Menkes Tekankan Pentingnya Skrining Kanker di Bogor Oncology Summit SWICC 2026

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 22:04 WIB
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin pada acara Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 di Sentul, Minggu, 2 Agustus 2026. (Septi N/Radar Bogor)
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin pada acara Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 di Sentul, Minggu, 2 Agustus 2026. (Septi N/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - Beban penyakit kanker di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan catatan Global Cancer Observatory (GCO) 2024, Indonesia memiliki lebih dari 1,13 juta kasus kanker, yang terdiri atas sekitar 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian.

Angka tersebut memperlihatkan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan kanker, pemeriksaan sejak dini, sekaligus memperluas akses terhadap layanan skrining.

Momentum satu tahun berdirinya Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) turut diperingati melalui Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 yang berlangsung di Sentul, Minggu, 2 Agustus 2026.

BOSS 2026 menjadi forum ilmiah tingkat nasional yang membahas pengembangan serta pemerataan akses layanan kanker terpadu, khususnya bagi masyarakat di kawasan Bogor Raya dan wilayah sekitarnya.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin hadir sebagai keynote speaker. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti pentingnya kerja sama berbagai sektor untuk memperkuat sistem pelayanan kanker di Indonesia.

Baca Juga: Mahasiswa Unpak Bogor Raih Juara II Business Plan Nasional di UPI, Inovasi Smart Tourism Curi Perhatian

Budi menilai deteksi dini merupakan salah satu faktor penting dalam menekan risiko kematian akibat kanker. Karena itu, langkah promotif dan preventif perlu terus diperkuat, termasuk dengan memperluas jangkauan pemeriksaan skrining sehingga penyakit dapat diketahui pada tahap lebih awal.

“Upaya promotif dan preventif harus diperkuat, termasuk memperluas akses skrining agar kanker dapat terdeteksi lebih awal,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan sambutannya di Sentul Bogor.

Presiden Director Sentra Medika Hospital Group, drg. Eddy Suharso, mengatakan keberadaan SWICC sebagai pusat layanan kanker terpadu di kawasan penyangga Jakarta merupakan bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan onkologi yang menyeluruh.

SWICC mengembangkan konsep One Stop Cancer Care, yang memungkinkan pasien memperoleh rangkaian layanan dalam satu sistem terintegrasi. Layanan tersebut mencakup edukasi kesehatan, deteksi dini, proses diagnosis, hingga penanganan atau terapi kanker.

Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani, menambahkan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai sarana pertukaran pengetahuan bagi tenaga medis. Forum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat koneksi dan kolaborasi antartenaga kesehatan.

Ia berharap perkembangan ilmu dan teknologi di bidang onkologi dapat terus diikuti sehingga penanganan pasien kanker di Indonesia semakin seragam, berkualitas, dan berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Dalam rangka memperingati satu tahun operasionalnya, SWICC juga menghadirkan program 500 skrining kanker gratis untuk masyarakat. Pemeriksaan tersebut meliputi sejumlah jenis kanker, di antaranya kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat.

Selain layanan skrining, SWICC mengembangkan kampanye edukasi bertajuk “Stronger in Awareness, Together in Detection”. Kampanye tersebut dilakukan melalui webinar berskala nasional serta seminar kesehatan yang mengangkat pentingnya pencegahan dan pemeriksaan kanker sedini mungkin.

SWICC berada di bawah Sentra Medika Hospital Group dan dikembangkan sebagai pusat layanan kanker terpadu untuk kawasan Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, serta Depok.

Berbagai fasilitas diagnostik tersedia, mulai dari CT Scan, MRI, mammografi, hingga pemeriksaan berbasis genetik. Sementara untuk penanganan, pasien dapat memperoleh layanan bedah onkologi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, serta terapi target.

Penanganan pasien dilakukan dengan pendekatan multidisiplin. Tim medis mempertimbangkan jenis kanker, tingkat stadium, serta kondisi klinis setiap pasien dalam menyusun rencana terapi yang sesuai.

