Kader Posyandu di Ciampea Bogor Belajar Bikin Nugget dan Bakso Ikan Bersama Dosen IPB

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 13:01 WIB
Pelatihan mengolah ikan nila menjadi produk pangan bernilai tambah di Ciampea Bogor. (Foto: Dosen IPB for Radar Bogor)
Pelatihan mengolah ikan nila menjadi produk pangan bernilai tambah di Ciampea Bogor. (Foto: Dosen IPB for Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Sebanyak 30 kader Posyandu Mawar di Desa Bojongrangkas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, mendapat pelatihan mengolah ikan nila menjadi produk pangan bernilai tambah.

Pelatihan yang digelar Tim Dosen Pulang Kampung (DPK) IPB University 2026 itu membekali peserta membuat nugget, bakso, dan otak-otak berbasis surimi.

Program bertajuk 'Penguatan Ketahanan Gizi Rumah Tangga melalui Pelatihan Pengolahan Produk Berbasis Surimi bagi Kader Posyandu Desa Bojongrangkas' itu, bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah hasil perikanan sekaligus memperkuat ketahanan gizi keluarga.

Kegiatan dipimpin Prof. Joko Santoso bersama tim dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan IPB University yang terdiri atas Prof. Wini Trilaksani, Prof. Uju, Dr. Wahyu Ramadhan, serta Cahyuning Isnaini.

Pelatihan juga melibatkan mahasiswa IPB dan Abdulla Suleiman Omar, mahasiswa internasional asal Tanzania.

Selama pelatihan, peserta menerima materi mengenai gizi, teknik penanganan ikan yang baik, proses pembuatan surimi, hingga praktik mengolah surimi ikan nila menjadi nugget, bakso, dan otak-otak.

Baca Juga: Let's Twist Again Hadir di Bogor, Roti Viral Bandung Kini Bisa Dinikmati di Bread Co Surya Kencana

Produk olahan tersebut dinilai memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan ikan yang dipasarkan dalam kondisi segar.

Prof. Joko Santoso mengatakan, tantangan pengembangan sektor perikanan saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi hasil perikanan.

"Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang sangat besar. Tantangannya saat ini adalah bagaimana hasil perikanan tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," ungkapnya.

Menurutnya melalui pelatihan berbasis surimi ini, mereka ingin mendorong hilirisasi hasil perikanan di tingkat masyarakat.

Hal itu membuat warga mampu meningkatkan konsumsi ikan, memperkuat ketahanan gizi rumah tangga, sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.

Ia menjelaskan, surimi merupakan produk antara berbasis protein ikan yang dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, seperti nugget, bakso, otak-otak, sosis, hingga makanan siap saji lainnya.

Pengolahan tersebut dinilai mampu memperpanjang umur simpan ikan sekaligus meningkatkan fleksibilitas pengembangan produk.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan produksi perikanan Indonesia pada 2024 mencapai 23,57 juta ton. Dari jumlah tersebut, produksi perikanan budidaya mencapai 15,75 juta ton.

Sementara itu, produksi ikan nila mencapai 1,56 juta ton sehingga menjadi salah satu komoditas air tawar terbesar di Indonesia.

Meski memiliki potensi besar, sebagian besar hasil budidaya masih dipasarkan dalam bentuk segar.

Baca Juga: Pengakuan Pahit Istri Dodi Kangen Band Terkait Badai Rumah Tangganya

Kondisi tersebut membuat nilai ekonomi yang diterima pelaku usaha dan masyarakat belum optimal.

Melalui pelatihan ini, IPB University mendorong masyarakat mampu mengolah hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi.

Program Dosen Pulang Kampung 2026 menjadi salah satu upaya IPB University mendukung penguatan ekonomi berbasis masyarakat.

Model pemberdayaan melalui pengolahan surimi diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah untuk mendukung hilirisasi perikanan, meningkatkan daya saing produk lokal, membuka peluang usaha, serta memperkuat pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
bogor ciampea ikan nila ipb university