Kisah Nafi Annisa, Single Parent Tuna Wicara Berjuang Menopang Ekonomi Keluarga Lewat Lapak Sushi

Muhammad Ali • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:02 WIB
Nafi Annisa didampingi sang adik Hafshoh saat melayani pembeli di lapak sushi yang berada di Simpang Bambu Kuning, Desa Bojong Baru, Kecamatan Bojonggede, kabupaten Bogor. (Muhammad Ali/Radar Bogor)
Nafi Annisa didampingi sang adik Hafshoh saat melayani pembeli di lapak sushi yang berada di Simpang Bambu Kuning, Desa Bojong Baru, Kecamatan Bojonggede, kabupaten Bogor. (Muhammad Ali/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Menjelang senja, sebuah lapak sushi di Persimpangan Bambu Kuning tepatnya di samping Pos Lantas, Kampung Sawah Poncol, Desa Bojong Baru, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor mulai ramai didatangi pembeli. 

Di balik lapak jualan sederhana itu, Nafi Annisa (21) tampak cekatan menyiapkan pesanan, satu per satu sushi disusun rapi, sementara putra kecilnya, Fatih Alayyubi (2,5) tetap berada dalam gendongannya terkadang disimpan di tas obrok di bawah meja, pemandangan itu menjadi rutinitas yang dijalani Nafi setiap hari.

Nafi bukan hanya seorang pedagang sushi, ia adalah seorang ibu muda, single parent, sekaligus penyandang tuna wicara yang kini menjadi tulang punggung keluarga. 

Dari lapak sederhana itulah ia berusaha memenuhi kebutuhan putranya, membantu orang tua, sekaligus membiayai sekolah adiknya.

Baca Juga: Remaja di Tanah Baru Kota Bogor Berjenis Kelamin Ganda, Butuh Bantuan Biaya Pengobatan

Karena tidak dapat berkomunikasi secara lisan, kisah perjuangan Nafi disampaikan melalui adiknya, Hafshoh (14), yang membantu menerjemahkan bahasa isyarat selama di wawancara dengan Radar Bogor.

Menurut Hafshoh, kondisi keluarga membuat sang kakak harus memikul tanggung jawab besar. Ayah mereka tidak lagi dapat bekerja setelah mengalami stroke, sementara Hafshoh sendiri masih menempuh pendidikan di bangku kelas sembilan SMP.

"Dia tulang punggu keluarga dan aku kan masih sekolah terus ayahku belum bisa kerja karena ada musibah sakit struk," ujar Hafshoh menerjemahkan bahasa isyarat Nafi.

Selain memenuhi kebutuhan keluarga besarnya, Nafi juga harus mencukupi kebutuhan putra semata wayangnya, Fatih Alayyubi. Mulai dari susu hingga kebutuhan sehari-hari menjadi alasan baginya untuk terus membuka lapak setiap sore.

"Dia juga harus beli susu buat anaknya, jadi mau tidak mau dia harus jualan," kata Hafshoh.

Setiap hari, Nafi membuka lapaknya mulai pukul 17.00 hingga 22.00 WIB. Beragam menu sushi dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp2.000 hingga Rp8.000.

Di balik aktivitas berjualannya, Nafi juga menghadapi tantangan dalam berkomunikasi dengan pembeli. Karena tidak dapat berbicara, ia kerap mengalami kesalahpahaman dengan pelanggan.

"Kok cuek, kenapa ini nanya varian apa diem aja, kadang ada komenan kayak gitu," jelas Hafshof

Meski demikian, berbagai komentar negatif tidak membuat semangat Nafi surut dan tetap berjualan demi orang-orang yang bergantung kepadanya.

"Dia punya semangat buat membantu anaknya, membantu orang tua, terus buat aku sekolah," tutur Hafshoh menerjemahkan ungkapan sang kakak.

Bagi Nafi, lapak sushi itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, di sanalah ia menitipkan harapan agar putranya dapat tumbuh dengan baik, kedua orang tuanya tetap terpenuhi kebutuhannya, dan adiknya bisa terus melanjutkan pendidikan.

Di balik setiap potong sushi yang disajikan kepada pelanggan, tersimpan kisah tentang keteguhan seorang ibu muda yang tak menyerah pada keadaan. 

Sambil menggendong sang buah hati, Nafi terus berjualan dari sore hingga malam, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus berjuang demi keluarga. (Cr1)

Editor : Eka Rahmawati
Nafi Annisa single parent sushi bogor