Ke depan, SWICC berencana memperluas jaringan layanan kanker sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Upaya tersebut diarahkan agar pemeriksaan kanker dapat dilakukan lebih luas dan lebih awal.

Dengan penguatan akses skrining dan layanan yang terintegrasi, SWICC berharap jumlah pasien yang baru teridentifikasi ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut dapat ditekan serta peluang hidup pasien kanker di Bogor dan daerah sekitarnya semakin meningkat.

 

 

Data Global Cancer Observatory (GCO) 2024 mencatat jumlah penderita kanker di Indonesia mencapai lebih dari 1,13 juta kasus, dengan 474 ribu kasus baru dan lebih dari 283 ribu kematian.

Tingginya angka tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan, deteksi dini, serta akses terhadap layanan skrining kanker.

Memperingati satu tahun perjalanannya, Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) menggelar Bogor Oncology Summit SWICC (BOSS) 2026 di Sentul, Minggu (2/8/2026).

Forum ilmiah onkologi nasional yang menyoroti penguatan akses layanan kanker terpadu di wilayah Bogor Raya dan sekitarnya.

Kegiatan ini menghadirkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, sebagai keynote speaker yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan layanan kanker di Indonesia. 

Menurutnya, deteksi dini menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat kanker yang masih tinggi.

“Upaya promotif dan preventif harus diperkuat, termasuk memperluas akses skrining agar kanker dapat terdeteksi lebih awal,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya.

Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan dan deteksi dini kanker.

Presiden Director Sentra Medika Hospital Group, drg. Eddy Suharso menyampaikan, bahwa kehadiran pusat kanker terpadu SWICC di wilayah penyangga Jakarta menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan onkologi yang komprehensif. 

"Kami mengusung konsep One Stop Cancer Care, sehingga pasien dapat memperoleh layanan mulai dari edukasi, deteksi dini, diagnosis, hingga terapi dalam satu sistem terintegrasi," kata Eddy.

Sementara Ketua Panitia BOSS 2026, dr. Ronaningtyas Maharani menuturkan, kegiatan ini tidak hanya menjadi forum berbagi ilmu, tetapi juga memperkuat jejaring antar tenaga medis. 

"Kami ingin memastikan penanganan kanker di Indonesia semakin terstandarisasi dan berbasis perkembangan ilmu terbaru," jelasnya.

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan satu tahun, SWICC juga menjalankan program 500 skrining kanker gratis bagi masyarakat. Program ini mencakup pemeriksaan kanker payudara, serviks, hati, kolorektal, dan prostat sebagai upaya memperluas akses deteksi dini.

Kampanye edukasi bertajuk “Stronger in Awareness, Together in Detection” turut digencarkan melalui webinar nasional dan seminar kesehatan. 

Program ini ditujukan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai pentingnya pencegahan serta deteksi dini kanker.

SWICC yang berada di bawah naungan Sentra Medika Hospital Group merupakan pusat layanan kanker terpadu pertama di wilayah Bogor Raya, Ciawi, Sukabumi, dan Depok. 

Layanan yang tersedia mencakup pemeriksaan diagnostik seperti CT Scan, MRI, mammografi, hingga pemeriksaan berbasis genetik, serta terapi seperti bedah onkologi, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, dan terapi target.

Pendekatan multidisiplin diterapkan dalam setiap penanganan pasien, sehingga rencana terapi dapat disesuaikan dengan jenis kanker, stadium, dan kondisi klinis masing-masing individu.

Ke depan, SWICC menargetkan penguatan jejaring layanan kanker serta peningkatan kesadaran masyarakat agar deteksi dini dapat dilakukan lebih luas. 

Langkah ini diharapkan mampu menekan angka kasus kanker stadium lanjut serta meningkatkan harapan hidup pasien di wilayah Bogor dan sekitarnya.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
oncology bogor Summit menkes