bernama Mad Soleh mengaku bahwa saat ini kesulitan membiayai pendidikan dua anaknya di jenjang perkuliahan.

Warga Kampung Cibeureum, Desa Sukasari, Rumpin itu merupakan salah satu pelaku usaha tambang yang kehilangan pendapatan imbas kebijakan penutupan kegiatan pertambangan di wilayah Rumpin, Cigudeg, dan Parung Panjang.

Baca Juga: Transparansi Seleksi Jabatan Pemkab Bogor Jadi Terobosan Baru, Yusfitriadi: Minimalkan Jual Beli Jabatan

"Saya tadinya kerja di Asosiasi Bahan Konstruksi Indonesia (ABKI) Rumpin bagian koordinator, perawatan dan penyiraman jalan ketika perusahaan belum ditutup," ungkapnya kepada wartawan.

Namun setelah adanya kebijakan penutupan kegiatan pertambangan, Mad Soleh harus kehilangan pekerjaannya tersebut.

Alhasil, ia pun harus kehilangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terutama untuk biaya kuliah kedua anaknya.

"Anak saya dua, yang satu kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya semester 7, yang satunya semester akhir di Unissula Semarang, saya kini kesulitan untuk bayaran semesternya," terangnya.

Bahkan, Mad Soleh sempat memberikan diri mengirim pesanke Wakil Bupati Bogor, Ade Ruhandi atau dikenal Jaro Ade untuk meminta bantuan.

Ia mengaku cukup mendesak karena khawatir anaknya putus kuliah imbas tidak ada biaya.

"Dampak penutupan tambang di Rumpin, untuk kepentingan pendidikan anak bangsa jadi sulit," tukasnya.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
rumpin bogor tambang