RADAR BOGOR - Belakangan ini media sosial diramaikan dengan tren mengompres ketiak menggunakan es batu.
Banyak warganet mengklaim cara tersebut mampu meredakan rasa cemas, overthinking, hingga membuat pikiran lebih tenang dalam waktu singkat.
Namun, benarkah metode sederhana itu efektif mengatasi gangguan kecemasan?
Menanggapi fenomena tersebut, psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, dr. Riati Sri Hartini, Sp.KJ., M.Sc., menegaskan, sensasi dingin memang dapat memberikan efek relaksasi pada tubuh.
Baca Juga: Kerja Keras Anak Petani Raih IPK 3,99, Jadi Lulusan Terbaik FEM IPB
Meski begitu, metode tersebut tidak dapat dijadikan terapi utama untuk mengatasi kecemasan ataupun overthinking.
Sensasi Dingin Hanya Membantu Menenangkan Tubuh
Menurut dr. Riati Sri Hartini, kompres dingin bekerja dengan merangsang sistem saraf parasimpatis, yaitu bagian dari sistem saraf yang berperan membantu tubuh memasuki kondisi lebih rileks setelah mengalami stres.
Selain itu, rasa dingin juga dapat mengalihkan perhatian seseorang dari pikiran yang berlebihan melalui teknik grounding, sehingga untuk sementara waktu tubuh terasa lebih tenang.
"Efeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking," jelas dr. Riati.
Ia menambahkan, hingga kini belum tersedia bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan kompres es di area ketiak mampu menyembuhkan atau mengobati gangguan kecemasan secara klinis.
Jangan Jadikan Kompres Es Sebagai Pengobatan Utama
Menurut dr. Riati, masyarakat perlu berhati-hati apabila menjadikan terapi dingin sebagai solusi utama dalam menghadapi masalah kesehatan mental.
Apabila rasa cemas muncul terus-menerus hingga mengganggu kualitas tidur, pekerjaan, hubungan sosial, maupun aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga kesehatan profesional.
Selain itu, penggunaan es yang ditempelkan langsung ke kulit dalam waktu terlalu lama juga memiliki risiko menimbulkan iritasi, bahkan cedera akibat suhu dingin atau cold burn.
Baca Juga: Sambut HUT ke-81 RI, Bupati Bogor Rudy Susmanto Ajak Warga Kibarkan Bendera Merah Putih di Rumah
Karena itu, kompres dingin sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai langkah sementara untuk membantu menenangkan diri, bukan sebagai pengganti terapi medis.
Teknik yang Terbukti Efektif Mengatasi Kecemasan
Dalam keterangannya, dr. Riati menjelaskan bahwa terdapat sejumlah metode yang telah didukung berbagai penelitian ilmiah untuk membantu mengurangi gejala kecemasan.
Beberapa di antaranya adalah latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, hingga teknik grounding yang dapat membantu seseorang mengendalikan respons tubuh terhadap stres.
"Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kecemasan masih terbatas. Sebaliknya, berbagai teknik yang telah didukung bukti ilmiah, seperti latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, dan grounding, terbukti mampu membantu menurunkan gejala kecemasan," ujarnya.
Ia juga menambahkan, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif hingga saat ini masih menjadi salah satu pendekatan psikoterapi yang paling efektif dalam menangani berbagai gangguan kecemasan.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Psikolog atau Psikiater?
Untuk menjaga kesehatan mental, dr. Riati menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, memenuhi kebutuhan tidur, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan informasi yang dapat memicu stres dan kecemasan.
Kebiasaan tersebut akan lebih optimal apabila dipadukan dengan latihan pernapasan, mindfulness, maupun teknik relaksasi secara rutin.
Menurutnya, apabila rasa cemas berlangsung selama beberapa minggu, semakin berat, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, masyarakat sebaiknya segera mencari bantuan profesional.
"Apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan," tutup dr. Riati.
Dengan demikian, tren mengompres ketiak menggunakan es memang dapat memberikan sensasi tenang sesaat, tetapi bukan solusi untuk mengatasi akar masalah kecemasan.
Baca Juga: Euforia Jelang HUT RI ke-81, Pedagang Bendera Musiman Menjamur di Kota Bogor
Penanganan yang tepat tetap memerlukan pendekatan berbasis bukti ilmiah serta pendampingan tenaga kesehatan apabila gejala terus berlanjut. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim