Karyanya Dibuat dari Limbah Daun Nanas, Desainer Asal Bogor Ini Raih Penghargaan di Australia

Fikri Rahmat Utama • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:04 WIB
Desainer asal Dramaga, Bogor, Laras Andriyani (kiri) dengan karya “Silent Luminous” yang meraih 2026 Avant-Garde Award pada Australian Wearable Art Festival 2026. (Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor)
Desainer asal Dramaga, Bogor, Laras Andriyani (kiri) dengan karya “Silent Luminous” yang meraih 2026 Avant-Garde Award pada Australian Wearable Art Festival 2026. (Foto: Dok Pribadi for Radar Bogor)

RADAR BOGOR – Desainer asal Dramaga, Kabupaten Bogor, Laras Andriyani, berhasil meraih penghargaan pada Australian Wearable Art Festival 2026.

Laras meraih penghargaan kategori Avant-Garde Award melalui karya berjudul Silent Luminous.

Penghargaan tersebut menjadi pencapaian penting bagi Laras yang kini menetap di Gold Coast, Queensland, Australia.

Walau telah tinggal di Australia selama sekitar enam tahun namun dia baru pertama kali mengikuti Australian Wearable Art Festival.

Perempuan kelahiran 1997 mengatakan, ketertarikannya terhadap festival tersebut bermula ketika dirinya mengetahui dan menonton langsung penyelenggaraan festival.

Setelah itu, ia mendaftarkan karyanya secara mandiri melalui situs resmi penyelenggara dan melewati proses seleksi sebelum akhirnya terpilih untuk tampil.

Baca Juga: Banjir Bandang Aceh Tamiang Sisakan Trauma, Tim Bogor Peduli Bencana Kembali Salurkan Bantuan

“Awalnya saya mengetahui Australian Wearable Art Festival dan menonton festivalnya langsung. Dari situ saya tertarik untuk ikut berpartisipasi," katanya saat dihubungi Radar Bogor, Selasa 11 Agustus 2026.

Australian Wearable Art Festival merupakan ajang yang memberikan ruang bagi seniman dan desainer untuk mengembangkan karya busana dengan mengeksplorasi berbagai material.

Menurut Laras, festival tersebut terbuka bagi peserta dari berbagai negara dan tahun ini diikuti sekitar 32 peserta dari berbagai belahan dunia.

Laras memilih kategori Avant-Garde dan berhasil keluar sebagai pemenang. Penilaian dilakukan oleh tiga juri dengan mempertimbangkan eksplorasi bahan, keunikan, cerita yang dibawa karya.

Salah satu juri, kata Laras, adalah Katie Somerville telah menghabiskan lebih dari tiga dekade di Galeri Nasional Victoria melakukan sesuatu yang jarang dilakukan orang lain, yaitu meyakinkan dunia bahwa fesyen layak dianggap seserius bentuk seni lainnya.

Selama waktu itu, Katie telah mengkurasi beberapa pameran seni fesyen paling signifikan yang pernah ada.

Termasuk The House of Dior: Seventy Years of Haute Couture, Alexander McQueen: Mind, Mythos, Muse, dan pameran terbaru Westwood | Kawakubo.

Karya yang mengantarkan Laras meraih penghargaan itu diberi nama “Silent Luminous”.

Karya tersebut terinspirasi dari semangat Saint Joan of Arc yang bagi Laras merupakan simbol keberanian, keyakinan, keteguhan, dan perjuangan perempuan.

“Silent Luminous” membawa pesan tentang pemberdayaan perempuan. Laras ingin menyampaikan gagasan bahwa setiap perempuan berhak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dan masa depannya sendiri.

Baca Juga: Pasar Cikereteg Bogor Ternyata Punya Jejak Sejarah Belanda, Ada Terowongan Kuno

Secara visual, busana tersebut tampil dominan dalam warna silver dengan siluet yang tegas dan futuristik.

Bagian atasnya membentuk busana berlengan panjang yang mengikuti bentuk tubuh.

Sementara permukaannya dipenuhi susunan material berlapis dengan detail lapel yang terinspirasi dari kerah Tailor dan lengan 'sculptural ' yang memberi kesan seperti pelindung atau armor.

Pada bagian bawah terdapat potongan busana yang dibuat asimetris dengan detail berlapis.

Sementara  elemen material berwarna natural dari rajutan serat nanas menjadi tali yang diproses tanpa menggunakan bahan kimia membentuk bagian memanjang hingga ke belakang.

Penampilan tersebut diperkuat dengan sepatu bot tinggi berwarna silver mengilap, penutup kepala, serta aksesori berbentuk lingkaran besar yang dikenakan pada bagian lengan.

Detail pada busana juga tidak dibuat sekadar untuk estetika. Terdapat tujuh lapel atau kerah yang memiliki makna simbolis dan merujuk pada King Charles VII, berkaitan dengan kisah Joan of Arc yang membantu perjuangan dan kemenangan Raja Charles VII.

Material menjadi salah satu kekuatan utama “Silent Luminous”. Laras menggunakan serat daun nanas yang berasal dari limbah pertanian pascapanen dan kemudian diekstraksi menjadi benang untuk diolah menjadi bagian dari karya.

Serat tersebut dipadukan dengan kain jacquard daur ulang dari sisa produksi atau potongan kain, manik-manik, kancing, elemen kristal, serta berbagai material sisa produksi lainnya.

