Di Balik Tangga Viral di Puncak Bogor Menuju Vila Riung Gunung, Ternyata Coffee House Era Soekarno

Septi Nulawam Harahap • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 23:01 WIB
Tangga menuju Vila Riung Gunung, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Sering disebut Vila Soekarno dan menjadi Coffee House di tahun 1960-an. (Dok. Riung Gunung)
Tangga menuju Vila Riung Gunung, Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Sering disebut Vila Soekarno dan menjadi Coffee House di tahun 1960-an. (Dok. Riung Gunung)

RADAR BOGOR - Bagi masyarakat yang kerap melintas di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor nama Riung Gunung tentu bukan sesuatu yang asing. Namun, keberadaan sebuah tangga yang tampak menanjak dari sisi Jalan Raya Puncak masih menyimpan rasa penasaran bagi banyak orang.

Tangga tersebut terlihat melintasi badan jalan dan mengarah ke kawasan yang selama ini disebut-sebut memiliki kaitan dengan Vila Soekarno. Keberadaannya kembali menjadi perhatian setelah sebuah foto di media sosial X mengundang rasa ingin tahu warganet.

Pengguna akun X @Ccookk_ mengunggah foto tangga tersebut dan mempertanyakan bangunan atau lokasi yang berada di bagian atasnya. Unggahan itu kemudian mendapat beragam respons. Sejumlah warganet menduga tangga tersebut berkaitan dengan vila lama, bangunan bersejarah, atau tempat yang sudah lama tidak difungsikan.

Setelah ditelusuri, tangga tersebut diketahui merupakan akses menuju Vila Riung Gunung. Bangunan itu berada di kawasan yang cukup tersembunyi dan dikelilingi pepohonan sehingga tidak mudah terlihat dari jalan raya.

Vila Riung Gunung dibangun sekitar periode 1955 hingga 1957. Tempat tersebut dikenal memiliki hubungan dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang disebut pernah menggunakan vila itu sebagai lokasi singgah dan beristirahat ketika berada di kawasan Puncak.

Jejak keterkaitan Soekarno dengan bangunan tersebut juga dapat ditemukan melalui sebuah prasasti yang masih terdapat di area vila. Prasasti itu mencatat bahwa pembangunan vila dilakukan di bawah pimpinan Soekarno, sementara perancang bangunannya adalah Soedarsono.

Selain catatan tertulis, kisah mengenai kunjungan Soekarno ke Riung Gunung juga telah lama menjadi bagian dari cerita yang berkembang di kalangan masyarakat sekitar.

Memasuki era 1960-an, keberadaan Riung Gunung semakin tercatat dalam berbagai dokumentasi. Pada periode tersebut, vila ini dikenal dengan nama Riung Gunung Coffee House dan dikelola oleh Hotel Indonesia sebagai sebuah tempat bersantai dan menikmati kopi.

Kuki Nasution, warga Bogor yang pernah mendatangi tempat tersebut pada dekade 1960-an, masih mengingat suasana Riung Gunung pada masa itu. Menurut pengalamannya, kawasan tersebut memiliki atmosfer yang nyaman karena pada waktu itu pilihan kafe maupun restoran berkualitas belum sebanyak sekarang.

Ia juga mengingat banyaknya tanaman di area restoran serta penataan interior yang menurutnya sudah memberikan kesan nyaman, hangat dan akrab seperti restoran modern.

Riung Gunung Coffee House pada masa itu tidak sekadar menjadi tempat persinggahan bagi wisatawan yang melintasi jalur Puncak. Sejumlah dokumen sejarah menunjukkan bahwa lokasi tersebut juga pernah masuk dalam agenda kunjungan dan kegiatan resmi.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat bahwa pada Januari 1964, Pangeran Norodom Sihanouk dari Kamboja bersama istrinya berkunjung ke Riung Gunung bersama Soekarno.

Pada tahun yang sama, dokumentasi lainnya menunjukkan bahwa tempat tersebut juga digunakan sebagai lokasi rehat kopi dalam rangkaian persiapan pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika II.

Riung Gunung kembali tercatat dalam agenda kunjungan kenegaraan beberapa tahun kemudian. Pada Oktober 1967, Perdana Menteri Jepang Eisaku Sato bersama istrinya menyempatkan diri mengunjungi lokasi tersebut dalam rangkaian perjalanan mereka selama berada di Indonesia.

Memasuki awal 1970-an, fungsi Riung Gunung sebagai coffee house perlahan berakhir. Setelah itu, lokasi tersebut lebih banyak dikenal sebagai vila pribadi dengan akses yang semakin terbatas bagi masyarakat umum.

Seiring berjalannya waktu, kisah mengenai Riung Gunung tetap bertahan melalui cerita warga, koleksi foto lama serta berbagai dokumen sejarah yang tersimpan dari sejumlah periode.

Bagi orang-orang yang melintas di Jalan Raya Puncak, keberadaan bangunan tersebut kemudian lebih sering dikaitkan dengan kesan misterius karena letaknya tersembunyi di balik pepohonan dan hanya terlihat melalui akses tangga dari tepi jalan.

Pengalaman serupa juga pernah dirasakan Wiwin Trinarti, dosen Program Studi Arab FIB Universitas Indonesia (UI) yang berkunjung ke Riung Gunung pada dekade 1980-an. 

Ia mengingat pernah mendatangi lokasi tersebut sebanyak dua kali, salah satunya pada 1983 ketika mengikuti kegiatan inisiasi mahasiswa baru Program Studi Arab UI.

Menurut Wiwin, peserta kegiatan pada saat itu telah mendapat peringatan untuk tidak menggunakan tangga Riung Gunung karena kondisinya sudah kurang terawat. Hal tersebut menunjukkan bahwa akses menuju vila telah memiliki keterbatasan sejak beberapa dekade lalu.

“Saya pernah dua kali ke sana, salah satunya pada tahun 1983 untuk kegiatan inisiasi mahasiswa baru Program Studi Arab UI, sejak awal, kami sudah diingatkan untuk tidak menggunakan tangga Riung Gunung karena kondisinya kurang terawat," ujarnya.

Wiwin berharap akses berupa tangga dan jembatan menuju kawasan tersebut suatu saat dapat kembali difungsikan. Namun, menurutnya, pemanfaatan kembali akses tersebut perlu melibatkan pihak yang memahami konstruksi bangunan agar aspek keselamatan tetap terjamin.

Ia juga menekankan bahwa upaya pemanfaatan kembali kawasan tersebut semestinya tetap mempertahankan nilai sejarah yang melekat pada Vila Riung Gunung.

Dengan demikian, akses yang kembali terbuka nantinya tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga tetap menjaga warisan sejarah yang dimiliki kawasan Puncak.(cok)

Editor : Eka Rahmawati
Riung Gunung tangga bogor puncak viral