RADAR BOGOR - Perkembangan industri perfilman dan media kreatif yang semakin dinamis, mendorong perguruan tinggi untuk terus menyesuaikan kualitas pembelajarannya.
Langkah itulah yang dilakukan Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) dengan melibatkan praktisi industri dalam penyusunan kurikulum.
Melalui forum diskusi kurikulum, program studi menghadirkan Reza B. Surianegara, produser film sekaligus sutradara, guna memberikan masukan mengenai kompetensi yang dibutuhkan industri kreatif saat ini.
Baca Juga: Honda NX500, Motor Adventure Touring Rp230 Juta dengan Mesin 471 cc dan Teknologi E-Clutch
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya UMBARA menghadirkan sistem pembelajaran yang tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu mencetak lulusan yang siap bekerja dan berkarya.
Industri Butuh Lulusan yang Tak Hanya Jago Teknis
Dalam diskusi tersebut, Reza B. Surianegara menjelaskan, tantangan industri kreatif saat ini menuntut lulusan memiliki kemampuan yang lebih komprehensif.
Menurutnya, penguasaan keterampilan teknis saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan di dunia profesional.
Ia menilai, mahasiswa perlu dibekali tiga kompetensi utama yang berjalan secara seimbang, yakni hard skills, soft skills, dan marketing skills.
Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan karya berkualitas, tetapi juga memiliki kemampuan membangun jejaring profesional serta memasarkan karya kepada publik maupun industri.
Selain kompetensi teknis, Reza menekankan pentingnya pembentukan karakter sebagai fondasi berkarya.
Menurutnya, insan kreatif perlu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam setiap proses produksi.
Ia menjelaskan, sifat Rasulullah SAW, yakni Siddiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh, layak diterapkan dalam dunia kreatif karena mampu membentuk pribadi yang profesional, bertanggung jawab, dan dipercaya ketika memasuki industri.
Pembelajaran Berbasis Praktik Jadi Fokus Pengembangan
Tidak hanya membahas kompetensi, Reza juga mengusulkan sejumlah pengembangan kurikulum agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri.
Salah satunya, melalui penguatan mata kuliah pada bidang film Islami, fotografi, dan videografi yang memanfaatkan teknologi yang mudah dijangkau mahasiswa.
Menurutnya, pendekatan Smartphone Photography dan Smartphone Videography dapat menjadi solusi agar keterbatasan peralatan tidak menghambat mahasiswa menghasilkan karya yang berkualitas.
Baca Juga: Mau Tukar Tambah Mobil di GIIAS 2026? OLXmobbi Siapkan Promo Cashback, Proses Kurang dari 1 Jam
Ia juga mendorong, penerapan metode Project-Based Learning dengan membentuk kelompok mahasiswa yang bekerja layaknya sebuah Production House (PH).
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa akan terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga publikasi karya sehingga memperoleh pengalaman yang mendekati kondisi industri sesungguhnya.
Selain itu, Reza menilai setiap mahasiswa perlu memiliki portofolio yang tersusun secara sistematis. Portofolio tersebut bukan hanya menjadi bukti kompetensi selama menempuh pendidikan, tetapi juga menjadi modal penting ketika memasuki dunia kerja.
UMBARA Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Industri
Sementara itu, Cahyo Wibowo, Ketua Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, mengatakan bahwa keterlibatan praktisi industri merupakan bagian penting dalam evaluasi dan penyempurnaan kurikulum.
Menurut Cahyo, pihaknya berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang mampu mengikuti perkembangan industri kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas Universitas Muhammadiyah Bogor Raya.
Ia menambahkan, berbagai masukan dari Reza B. Surianegara akan menjadi referensi dalam memperkuat pembelajaran berbasis praktik, pengembangan portofolio mahasiswa, hingga membangun ekosistem Creative Islamic yang menjadi ciri khas program studi.
Ke depan, Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media UMBARA akan terus memperluas kerja sama dengan rumah produksi, komunitas kreatif, praktisi profesional, dan berbagai mitra industri. Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih autentik sekaligus memperluas peluang mahasiswa memasuki dunia kerja.
Cahyo berharap, lulusan UMBARA nantinya tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman produksi, portofolio yang kuat, kemampuan berkolaborasi, jiwa kewirausahaan, serta karakter Islami yang menjadi bekal untuk berkontribusi di industri kreatif, baik di tingkat nasional maupun global.
Baca Juga: 13 Provinsi Ini Lagi Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan, Jawa Barat Masuk?
Melalui forum diskusi kurikulum ini, Program Studi Kajian Film, Televisi, dan Media Universitas Muhammadiyah Bogor Raya kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang inovatif, berbasis praktik, dan selaras dengan kebutuhan industri kreatif.
Berbagai rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi pijakan dalam penyempurnaan kurikulum agar mampu melahirkan lulusan yang adaptif, profesional, kreatif, serta berkarakter. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti