Terbengkalai Sejak 2006, Stasiun Gunung Putri Bogor Kini Dijuluki Stasiun Hantu

Muhammad Ali • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 12:49 WIB
Pantauan Radar Bogor di lokasi Stasiun Gunung Putri yang kini dijuluki Stasiun Hantu di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jumat 7 Agustus 2026. (Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor)
Pantauan Radar Bogor di lokasi Stasiun Gunung Putri yang kini dijuluki Stasiun Hantu di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jumat 7 Agustus 2026. (Foto: Muhammad Ali/Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Sudah hampir dua dekade tidak melayani penumpang, Stasiun Gunung Putri di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, kini berubah menjadi bangunan tua yang terbengkalai. 

Dipenuhi semak belukar dan coretan vandalisme, Stasiun Gunung Putri yang berhenti beroperasi sejak 2006 itu, dikenal warga sekitar sebagai Stasiun Hantu karena suasananya yang sepi serta kisah-kisah kelam yang pernah terjadi.

Stasiun Gunung Putri dibangun pada 1997 bersamaan dengan pengembangan jalur lintas Nambo.

Bangunan ini sempat melayani perjalanan Kereta Rel Diesel (KRD) Nambo pada periode 1999 hingga 2006 sebelum akhirnya berhenti beroperasi akibat usia sarana kereta yang sudah tua.

Pantauan di lokasi, bangunan stasiun tampak tidak terawat, dinding dipenuhi vandalisme, cat mengelupas, dan rumput liar tumbuh menutupi sebagian bangunan, hingga mau sampah yang menyengat.

Meski area stasiun terbengkalai, jalur rel tersebut masih aktif dilintasi kereta dari arah Stasiun Cibinong menuju Stasiun Nambo.

Baca Juga: Perbedaan Mesin 2 Tak dan 4 Tak : Cara Kerja, Plus Minus hingga Teknologi Terbarunya

Sholihah (48), warga yang tinggal di sekitar stasiun, mengaku masih mengingat suasana ketika Stasiun Gunung Putri menjadi tempat naik turun penumpang.

"Terakhir beroperasi 2006. Dulu aktif, ramai. Kalau masih aktif, saya juga jualan kopi di sini," ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat 7 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, julukan Stasiun Hantu muncul karena kawasan tersebut sudah lama kosong dan pernah menjadi lokasi sejumlah peristiwa kriminal yang membekas di ingatan warga.

"Iya, benar. Di Stasiun Gunung Putri ini pernah ada pembunuhan, mutilasi, sama bunuh diri," katanya.

Ia menuturkan, salah satu kasus pembunuhan terjadi ketika kawasan sekitar rel masih menjadi lokasi pasar dadakan setiap hari Jumat. Kini, pasar tersebut sudah tidak lagi ada.

Meski demikian, Sholihah berharap pemerintah segera merealisasikan rencana reaktivasi Stasiun Gunung Putri. 

Menurutnya, keberadaan stasiun akan memudahkan akses transportasi sekaligus menghidupkan kembali perekonomian warga seperti berjualan kopi.

"Daripada kita ke sana, ke Nambo, jauh. Mendingan kalau ke sini kan deket, enak. Strategis ya kalau sini mah," ungkapnya

Ia juga menyebut warga telah menerima informasi mengenai rencana penataan kawasan, sejumlah titik di sekitar rel bahkan telah dipatok karena masih merupakan aset Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA).

"Kita nih yang belah sini bakal digusur, kena gitu. Ini kan masih area DJKA, punya tanah DJKA," imbuhnya.

Baca Juga: Soroti Kasus Dugaan Keracunan MBG di Dramaga Bogor, Wasto Minta Perketat Pengawasan

Hal senada disampaikan Nurhayati (65). Menurutnya, kondisi Stasiun Gunung Putri semakin memprihatinkan karena tidak pernah mendapat perawatan.

"Sekarang kondisinya amburadul, terakhir beroperasi 2006. Gak ada (yang membersihkan), terbengkalai, liat aja rumputnya sampe bala jadi kotor, jadi kumuh," ungkapnya.

Baginya, Stasiun Gunung Putri bukan hanya bangunan yang telah mati suri selama hampir 20 tahun.

Di balik julukan Stasiun Hantu yang melekat, tersimpan harapan agar stasiun tersebut kembali beroperasi dan menjadi penggerak aktivitas ekonomi maupun mobilitas masyarakat di wilayah Gunung Putri.

"Harapannya pengen dibangun, biar rame, biar gak kumuh, jadi takut kalau malam tuh jarang keluar mau ngapain sepi," pungkasnya. (cr1)

Editor : Yosep Awaludin
Stasiun Gunung Putri bogor vandalisme