Dalam materi konsep karyanya, Laras juga menyebut penggunaan bekas bobbin case atau komponen sisa dari aktivitas produksi yang sebelumnya tidak terpakai.

Baca Juga: Desa Wisata Gunung Malang Tembus 10 Besar SWJ-ITDMA 2026, Siap Bawa Nama Bogor ke Panggung Nasional

Material-material tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai ornamen. Laras mengolah kembali material yang sebelumnya dianggap tidak terpakai menjadi elemen dekoratif sekaligus struktural pada busana.

Proses mengolah daun nanas menjadi material wearable art juga tidak sederhana. Laras awalnya bereksperimen sendiri menggunakan peralatan sederhana seperti pisau dan talenan kayu untuk mendapatkan serat dari daun nanas.

Agar proses ekstraksi lebih efisien sekaligus melibatkan pengrajin di Indonesia, Laras kemudian berkolaborasi dengan pengrajin lokal untuk membantu mengolah serat menggunakan mesin.

Setelah berubah menjadi benang, material tersebut kembali diolah Laras menggunakan teknik crochet.

“Setelah jadi benang, saya mengolahnya sendiri dengan teknik crochet untuk menjadi bagian dari karya," jelasnya.

Eksperimen tersebut membutuhkan waktu panjang. Laras menghabiskan sekitar 1.700 jam atau tujuh bulan untuk menyelesaikan “Silent Luminous”, termasuk melalui sejumlah percobaan dan kegagalan sebelum mendapatkan bentuk akhir yang sesuai dengan konsep avant-garde.

Menurut Laras, tantangan terbesarnya adalah membuat material limbah tersebut tidak terlihat seperti limbah ketika berada di atas panggung.

Karya harus mampu membuat penonton bertanya-tanya mengenai material yang digunakan sekaligus menghadirkan bentuk yang unik dan tidak lazim digunakan dalam busana sehari-hari.

“Saya beberapa kali menjahit bajunya gagal lagi, gagal lagi. beberapa kali melakukan revisi karena siluetnya belum cukup panjang dan karakter avant-garde-nya belum terasa kuat," ungkapnya.

Sebelum menggunakan serat nanas, Laras juga sempat bereksperimen dengan serat pisang.

Baca Juga: Remaja Bogor Tembus Panggung Nasional, Nadiya Anatasya Putri Raih Peringkat 3 Miss Bintang Indonesia

Namun, material tersebut dinilai belum memiliki karakter dan kekuatan yang sesuai untuk diolah menjadi tali atau benang yang dibutuhkan dalam karya.

Bagi Laras, proses mengubah material yang terbuang menjadi karya memiliki pesan yang lebih luas.

Transformasi tersebut menggambarkan kemampuan untuk beradaptasi, mempertahankan sesuatu yang dianggap tidak bernilai, kemudian menciptakan nilai baru dari material yang sebelumnya terabaikan.

Pesan tersebut kemudian dipertemukan dengan gagasan pemberdayaan perempuan dalam “Silent Luminous”.

Laras melihat keberanian perempuan dalam menghadapi tantangan memiliki kesamaan dengan bagaimana material sisa dapat diolah dan diberi kehidupan baru.

Dalam proses produksinya, Laras tidak bekerja seorang diri. Kolega dari Bogor, Raksa, turut terlibat dari jarak jauh untuk membantu menyiapkan mood board pencahayaan, video latar, hingga musik yang mendukung penampilan karya di atas panggung.

Keterlibatan orang-orang dari Indonesia menjadi bagian penting bagi Laras dalam membawa karyanya ke Australia.

Ia ingin menjadikan kolaborasi dengan pengrajin Indonesia sebagai bagian dari perjalanan berkaryanya di tingkat internasional.

Laras sendiri lahir dan besar di Dramaga, Bogor, serta pernah bekerja di IPB. Ketertarikannya terhadap fashion dan eksplorasi material dari lingkungan sekitar terus dikembangkan hingga akhirnya ia menetap di Australia.

“Sangat bersyukur dan cukup emosional. Bagi saya, penghargaan ini bukan hanya pengakuan terhadap karya, tetapi juga perjalanan panjang saya sebagai orang Indonesia yang sekarang berkarya jauh dari rumah dan ingin tetap membawa suasana rumah itu ke dalam suatu karya," tuturnya.

Baca Juga: Catat Calendar of Event di Kabupaten Bogor Bulan Ini, dari Gita Bahana hingga Bogor Color Run

Bagi Laras, penghargaan tersebut bukan sekadar kemenangan dalam sebuah kompetisi.

Ia ingin menunjukkan bahwa karya yang lahir dari Indonesia, bahkan dari Bogor, dapat dibawa ke panggung internasional dan menjadi bagian dari percakapan dunia mengenai seni, fashion, keberlanjutan, serta identitas.

Ke depan, Laras berencana mengikuti lebih banyak ajang wearable art di Australia dan internasional.

Salah satu target yang ingin dikejarnya adalah World of WearableArt (WOW) di Selandia Baru, sembari terus mengembangkan kolaborasi dengan pengrajin dan seniman Indonesia.

“Saya ingin meng-highlight teman-teman pengrajin dalam karya tersebut melalui kolaborasi. Tentunya saya tetap ingin membawa Bogor dan Indonesia dalam karya-karya saya," bebernya. (uma)

Editor : Yosep Awaludin
bogor penghargaan desainer